DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Kamis, 16 Juli 2009

Hakikat Isra' Mi'raj Bagi Umat Islam (Bagian 1)


HAKIKAT ISRA' MI'RAJ BAGI UMAT ISLAM (Bagian 1)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.


1. Dibalik Peristiwa Isra' Mi'raj

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Israa’ 17 : 1)

Selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha yang diperingati oleh umat Islam di seluruh dunia setiap tahunnya, agenda lain yang mendapat perhatian umat Islam dalam satu tahun adalah peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang jatuh setiap tanggal 27 Rajab, dan tahun ini tepat pada tanggal 20 Juli 2009.

Peristiwa Isra’ Mi’raj ini dilatarbelakangi kesedihan yang dialami Rasulullah SAW karena meninggalnya istri Beliau, yaitu Siti Khadijah RA yang selama ini setia mendampingi perjuangan suaminya serta ikhlas mengorbankan harta, jiwa, dan raganya untuk menegakan agama Allah SWT.

Kesedihan Rasullah SAW bertambah ketika paman Beliau yaitu Abu Tholib, seorang paman yang penuh kasih sayang dan tidak segan-segan melindungi Rasulullah SAW dari intimidasi kaum kafir Quraish. Meskipun Abu Thalib memiliki faham yang berseberangan dengan keponakannya, namun perbedaan ini tidak mengurangi kasih sayangnya. Begitu sayangnya Rasululllah SAW kepada pamannya, Beliau berdo’a kepada Allah SWT agar pamannya meninggal dalam keadaan Islam. Namun Allah SWT mengingatkan Beliau, dan ini diabadikan dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al-Qashash 28 : 56).

Peristiwa inilah yang disebut Tahun Duka Cita, karena meninggalnya kedua orang yang dicintai dan selama ini mendampingi serta melindungi Rasulullah SAW berjuang dalam menegakan agama Islam.

Duka lara Rosululloh SAW semakin bertambah, ketika 10 tahun masa kerasulannya, pengikutnya hanya 70 orang. Bayangkan 70 orang dibagi 10 tahun, rata-rata hanya 7 orang per tahun yang memeluk agama Islam.

Untuk melipur duka lara itu maka Allah SWT memberikan “bonus” berupa Isra’ Mi’raj. Sebuah peristiwa yang membutuhkan ketebalan iman secara total bagi umat Islam untuk mempercayainya. Karena begitu Rasululloh SAW menceritakan peristiwa ini, pengikut yang semula 70 orang kembali menjadi kafir dan yang tersisa hanya 40 orang.

Kenapa? Karena peristiwa ini sendiri terjadi di luar batas kemampuan pikir/logika umat manusia. Secara logika tidaklah mungkin dicerna dan diterima akal, bayangkan hanya dalam waktu semalam Muhammad SAW menempuh perjalanan dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang jelas-jelas membutuhkan beberapa hari untuk menempuhnya pada saat itu. Belum lagi ditambah ketika Muhammad SAW menuturkan bahwa Beliau juga melakukan Mi’raj dari Al-Masjidil Aqsha menuju langit ke tujuh. Kemudian memasuki langit ke delapan (Sidratul Muntaha) dilanjutkan ke langit sembilan (Kursi) dan yang terakhir adalah langit ke sepuluh (Mustawa). Bahkan para muffasir menerangkan setiap jarak antara satu langit ke langit yang lebih tinggi membutuhkan waktu 500 tahun. Subhanallah.

Dan yang lebih kontroversial lagi adalah “bertemunya” Muhammad SAW dengan Allah SWT, ketika Rasulullah menerima perintah shalat 5 waktu setelah sebelumnya terjadi "tawar menawar" antara Beliau dengan Allah SWT atas saran nabi Musa AS yang memberi masukan bahwa umat Beliau adalah lemah dan tidak mampu melaksanakan shalat 50 waktu dalam satu hari.

Untuk mengantispasi perdebatan dan kebimbangan umat Islam maka Allah SWT mengabadikan peristiwa Isra’ Mi’raj dalam Al-Qur’an dengan maksud supaya umat Islam mempercayai secara total, tidak ragu-ragu dan beriman atas peristiwa tersebut. Sebagaimana sahabat Abu Bakar RA yang langsung percaya kepada Rasulullah SAW begitu Beliau menceritakan peristiwa tersebut.

Bagi kalangan umat Islam sendiri wajib hukumnya mempercayai secara total peristiwa tersebut. Namun yang masih menjadi diskursus adalah bagaimana Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut?

Pendapat pertama, bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj melibatkan secara keseluruhan pada diri Nabi SAW baik raga, jiwa dan ruh. Beliau didampingi Malaikat Jibril dengan mengendarai Bouraq (kendaraan dari surga) yang memiliki kecepatan melebihi cahaya. Pendapat pertama ini berkeyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bila Allah SWT berkehendak.

Sedangkan pendapat kedua mempercayai bahwa yang melakukan Isra’ Mi’raj adalah ruh Nabi SAW, sedangkan raganya masih berada di bumi (rumah Nabi SAW). Adapun pendapat kedua ini mempunyai alasan bila raga Rasul ikut Isra’ Mi’raj (keluar dari orbit bumi) maka akan hancur karena bertentangan dengan sunnatullah, padahal sunnatullah itu sendiri tidak akan berubah sampai hari kiamat. Mana yang benar? Hanya Allah SWT yang mengetahui.

(bersambung)

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri
SC-HSS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar