DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Rabu, 05 Agustus 2009

Tribute To Mbah Surip


TRIBUTE TO MBAH SURIP

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Para sahabat dan sidang pembaca yang dicintai, dirahmati dan dimuliakan Allah SWT.

Sebelum saya melanjutkan artikel tentang Sikap Manusia Terhadap Islam, ijinkan saya sebagai umat muslim memberikan apresiasi barang sekata dua kata kepada saudara saya Mbah Surip, karena Beliau sesama umat muslim. Bukankah kita sesama umat muslim adalah saudara? Saya berharap semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari perjalanan Beliau, baik selama masa hidupnya maupun menjelang saat-saat terakhir Beliau dipanggil Allah SWT.

Innalillahi wa Innailahi Roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah saudara kita Urip Ariyanto yang yang dikenal dengan Mbah Surip pada tanggal 4-Agustus-2009, jam 10.30 WIB, pada usia 60 tahun.

Mbah Surip meninggalkan kita semua di saat Beliau sedang mencapai puncak kariernya sebagai seniman, seorang penyanyi. Meruntut kilas balik perjalanan hidup Beliau sungguh mengagumkan. Meskipun 3 (tiga) gelar kesarjanaan yang dimiliki dan berbekal pengalaman kerja di luar negeri, namun Beliau tidak terhanyut dalam gemerlap dan kemewahan dunia. Dia tidak peduli kata orang, namun Beliau mengikuti apa kata hati nuraninya, demi sebuah kemerdekaan hidup yang harga tidak mampu dibeli oleh siapapun.

Beliau beralih profesi menjadi seorang seniman, yang sangat jauh dari latar belakang pendidikan dan pengalaman kerjanya. Beliau tidak mau terkooptasi atas nama kekuasaan (struktural). Dia ingin menjadi seorang yang egaliter, yang diterima di semua kalangan. Menebarkan senyumnya yang khas, rendah hati, ingin menyenangkan hati semua kalangan, berbagi suka dan duka, mengasihi sesama makhluk Tuhan tanpa memandang status sosial dan hidup sederhana. Mbah Surip pun ringan tangan untuk membantu dan berbagi rejeki dengan para koleganya.

Pertama, Bahwa yang namanya kematian adalah rahasia Allah SWT dan manusia tidak mengetahui kapan, dimana, dengan cara apa dan sedang apa dia akan mati. Dan manusia tidak mampu menolaknya.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…,” (QS. Al-Anbiya 21: 35)

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh….,” (QS. An-Nisa’ 4 : 78)

“..Tidaklah seorang pun tahu apa yang akan diperbuatnya besok, dan tak seorang pun tahu di bumi mana ia akan meninggal…”. (QS. Luqman 31:34)

Kematian adalah ketentuan yang pasti terjadi pada makhluk yang berjiwa, dan tidak tahu kapan itu terjadi. Inilah misteri dari Allah SWT dengan maksud supaya manusia selalu ingat dan waspada, sehingga hari-harinya selalu diisi dengan amal shalih.

Kedua, Sebagai makhluk Allah SWT kita wajib berikhtiar untuk mengusahakan sesuatu (misal: rejeki), meski demikian hasilnya wajib kita serahkan kepada Allah SWT (bertawakal), sehingga manusia tidak akan kecewa bila apa yang diinginkan tidak terpenuhi.

”Sesungguhnya Allah tidak merubah sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS Ar-Rad 13 : 11).

”Dan tawakallah kepada Allah! Cukuplah Allah menjadi wakilmu (tempat menyerahkan segala urusanmu)..” (QS Al-Ahzab 33 : 3).

Ketiga, bagi seorang muslim selaku khalifah tidak hanya menjalankan peribadatan yang sifatnya vertikal (Hablumminallah), namun juga ibadat horisontal (Hablumminannas), menebarkan kasih sayang, dan bermanfaat bagi makhluk Allah SWT dalam arti seluas-luasnya, bahkan tidak peduli apakah itu kawan maupun musuhnya. Sebagai orang yang beriman tidak selayaknya membuat kerusakan, mendzalimi, menindas hak makhluk, mencuri rejeki orang, dll. Kalau ini terjadi maka dapat dikatakan bahwa manusia jenis ini belum beriman.

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang,..” (QS. Maryam 19:96)

”Engkau tidak memperoleh kaum yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, bahwa mereka mengasihi orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka bapak, anak, saudara, atau kerabatnya...(QS. Al-Mujadalah 58 : 22).

Keempat, sebagai makhluk yang mulia hendaknya kita mampu berbagi baik rasa, materi, ilmu, dll dalam kondisi lapang maupun sempit sesuai kemampuan kita. Tidak mementingkan diri sendiri. Apalagi kalau melihat banyak saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan. Berhati-hatilah dengan harta, karena harta akan melenakan dan membuat kita terhanyut dalam arus kehidupan duniawi.

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian,..” (QS. Adz-Dzariyat 51 : 19).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah…,” (QS. Al-Munafiqun 63 : 9).

Dan masih banyak pelajaran positif lain yang dapat kita ambil dari perjalanan hidup Mbah Surip. Silahkan para sahabat dan sidang pembaca mengambil hikmah/pelajaran yang lain.

Saya selaku saudara seiman hanya mampu membantu dengan do’a kepada Mbah Surip, semoga arwah Beliau diterima di sisi Allah SWT dan Beliau meninggal dalam keadaan khusnul chotimah (akhir yang baik), diampuni dosa-dosanya, serta mendapat rahmat dan ridho dari Allah SWT. Amin.

WE LOVE YOU FULL!

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-Penulis
Shalat Center Halaqah Sampangan Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar