DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Senin, 03 Juni 2013

MENYELAMI MAKNA DI BALIK KATA

MENYELAMI MAKNA DI BALIK KATA


       
Ketika dalam hidup anda sedang mendapat cobaan, ujian, musibah atau dipenuhi masalah pastilah anda akan berdoa kepada Allah SWT agar diberi ketegaran, kesabaran, dan semoga permasalahan apa yang anda hadapi segera terselesaikan. Atau sebaliknya, ketika anda menginginkan sesuatu dalam hidup anda pastilah anda juga berdoa untuk minta pertolongan Allah SWT agar dikabulkan hajat yang anda inginkan, diberikan kelancaran dan segera terkabul.

Siang dan malam anda berdoa, bahkan sampai meneteskan air mata karena kesedihan sedang mendera anda, atau harapan yang tak pernah pada karena keinginan anda cepat terealisasi. Namun apa yang terjadi setelah sekian lama segala bentuk doa anda panjatkan? Ternyata doa yang anda panjatkan tidak mendapat respon atau jawaban dari Allah SWT. Hingga suatu titik nadir dalam kehidupan anda timbullah pertanyaan, “Mengapa Allah SWT tidak mengabulkan doa saya? Sungguh sia-sia doa yang kupanjatkan siang malam dan ternyata Allah SWT tidak segera menolongku!”

Sebentar dulu, jangan berprasangka buruk (su’udzlon) kepada Allah SWT, ini tidak baik. Coba tengoklah dan koreksi dulu diri anda dalam berdoa sebelum men-justifikasi. Benarkah anda telah benar-benar berdoa atau sekedar membaca doa? Ini perlu diluruskan, mengapa? Karena selama ini kita lebih sering membaca doa daripada berdoa. Sungguh beda makna diantara keduanya. Membaca doa bermakna bahwa anda sekedar membaca doa sambil lalu saja. Bahkan tak jarang kita membaca doa yang panjang-panjang berbahasa arab tanpa anda tahu arti dan maknanya. Ini kan konyol, masak kita berdoa tidak tahu apa yang kita ucapkan dan mintakan ke Allah SWT. Padahal Allah SWT sendiri tidak mewajibkan berdoa dalam bahasa arab. Allah SWT Maha Tahu segala bahasa manusia bahkan bahasa binatang, tumbuhan maupun makhluk-makhluk lainnya.

Kemudian anda berkilah, “Saya berdoa pakai bahasa Indonesia kok dan saya tahu arti dan maknanya atas apa yang saya baca! Tetapi mengapa doa saya tidak segera dikabulkan? Bukankah Allah SWT Maha Mendengar?”. Benar sekali Allah SWT Maha Mendengar, tetapi doa anda tidak didengarkan. Mengapa? Karena ya itu tadi, anda membaca doa, bukan berdoa.

Lalu bagaimana doa yang benar? Tentu saja merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Anda berdoa ya harus “berjumpa” dengan yang anda mintai pertolongan terlebih dahulu. Bagaimana mungkin anda mengharap sesuatu tetapi anda tidak berjumpa dengan yang anda mintai pertolongan. Ibarat anda menelepon seseorang, tetapi teleponnya/handphonenya tidak diangkat/on, kemudian anda berbicara terus, sampai mulut anda berbusa-busa ya mana mungkin orang yang akan anda ajak bicara tahu apa yang anda ingin omongkan? Tidak mungkin bukan?

Peristiwa tersebut sama dengan ketika anda shalat. Selama ini memang secara syariat, shalat anda sudah sah karena telah menunaikan rukun, wajib, bahkan sunah wudhu maupun shalat. Pertanyaannya adalah anda mengerjakan shalat atau mendirikan shalat? Ini juga penting dibahas, mengingat makna keduanya berbeda. Al-Qur’an sendiri memakai kata mendirikan, bukan mengerjakan. Demikian pula saat adzan dikumandangkan, mengajak kita mendirikan shalat bukan mengerjakan shalat.

Mengerjakan shalat identik dengan (sekedar) menggugurkan kewajiban perintah Allah SWT. Jadi hakikat shalat tidak anda ketahui, anda mengerjakan dengan tolok ukur yang penting  membaca apa yang diperintahkan disetiap gerakan shalat, mengerjakan rakaat shalat sesuai dengan jumlahnya berdasarkan waktunya, dsb. Perkara diterima atau tidak, kita tidak tahu. Dan yang penting kita tidak berdosa karena telah mengerjakan kewajiban, sehingga nanti tidak masuk neraka. Bahkan tak jarang pula kita menyerahkan diterima atau tidaknya shalat kita tanpa kita ketahui hasilnya apa. Ujung-ujungnya kita berdalih atas apa yang kita kerjakan semua diserahkan kepada Allah SWT. Sungguh aneh kita ini. Mengerjakan sesuatu kok tidak tahu hasilnya.

Berbeda dengan mendirikan shalat. Kondisi ini pastilah sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Ash-Sholatu Mi’rajul Mu’miniin”, dan shalatnya pasti khusyu’. Sholat hakikatnya adalah perjumpaan seorang hamba dengan Allah SWT tanpa perantara siapa dan apapun, sehingga kita dapat berdialog, berkomunikasi dan berkeluh kesah langsung kepada Allah SWT. Itu mengapa ketika Rasulullah SAW menghadapi suatu persoalan, beliau mendirikan shalat sunnah doa rakaat untuk minta petunjuk dan solusi atas permasalahan yang sedang beliau hadapi. Orang yang mendirikan shalat akan ditandai dan diberi bukti bahwa shalatnya sudah dibenarkan Allah SWT, sehingga apa yang kita lakukan ada hasilnya.

Hal yang paling mendasar yang membedakan antara mengerjakan dan mendirikan shalat adalah selama proses sholat itu sendiri berlangsung. Di sini saya tidak bermaksud men-justifikasi anda, namun semata-mata ingin menggugah kesadaran diri anda sehingga anda sendiri yang mampu menilainya.

Benarkah ketika anda shalat benar-benar hanif (lurus) menghadap Allah SWT atau selama proses shalat justru anda teringat pekerjaan anda yang belum selesai, hutang anda yang belum terbayar, teringat belum menjemput anak dari sekolah, dan lain sebagainya? Kalau kondisi terakhir ini yang terjadi, maka sebenarnya anda sedang tidak menyembah Allah SWT. Mengapa? Karena anda justru menyembah “berhala-berhala” yang bernama masalah dunia. Kalau ini yang terjadi, bukankah kita termasuk syirik karena selama shalat kita tidak menyembah Allah SWT? Justru malah disibukkan oleh selain Allah SWT. Silahkan direnungkan.

Bahkan Allah SWT sendiri mengingatkan, janganlah kita mendapat celaka karena lalai dalam shalat kita. “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari  shalatnya (QS. Al-Maa’uun 107:4-5).

           Adapun yang dimaksud lalai dari shalat pada ayat di atas bukanlah orang yang tidak shalat, karena apa? Sudah jelas hukumnya kalau tidak shalat pastilah kita berdosa. Jadi ayat di atas maknanya lebih kepada peringatan kepada kita yang shalat tapi lalai atau tidak hanif (lurus) menghadap Allah SWT tapi justru yang teringat (menyembah?) masalah-masalah yang sedang kita hadapi.

 Tidak hanya dalam hal berdoa dan mendirikan shalat saja, kondisi yang sama juga sering kita alami dalam pemaknaan kata mengaji dan membaca Al-Qur’an. Selama ini kita memaknai kedua kata ini sama. Membaca Al-Qur’an ya sama saja mengaji. Padahal keduanya berbeda. Membaca Al-Qur’an identik kita membaca ayat-ayat Allah SWT yang telah dibukukan dalam Al-Qur’an sesuai dengan ilmu tajwid, nahwu sharaf, balaghah, dll. Jadi disini titik beratnya dalam hal membaca tata bahasa Arab (Grammar). Oleh sebab itu, untuk membaca Al-Qur’an yang baik dan benar maka kita dapat belajar kepada manusia atau orang yang ahli.

Membaca Al-Qur’an memang baik dan dianjurkan, namun maksud Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak-lah sebatas itu. Itu mengapa perlu mengaji Al-Qur’an. Secara tata bahasa kata “mengaji” berasal dari kata dasar “kaji” yang artinya mendalami. Jadi ketika kata dasar “kaji” ditambah dengan awalan “meng” maka artinya seseorang secara aktif harus mempelajari lebih mendalam atas informasi yang diperolehnya.

Mengaji Al-Qur’an tidak hanya sebatas membaca dan menghafalkan ayat tersurat (tekstual) saja tetapi juga harus paham ayat tersirat (kontekstual/tafsir/takwil) dibalik ayat-ayat Al-Qur’an. Lalu bagaimana mengaji yang sesuai seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW? Mengapa kita begitu sombongnya telah mengklaim merasa paham isi Al-Qur’an ketika telah hafal ayat tersurat (tekstual) dalam waktu 3-5 tahun saja? Sedangkan Rasulullah SAW sendiri memerlukan waktu hampir 23 tahun (tidak hanya ayat tersurat tetapi juga ayat tersirat/takwilnya). Apakah paham isi kandungan Al-Qur’an identik dengan menghafal saja? Mengapa dalam realita seringkali kita temui tafsir yang berbeda untuk menafsirkan ayat dalam Al-Qur’an? Mengapa ini sering terjadi sehingga mengakibatkan timbulnya perpecahan umat dan berbagai aliran dalam islam. Padahal berpecah belah adalah larangan Allah SWT. Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kami dari ahli kitab terpecah menjadi 72 golongan, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Adapun yang tujuh puluh dua akan masuk neraka dan satu golongan akan masuk surga, yaitu “Al-Jama’ah”  (HR. Ahmad).

Apa yang sebenarnya tengah terjadi dalam beragama kita?  Bagaimana agar kita termasuk “Al-Jama’ah” (Ahlusunnah wal jama’ah) sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah Muhammad SAW pada hadits di atas?

Untuk mendapatkan jawabannya silahkan download E-Book (Electronic Book) Kedua saya yang berjudul : MENGAJI AL-QUR'AN KEPADA ALLAH yang merupakan sambungan dari E-Book Pertama saya yang berjudul MENELADANI SPIRITUAL RASULULLAH SAW DALAM BERMA'RIFATULLAH


Marilah kita tetap ISTIQOMAH untuk meraih ridha Allah SWT!!! 


Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Iwan Fahri Cahyadi
Pondok Ar-Rahman Ar-Rahim
Semarang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar