DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Rabu, 26 Mei 2010

Belajar Dari Kasus Arumi


BELAJAR DARI KASUS ARUMI

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagi ibu-ibu dan remaja putri yang suka menonton televisi, utamanya tentang tayangan gosip selebritis, pada medio Mei 2010, dikejutkan oleh berita perginya artis cantik Arumi Bachsin (16 tahun) dari rumah tanpa pamit kepada orang tuanya. Kabar yang beredar menengarai bahwa artis ini pergi karena tidak diperbolehkan pacaran dengan seorang aktor dari negeri jiran dan aktor inilah yang mempengaruhi agar si artis meninggalkan rumah. Alasan orang tuanya melarang pacaran karena Arumi masih belum cukup dewasa (baik secara umur maupun cara berfikir), sementara dari sang artis merasa bahwa hak pribadinya dikekang, tidak sebagaimana gadis-gadis lain di metropolitan yang rata-rata bebas mengatur hidupnya tanpa campur tangan lebih jauh dari orang tuanya.

Hampir sepuluh hari lebih sang artis berlindung pada KOMNAS Perlindungan Anak. Meskipun telah dilakukan mediasi oleh pihak-pihak terkait namun kesepakatan dari dua belah pihak sulit dicapai. Yang terjadi kemudian adalah datangnya “siksa” yang menimpa orang tuanya (sang ibu), yaitu sakit. Sementara siksa yang diterima artis adalah rasa dendam dan amarah. Dan baru tanggal 21-Mei-2010 berhasil dibujuk pulang oleh ayahnya setelah proses negosiasi dicapai kesepakatan.

Dari sekelumit peristiwa di atas pelajaran apa yang dapat kita petik?

Pertama, Seringkali manusia lupa bahwa apa-apa (fasilitas) yang diberikan Allah SWT kepada manusia hanyalah pinjaman dan sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya. Manusia sering merasa memiliki,”Hartaku, anakku, sitriku, suamiku, rumahku, dll”. Apabila manusia mengklaim pinjaman itu sebagai miliknya dan menanamkan rasa cinta, maka suatu saat manusia akan mengalami duka cita bila pinjaman itu diambil atau dihilangkan sementara. Adalah keliru bila cinta dijadikan perangkat untuk mencintai dunia, karena cinta adalah hubungan spesial milik antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Sebagai gantinya hubungan antara manusia dan makhluk-Nya, Allah SWT mengkaruniakan rasa kasih sayang. Cinta dan kasih sayang kadarnya berbeda. Cinta lebih kepada rasa memiliki seutuhnya, sementara kasih sayang lebih kepada rasa saling menerima dan memberi (hubungan sosial atau antar makhluk).

QS. At-Taubah 9 : 55,
”Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka; sedang mereka dalam keadaan kafir.”

Allah SWT melarang manusia mengklaim apa-apa yang di langit dan di bumi sebagai miliknya, karena Allah SWT-lah yang menciptakan maka Dia-lah sebagai pemiliknya.

QS. Tha Ha 20 : 6,
“Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada di antara keduanya dan semua yang ada di bawah tanah,..”

QS. Ibrahim 14 : 2,
“Dia-lah Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi...”

Kedua, Manusia sering juga tidak menyadari dan menganggap bahwa musuh yang paling berbahaya adalah orang yang lain yang berada di luar komunitas keluarganya, seperti perampok, maling atau orang yang penyebar fitnah. Anggapan ini tidak benar 100%. Justru musuh yang paling berbahaya adalah orang yang berada dalam lingkup keluarga, karena tidak hanya menyakiti secara fisik namun juga psikis. Bisa anda bayangkan bila salah satu anggota keluarga menganiaya anggota yang lain. Beban psikis yang diterima jauh lebih berat.

Seringkali kita mendengar dan melihat berita tentang orang tua yang menganiaya anak atau sebaliknya. Demikian pula suami menganiaya istri dan sebaliknya. Sebuah tindakan dan perilaku di luar akal sehat dan logika manusia. Tetapi memang kenyataan itulah yang terjadi.

Allah SWT sendiri menyontohkan kepada umat islam bahwa para utusannya (nabi/rasul), juga dimusuhi anggota keluarganya dalam menegakkan syiar agama islam, seperti anak nabi Nuh AS yang bernama Kan’an yang memusuhi ayahnya dan pada akhirnya di azab Allah SWT tenggelam oleh banjir. Ayah nabi Ibrahim AS yang bernama Aazar (Tarih) tetap menyembah berhala dan tidak mau masuk islam bahkan memusuhinya. Istri nabi Luth AS yang mengkhianati suaminya dan berkomplot dengan musuh, paman nabi Muhammad SAW yang bernama Abu Jahal dan Abu Lahab yang memusuhi beliau dan umat muslim.

Oleh karena itu, Allah SWT mengingatkan kepada kita agar berhati-hati dengan musuh dalam selimut ini. Tanpa iman yang kuat dan kokoh maka mudah sekali kita akan tenggelam dalam irama permainan mereka sehingga mudah jatuh dalam kenistaan dan kehinaan karena kebencian.

QS. At-Taghabun 64 : 14-15,
”Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu & anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan disisi Allah-lah pahala yang besar”.

Sebagai orang beriman, kita tidak harus menerima ujian dan cobaan sendiri untuk paham dan belajar tentang arti hidup, tetapi juga bisa belajar dari peristiwa yang dialami orang lain.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar