DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Kamis, 20 Mei 2010

Dakwah Salah Kaprah (23)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sebenarnya kondisi tidak perlu dirisaukan kalau perbedaan ini hanya sebatas forum pengajian, karena keyakinan dengan apa yang dipercayai adalah hak masing-masing individu. Tetapi kenyataannya, semua berlanjut dan merembet pada saat mereka harus bekerja. Maka dapat dibayangkan keutuhan tim menjadi tidak solid dan pelayanan ke nasabah tidak maksimal. Karena antara satu person dengan person lain tidak saling membantu, tetapi justru saling menjatuhkan satu dengan lainnya, meskipun pekerjaan tersebut sebenarnya atas nama perusahaan dan profesionalisme. Kondisi inilah yang tidak membuat nyaman sahabat saya. Bahkan dia berencana mengundurkan diri, karena melihat budaya kerja di kantornya sudah tidak sehat lagi.

Contoh dalam skala kecil diatas~kalau kita mau jujur~paling tidak juga mewakili kondisi carut marutnya keterpecah-belahan umat islam di Indonesia. Namun permainan dalam skala nasional (kalangan elite) lebih cantik dan rapi, sehingga umat kadang tidak merasakan. Seolah-olah tidak adanya keterpecah-belahan antar umat islam.

Tapi kalau kita mau lihat dalam tataran empirisnya yang muncul di permukaaan dan tidak dapat dipungkiri lagi kenyataannya adalah pada saat terjadi perbedaan penentuan masuknya bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Indikasi perbedaan terlihat jelas, meskipun dengan mengatas-namakan agama.

Bukankah selama ini umat islam telah menyetujui, mengakui dan menyatakan bahwa umara (pemimpin dalam pemerintahan) sebagai mitra ulama. Sepatutnya mereka mau tunduk dan patuh dengan keputusan pemerintah dalam menentukan hari-hari besar agama. Keputusan pemerintah pun tidak asal-asalan, tetapi berdasarkan rekomendasi para ulama (kepemimpinan dalam ilmu agama) yang telah melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat, kajian yang mendalam baik berdasarkan ilmu agama maupun ilmu pengetahuan (teknologi). Tetapi kenyataannya, lain di bibir lain di hati. Para kelompok agama jalan sendiri-sendiri dan komitmen kepada keputusan umara dan ulama di buang jauh-jauh.

Kejadian sentimen kelompok seperti ini juga telah merambah pada wilayah syiar dan para juru dakwahnya. Seorang ustadz yang kebetulan dari organisasi agama X, tidak mau menjadi pembicara bagi jamaah yang latar belakang organisasinya Y. Atau sebaliknya, jamaah yang organisasinya Y, tidaklah mungkin mengundang ustadz dari organisasi X. Ironisnya lagi umat yang tidak tahu menahu urusan “politik agama” ini, ikut terbawa arus perpecahan.

Kondisi umat islam inilah yang telah diprediksi oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya, bahwa umat islam nantinya akan terpecah menjadi 73 golongan, namun hanya satu yang benar. Keterpecah-belahan ini disebabkan oleh ego masing-masing. Oleh karena itu sebelum Beliau wafat mewanti-wanti umat islam agar selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnahnya.

Meski telah berpesan demikian, Rasulullah SAW menyadari bahwa umat islam banyak yang bandel dan tidak mau mentaati pesannya. Sehingga keprihatinan dan rasa sayang kepada umatnya ini Beliau khawatirkan dan cemaskan ketika akan menghadap Sang Khaliq dengan menyebut,” Ya Allah...umati...umati!”. Sungguh peristiwa yang seharusnya diingat dan menjadi pembelajaran bagi umat islam. Namun mengapa kita tidak mau membaca tanda-tanda perpecahan umat dari Rasulullah SAW tersebut?

QS. At-Taubah 9 : 128,
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat serasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar