DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2013

NGGAK DILANTIK KOK MENGAKU-AKU (3-SELESAI)


Adapun yang jadi masalah (salah kaprah) sekarang ini adalah banyak orang mengaku, bangga dan merasa berhak menyandang gelar (derajat) tersebut. Padahal apa yang diakuinya bukanlah pemberian (karunia) dari Allah SWT tapi gelar tersebut diperoleh (melekat) menurut penilaian manusia berdasarkan kriteria-kriteria tertentu sesuai kesepakatan bersama. Lha kalau demikian yang terjadi, maka telah terjadi bias mengenai kriteria seseorang yang berhak menjadi pemegang otoritas agama (waliyullah dan ulama) antara versi Allah SWT dengan versi manusia. Gimana coba? Apa nggak jadi runyam urusannya? Yang kasihan umatnya. Lha nggak dilantik dan mendapat SK dari Allah SWT kok mengaku-aku. Apa jadinya?

             Ibarat bolam lampu, yang bersinar tentu yang dapat menerangi ruangan. Sedangkan bolan yang mati, ya mana mungkin membuat ruangan menjadi terang. Kalau pemegang otoritas agama (penerus nabi) telah dianugerahi nur islam dan nur iman dari Allah SWT sebagai tanda dan bukti sebagai utusan-Nya pastilah dakwahnya dapat memberikan pencerahan umat. Sebaliknya, pemegang otoritas agama yang berdasarkan kesepakatan manusia (tanpa nur islam dan nur iman dari Allah SWT) tentulah beda hasilnya, baik saat maupun setelah memberikan dakwah kepada umatnya. Tidak akan pernah ada pencerahan atau apa yang disampaikan tidak membekas dihati umat yang mendengarkannya, akibatnya nilai-nilai agama jauh dari kehidupan dan perilakunya sehari-hari.
               
             Kalau demikian realitanya. anda sendirilah yang sekarang harus berhati-hati serta jeli untuk menilai dan membedakan mana orang yang sebenarnya utusan Allah SWT sehingga atas ijin-Nya dakwahnya dapat memberikan pencerahan atau seseorang yang hanya mengaku-aku sebagai utusan (orang pilihan)-Nya (karena tidak ada tanda dan bukti mendapat nur islam dan nur iman). Jangan sampai anda menyesal di kemudian hari, karena baik anda maupun mereka yang mengaku-aku utusan-Nya tidak diampuni dosanya dan tempatnya di neraka. Bahkan SWT Allah mengibaratkan tidak mungkin diampuni dosa keduanya sebagaimana masuknya unta dalam lubang jarum (hal yang mustahil terjadi). Coba perhatikan ayat berikut ini,

“Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka." Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui. Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian: "Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan. Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (QS. Al-A’raaf 7:38-40).

            Itu mengapa Rasulullah SAW prihatin dan berpesan kepada umatnya agar hati-hati pada mereka yang mengaku-aku alim ulama tetapi sebenarnya belum mendapat pengajaran dari Allah SWT dan diangkat menjadi utusan-Nya bagi umat manusia karena tidak mendapat nur islam dan nur iman, sebagaimana sabda beliau, “Yang aku takuti terhadap umatku ialah pemimpin-pemimpin (ulama) yang menyesatkan”. (HR. Abu Dawud) dan “Celaka atas umatku dari ulama yang buruk”. (HR. Al Hakim).
(Selesai)


Apa yang saya bahas di atas adalah sedikit cuplikan dari E-Book kedua saya yang berjudul MENGAJI AL-QUR'AN KEPADA ALLAH. (silahkan klik tulisan warna merah di samping untuk mengetahui tata cara dan ketentuan men-download). Bagi sidang pembaca yang ingin menambah wawasan beragama, saya juga telah me-launching E-Book pertama saya yang berjudul MENELADANI SPIRITUAL RASULULLAH SAW DALAM BERMA'RIFATULLAH. (silahkan klik tulisan warna merah disamping untuk mengetahui tata cara dan ketentuan men-download)

Marilah kita tetap ISTIQOMAH untuk meraih ridha Allah SWT!!!
        
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



Iwan Fahri Cahyadi
Pondok Ar-Rahman Ar-Rahim
Semarang



Senin, 21 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (38)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kalau kita mau jujur, dalam skala nasional pun, kejadian seperti di atas pun sedang dan tengah terjadi. Coba anda perhatikan partai politik peserta pemilu yang memakai basic keagamaan. Meskipun dengan desain dan alasan bahwa ini semata-mata hanya perbedaan pandangan politik, bukan agama, namun realitasnya hal tersebut tidak terlepas dari unsur agama. Mereka memakai agama sebagai kendaraan politik. Cuma ya itu tadi, malu-malu.

Coba anda me-recall ulang dan hitung berapa jumlah partai politik yang ikut pemilu 2009 kemarin dan mengusung aliran agama islam? Banyakkan. Justru yang membuat umat heran adalah mengapa mereka tidak bersatu saja untuk mewujudkan masyarakat yang islami kalau keyakinan mereka didasari agama ? Kondisi ini kadang-kadang membuat kita bertanya-tanya,”Apakah benar pendirian partai politik ini semata-mata untuk kepentingan umat? Atau jangan-jangan hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok?”. Silahkan anda sendiri yang menjawab.

Saya pribadi sih cuma menyayangkan cara mengelola umat yang kurang elegan. Umat dijadikan obyek untuk suatu peristiwa sesaat dan tidak terlepas kepentingan pribadi/golongan. Bahkan umat menjadi terkotak-kotak dan bingung harus mendukung partai yang mana. Lha sama-sama partai islamnya.

Yang lebih tragis adalah banyak umat harus berkorban untuk membela sesuatu yang tidak jelas. Contohnya ketika berkampanye ada dua partai yang memiliki jadwal kampanye bersamaan dan keduanya sama-sama partai ber-basic islam. Atas nama loyalitas salah kaprah, mereka saling mengejek, mengolok-olok, dan menghina. Bahkan sampai beradu fisik. Konyol bukan?

Begitulah sebagian potret buram umat islam di Indonesia. Mereka lebih mengutamakan perbedaan daripada persamaan. Menjunjung tinggi perpecahan daripada persatuan. Meng-idola-kan kepentingan pribadi dibanding kepentingan umat. Pokoknya serba tidak jelas, semu dan abu-abu. Benar-benar kasihan umat yang diombang-ambingkan kepentingan pemimpinnya. Sementara umat sendiri tidak kunjung menyadari kalau mereka digunakan sebagai obyek kepentingan.

Tidakkah para pemimpin umat menyadari bahwa amanat (jabatan) itu akan diper-tanggungjawab-kan kelak di hadapan Allah SWT? Mengapa justru banyak pemimpin mengabaikan amanat yang diberikan? Tidakkah mereka takut terhadap azab Allah SWT?

QS. Al-An’aam 6 : 165,
“Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Renungan :

1.Pemimpin agama seharusnya memberikan suri tauladan kepada umatnya sebagaimana yang ditunjukkan Rasulullah SAW semasa beliau hidup (sunnah nabi). Sebagai pemimpin yang baik sebenarnya cukup berpegang pada satu prinsip, tidak perlu persyaratan yang macam-macam, yaitu apabila mendapat kebahagiaan maka pemimpin-lah yang terakhir menikmatinya sementara umat didahulukan dan apabila mendapat penderitaan maka pemimpin-lah yang pertama kali merasakan sementara umat paling akhir. Cukup simple bukan?

2.Pemimpin seharusnya mampu membina dan membimbing umat. Ketentraman, kesejukan dan kedamaian merupakan kondisi yang harus diciptakan. Janganlah kehadiran pemimpin justru membuat bingung umat, apalagi memanfaatkan dan menjadikan mereka obyek demi mengejar kepentingan pribadi dan sesaat.

3. Jangan jadikan perbedaan sebagai alat perseteruan. Bukankah perbedaan itu rahmat? Meskipun berbeda dalam hal furu’ seharusnya tetap memegang teguh prinsip toleransi, saling menghormati dan menyayangi sesama muslim. Karena bagaimanapun juga umat islam itu adalah saudara, yang dipersatukan oleh iman yang sama.

Bagaimana menurut pendapat anda?

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih

Jumat, 18 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (37)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kejadian tersebut, dalam skala lebih kecil juga pernah saya alami. Bahkan hingga saat ini masih berlangsung. Di kampung dimana saya dilahirkan, mayoritas masyarakat mempunyai kebiasaan membacakan tahlil, baik pada acara keagamaan maupun saat ada tetangga yang sedang ditimpa musibah kematian.

Diantara penduduk kampung, terdapat golongan minoritas yang memiliki keyakinan tidak perlunya pembacaan tahlil. Kami yang merasa golongan mayoritas menghargai dan menghormati perbedaan ini. Namun yang justru membuat kami terheran-heran adalah wilayah keyakinan ini dibawa sampai merembet pada tata kehidupan sosial kemasyarakatan. Kelompok minoritas menutup diri, tidak mau berkumpul (silaturahmi), bahkan untuk kegiatan warga seperti kerja bakti tidak pernah hadir. Bahkan mengunjungi tetangga sekedar saling bermaaf-maafan di hari raya Idul Fitri tidak dilakukan.

Saya secara pribadi tidak bisa menyalahkan 100% kepada tetangga tersebut, bahkan cenderung kasihan. Salah apa tetangga saya sehingga mendapat doktrin dari pimpinan kelompoknya yang memiliki cara berpikir sempit dan defensif. Sungguh sebuah doktrin yang tidak masuk akal, kalau harus sampai menutup diri dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Masya Allah!.

***

Ternyata, perseteruan secara diam-diam ini tidak hanya terjadi dalam ranah kehidupan sosial kemasyarakatan, namun juga telah menyentuh organisasi islam.

Ada cerita menarik ketika masa kuliah dulu. Kebetulan saya mempunyai seorang sahabat yang aktif dalam himpunan organisasi islam. Anggotanya rata-rata mahasiswa. Hingga suatu sore hari, dia bercerita kepada saya.

“Aneh ya cara umat islam berorganisasi?”

“Aneh bagaimana? Setahu saya yang namanya organisasi ya seperti pada umumnya. Mereka kumpulan orang yang memiliki misi, visi dan tujuan sama, menyuarakan kepentingan organisasi, berfungsi sebagai salah satu lembaga kontrol, dan semacamnya!” sergah saya.

“Benar sih. Tapi disinilah letak permasalahannya. Mengapa ketika saya mencoba ikut organisasi mahasiswa islam tersebut justru mendapat pertanyaan yang mengejutkan dan membuat saya tak habis pikir!”.

“Lho memangnya kamu ditanya apa?”

Sejenak dia terdiam. Kemudian melanjutkan ceritanya,“Sebagian ada anggota organisasi tersebut yang menanyakan tentang asal-usul atau latar belakang kelompok islam apa yang saya anut!”

“Maksudnya?”

“Ya begitulah. Ditanya perihal asal saya dari islam X, Y atau Z?”

“Terus kamu jawab apa?”

“Ya aku kembalikan saja pertanyaannya. Memang ada islam X, Y atau Z? Islam ya cuma satu. Tidak ada dikotomi, kotak-kotak dan sekat-sekat!, kalaupun ada sih itu hasil dari rekayasa manusianya. Memangnya ada waktu jaman Rasulullah SAW yang bernama islam X, Y atau Z?”

Sambil diiringi senyuman kemudian dia meneruskan ceritanya dan mencoba bertanya kepada saya,’’ Kamu tahu yang selanjutnya terjadi? Mendengar argumen tadi, si penanya malah bingung sendiri dan pergi meninggalkan aku sendiri!”

Saya pun ikut tersenyum, mendengar jawaban pragmatis sahabat saya yang langsung meng-KO si-penanya.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih

Kamis, 17 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (36)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

(10)
ANTARA PEMIMPIN DAN UMAT


Pada pertengahan medio tahun 2006, saya beserta istri ikut pelatihan yang diselenggarakan oleh sebuah Yayasan islam, selama dua hari berturut-turut, mulai pagi hari sampai menjelang maghrib. Meskipun kami sudah merasa cukup umur, namun tidak menghalangi untuk tetap terus belajar dan belajar. Semua itu didorong oleh kesadaran bahwa mencari ilmu tidak pernah berakhir selama masih hidup. Hanya kematianlah yang dapat menghentikan. Rasulullah SAW pernah bersabda,”Belajarlah mulai dari ayunan hingga liang lahat”.

Materi demi materi yang disampaikan coba kami serap dan cerna. Syukur Alhamdulillah keseriusan itu berbuah manis, kami paham inti dari materi pelatihan tersebut dan insya Allah dapat menerapkannya.

Ada hal yang menarik selama pelatihan tersebut berlangsung. Di sela-sela penyampaian materi, sang ustadz menyisipkan pengalamannya tentang kondisi umat islam saat beliau berkunjung di sebuah desa terpencil, di Jawa Timur. Dengan mimik wajah yang serius beliau mulai bercerita.

Tersebutlah suatu desa di Jawa Timur yang mayoritas penduduknya memeluk agama islam. Meskipun memiliki keyakinan yang sama, mereka berasal dari 2 kelompok islam yang berbeda. Entah mulai kapan dan bagaimana asal usulnya sehingga terjadi perpecahan. Akibatnya diantara mereka tumbuh semacam sentimen kelompok.

Sebenarnya kondisi ini dipicu hanya karena masalah pemahaman furu’ (cabang) yang berbeda. Tetapi dampaknya sungguh sangat luar biasa dan berakar kuat sampai sekarang. Oleh karena itu, sang ustadz berusaha mendamaikan kedua kubu dan meredam lebih jauh dampak perseteruan tersebut.

Apa yang sedang terjadi sehingga perlu di-damai-kan dan diredam permasalahan tersebut?

Pertama, Sentimen kelompok menyebabkan situasi dan kondisi kehidupan sosial masyarakat menjadi tidak kondusif lagi. Ada semacam konflik kepentingan. Masing-masing pimpinan dari tiap-tiap kelompok saling menaruh curiga. Para berusaha mempertahankan umatnya dan saling mempengaruhi satu sama lain. Karena mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab atas “keselamatan” umatnya. Segala daya upaya tindakan protektif pun dilakukan. Salah satunya dengan melakukan dakwah yang kurang terpuji dan tidak tepat, seperti merendahkan ustadz dari golongan lain di depan umatnya melalui pengajian yang diadakankan. Kondisi ini semakin memperparah keadaan yang ada dan sentimen kelompok bertambah parah.

Kedua, Di sisi lain, umat berusaha membela mati-matian pemimpinnya yang dilecehkan dan tidak diberlakukan sebagaimana mestinya oleh kelompok lain. Sehingga bila bertemu dengan seterunya di tengah jalan saling tidak bertegur sapa, walaupun mereka bertetangga.

Ketiga, Ketidakharmonisan kehidupan keagamaan juga menyebabkan setiap kelompok berusaha merebut, menguasai dan “menduduki” masjid yang ada. Kebetulan di desa tersebut jumlahnya hanya ada 1 buah.

Keempat, Meskipun tidak sampai beradu otot, namun antar golongan terjadi perang dingin. Hal ini mengakibatkan kehidupan sosial masyarakat tidak terjalin dengan baik. Kegiatan-kegiatan sosial pun menjadi terbengkalai. Masing-masing disibukkan dengan kecurigaan dan urusan kelompoknya.

Demikian sekelumit cerita dari sang ustadz, namun sudah cukup mewakili apa yang menjadi keprihatinan hati beliau saat itu. Saya sendiri terkejut mendengar kisah tersebut dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda penyesalan terhadap perilaku umat islam yang tak kunjung dewasa dalam beragama. Baik dalam cara berdakwah, membina umat, rasa empati dan tingkat toleransi dalam menerima perbedaan. Sungguh suatu cara kehidupan beragama yang naif bukan?

Namun syukur alhamdulillah. Setelah kedua pimpinan (ustadz) golongan tersebut dipertemukan dan diajak berdiskusi dicapailah jalan keluar. Hingga saat ini berdasarkan pantauan yang dilakukan secara periodik, kehidupan masyarakat mulai membaik. Misalnya, mengenai masalah masjid, tidak perlu diperebutkan. Hanya perlu kesadaran dan toleransi golongan. Masing-masing kelompok diberi jatah secara bergiliran untuk digunakan beribadah dan berdakwah.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Rabu, 09 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (35)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Meskipun Allah SWT sudah memperingatkan kepada manusia, namun masih banyak manusia yang tidak mampu mengelola hatinya karena ingkar atau lalai kepada ayat-ayat Allah SWT. Ada beberapa hal yang menyebabkan manusia terperosok dalam perilaku fujur. Disini saya sebutkan 3 perkara yang paling vital, yaitu :

Pertama, Kesombongan.
Sifat sombong adalah hijab tertinggi seorang hamba kepada Allah SWT. Manusia yang sombong selalu ingin menang sendiri, merasa paling benar dan yang lainnya salah, sukar menerima pendapat orang lain, dan masih banyak lagi hal negatif dari sifat ini.

Oleh karena itu, Allah SWT mengingatkan dan melarang makhluknya memelihara sifat sombong.

QS. Lukman 31: 18,
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Banyak contoh dalam Al-Qur’an yang menceritakan tentang sombong dan efeknya. Salah satunya seperti apa yang dialami iblis ketika disuruh Allah SWT untuk bersujud kepada Adam AS ketika pertama kali diciptakan. Iblis tidak mau bersujud karena sombong, merasa dirinya lebih hebat dibanding Adam AS, karena diciptakan dari api sementara Adam AS diciptakan dari tanah. Kesombongan inilah yang membuat Allah SWT marah kepada iblis dan mengutuknya.

QS. Al-Baqarah 2 : 34,
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat,”sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.

Kenapa Allah SWT melarang makhluknya memelihara sifat sombong? Karena hanya Allah-lah yang berhak menyandangnya. Dia-lah pemilik asma Al-Mutakabir (berkuasa/sombong). Makhluknya tidak berhak menyandangnya.>

Hadits Qudsi,
“Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Oleh karena itu, barang siapa mengambilnya dari-Ku (berperilaku dengan) salah satu dari keduanya, maka Aku mencampakkannya ke neraka”. (Abu Dawud).

Kedua, Terpedaya indahnya dunia.
Maksud diciptakannya dunia beserta isinya tidak lain dan tidak bukan untuk kesejahteraan dan kemakmuran penghuninya. Baik itu manusia, binatang, dan tumbuhan. Konsep adanya saling memberi dan menerima, berinteraksi satu sama lain, dan saling membutuhkan adalah tujuan utamanya, sehingga tercipta harmonisasi kehidupan.

Namun karena manusia sering merasa yang paling hebat diantara makhluk yang lain, tidak segan-segan untuk memenuhi kepentingan pribadi dan pemuasan ego segala cara ditempuh sehingga terjadi disharmonisasi kehidupan. Tidak hanya binatang, tumbuhan dan alam yang dikesampingkan hak hidupnya, namun antar manusia juga saling menjatuhkan, berebut ambisi dan menciptakan permusuhan.

Akibatnya bukan saja makhluk lain dan alam semesta saja yang dirugikan, namun diam-diam manusia jenis ini secara tidak sadar juga menggali lubang kematian bagi dirinya sendiri.

QS. Al-Qiyaamah 75 : 20-21,
“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.

Ketiga, Terbelenggu hawa nafsu
Musuh yang paling berbahaya dan intens mengintai kehancuran kehidupan manusia adalah hawa nafsu. Kenapa? Karena musuh ini tidak kelihatan, tidak pernah lengah menprovokatori berbuat kemungkaran dan berada di dalam diri manusia. Bahkan karena manusia sering lena dan lalai, seringkali mereka menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan dunia. Sehingga kesesatan dari jalan Allah SWT selalu menyertai dan mendampingi jalan hidupnya.

QS. Al-Jatsiyaah 45 :23,
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa hafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya tersesat). Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”.

Manusia tidak akan mampu menjaga nafsunya secara terus menerus dan kontinyu dari perbuatan keji mungkar tanpa pertolongan dari Allah SWT. Bahkan manusia yang setingkat nabi/rasul pun pernah tidak berdaya me-manage nafsu dan hatinya bila saja tidak datang pertolongan dari Allah SWT. Seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf yang saat itu digoda Zulaiha (permaisuri raja) dan Rasulullah SAW saat menghadapi orang kafir. Bagaimana pun juga nabi/rasul adalah manusia.

QS. Yusuf 12 : 53,
”Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.

Nabi Yusuf AS hampir saja tidak mampu menahan nafsunya ketika di goda oleh Zulaiha untuk melakukan perbuatan yang tidak terpuji kalau tidak mendapat pertolongan Allah SWT.

QS. An-Nahl 16 : 127,
”Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

Manusia adalah makhluk yang diciptakan secara sempurna dibandingkan makhluk lain karena dikaruniai akal, namun manusia juga hakikatnya makhluk lemah karena dikaruniai nafsu. Berhasil tidaknya menempuh perjalanan hidup di dunia, tergantung mana yang berkuasa, nafsu (syaitan) atau akal (islam,iman,takwa).

Renungan :

Pelajaran atau hikmah dari peristiwa yang dialami sang ustadz dengan nafsu dan hati? Adakah korelasinya? Apa yang patut kita direnungkan:

1.Bahwa hati adalah tempat Allah SWT menurunkan ilham fujur (fasik) dan takwa. Salah satu dari keduanya pasti satu yang berkuasa.

2.Apabila nafsu telah membelenggu manusia, maka kecenderungannya pada kehidupan dunia. Bila takwa menyelimuti hati manusia maka kecenderungannya kepada kehidupan akhirat. Ini bukan berarti, umat islam tidak perlu kehidupan dunia. Namun yang perlu diiingat bahwa jangan sampai umat islam terbuai dengan hingar bingar kehidupannya. Dunia adalah ladang bercocok tanam untuk akhirat.

3.Orang lain tidak mampu memprediksi dan membaca isi hati seseorang. Maka waspadalah terhadap maksud-maksud tersembunyi dari seseorang.

4.Kejadian seperti ustadz X diatas tidak hanya terjadi di daerah saya. Saat ini pun mungkin banyak “oknum” ustadz yang memanfaatkan dakwah sebagai kuda tunggangan untuk kepentingan pribadi. Saya tidak melemparkan fitnah, ini semata-mata sebagai early warning. Sepatutnya seorang ustadz harus berdiri di atas kepentingan umat tanpa memposisikan diri pada hal-hal yang membuat sebagian umat tidak simpatik dan berpecah belah karena sesuatu hal yang sifatnya remeh dan sepele.

Bagaimana pendapat anda?

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih

Selasa, 08 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (34)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hati adalah salah satu perangkat yang memiliki potensi besar bagi setiap manusia. Potensi ini dapat digunakan secara optimal. Namun semua ini tergantung dari bagaimana manusia tersebut mampu memanfaatkan, memberdayakan dan mengelolanya untuk hal yang positif.

Di dalam hati setiap manusia, merupakan medan pertempuran yang sesungguhnya. Di salah satu rongga hati diisi oleh sifat fujur dan disisi lain bersemayam sifat takwa. Tinggal manusia akan memilih yang mana. Sifat syaitan (nafsu) atau sifat Tuhan.

QS. Asy-Syams 91:8,
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (fujur) dan ketakwaannya”.

Fujur dan takwa bersifat abstrak dan tidak terjangkau oleh panca indera manusia dan alat ukur apapun, namun dapat dirasakan. Sifat fujur akan bersemayam bila si pemilik hati memberi ruang bagi syaitan dan menuruti hawa nafsunya untuk berkuasa atas dirinya. Sementara, sifat takwa akan bersemayam bila manusia membuka bilik itu hanya untuk Allah SWT semata, sebagai mana bunyi sebuah hadist:

”Langit dan bumi tidak akan mampu menampung Dzat-Ku, namun Aku akan bersemayam di hati hamba-hamba-Ku yang beriman”,(diterjemahkan secara bebas tanpa mengurangi esensi hadist tersebut).

Dua sifat ini tidak mungkin memiliki kadar yang sama atau seimbang. Tidak mungkin bersanding. Tidak akan berwarna abu-abu. Pasti hitam atau putih. Hanya salah satu yang berkuasa. Suatu saat sifat takwa yang menang, dan disaat lain sifat fujur yang berkuasa.

QS. Al-Ahzab 33 : 4,
“Allah sekali-kali tidak menjadikan seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukan jalan (yang benar).

Manusia pemilik hati itulah yang mampu mengukur sifat mana yang tengah berkuasa atas dirinya. Oleh karena itu, qalbu (bahasa arab) bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti bolak balik. Makanya iman seseorang terkadang naik, di saat lain turun.

QS. Al-An’aam 6 : 110,
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat”.

Agar iman tetap terjaga maka perlu 4 amunisi berupa ikhlas, sabar, tawakal dan istiqomah kepada perintah Allah SWT, sehingga membuat iman selalu “on” terus. Apabila iman telah kokoh, maka Allah SWT akan meningkatkan menjadi takwa (muttaqin). Karena seorang hamba yang takwa sudah tidak lagi dipengaruhi oleh hal-hal yang memiliki sifat non Ilahiyah.

Mengenai pengertian iman dan takwa dapat dianalogkan ibarat jerigen yang diisi air (terdiri sabar, ikhlas, tawakal dan istiqomah). Apabila isi jerigen tersebut belum penuh dengan air maka bila diguncang-guncangkan, air didalamnya akan ikut terguncang dan suaranya terdengar, yang berarti masih ada ruang kosong (iman belum penuh). Sedangkan bila isi jerigen penuh dengan air maka bila diguncangkan, isinya tidak ikut terguncang dan tidak ada suara air yang bergejolak. Inilah yang dimaksud takwa.

Oleh karena itu, didalam Al-Qur’an Al-Karim, Allah SWT selalu memperingatkan dan berpesan kepada hamba-hamba-Nya, agar selalu membersihkan hatinya.

QS. Al-A’laa 87 : 14
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)”.

Kata membersihkan inilah kadang menjebak manusia, yang pada akhirnya melibatkan pikir untuk mensikapi ketentuan Allah SWT dimaksud. Padahal secara logika manusia itu tidak mengetahui hati itu letaknya dimana dan dengan apa ia harus membersihkan pun tidak mengerti. Sesungguhnya yang dimaksud dengan membersihkan menurut Allah SWT biarkanlah segala sesuatu berjalan apa adanya sesuai dengan kehendak Allah SWT, jangan kamu libatkan pikir untuk memahami tentang hidayah Allah SWT itu. Karena hanya Allah-lah yang mampu dan berhak membersihkan hati hamba-hamba-Nya.

QS. An-Nuur 24 : 21,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Senin, 07 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (33)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hati atau qolbu (bukan dalam artian fisik) adalah ruang atau wilayah privacy antara seorang hamba dengan Khaliq-nya. Hanya manusia dan Tuhan yang tahu, ini berarti seorang harus mengalami dalam berspiritual, tidak sebatas kata-kata atau teori. Allah SWT mengetahui yang nyata dan ghaib, termasuk isi hati setiap manusia.

QS. Al-An’aam 6 : 73,
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya diwaktu Dia mengatakan: Jadilah, maka terjadilah, dan ditangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala di tiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Mengetahui”.

Apa yang dialami ustadz X adalah sebuah pelajaran berharga bagi dirinya. Hal ini tidak terlepas dari kekhilafannya. Keahlian dan ketrampilannya mengumpulkan jamaah disetiap pengajian ternyata disalahgunakan untuk memuaskan kepentingan nafsunya (yang terdapat di dalam hati manusia). Dakwahnya dijadikan “kuda tunggangan” untuk meraih posisi anggota dewan.

QS. Al-Anfaal 8 : 24,
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi manusia dan hatinya (yaitu nafsu) dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan”.

Saya secara pribadi lebih berpikir positif tentang peristiwa itu. Mungkin misi dan tujuan sang ustadz baik, yaitu memilih jalur formal untuk membangun daerah dan menyejahterakan rakyat. Namun tidak demikian dari sudut pandang masyarakat. Mungkin sudah banyak yang dikecewakan selama ini atas kinerja lembaga legislatif.

Walaupun anggota dewan idealnya mewakili aspirasi dan kepentingan rakyat, namun ternyata dalam realisasinya, seringkali banyak yang membawa aspirasi dan kepentingan parpol dimana dia bernaung. Massa hanya dijadikan sapi perahan untuk legitimasi kepentingan pribadi dan parpol.

Sebenarnya saat itu masyarakat tidak menyangka kalau ustadz X mau menerima pinangan parpol dan berharap tetap bersikukuh berdiri diatas kepentingan umat. Namun harapan tersebut pupus, sehingga kekecewaan umat ditunjukan dalam bilik pemungutan suara.

Kalau pun benar bahwa sang ustadz menjadikan dakwah sebagai kuda tunggangan, maka apa yang menjadi tujuan berdakwah ustadz X selama ini, dengan apa yang diinginkan jamaahnya sangat berbeda jauh. Seperti peribahasa yang saya sebutkan diatas tadi, “Dalamnya lautan masih bisa diukur, dalamnya hati siapa tahu”.

Mungkin Allah SWT sedang menegur sang ustadz melalui peristiwa tersebut, karena Allah SWT sebenarnya masih sayang kepadanya. Dengan kejadian ini dapat diambil hikmahnya. Hati sang ustadz yang dulu sempat khilaf karena diisi oleh ambisi dan kepentingan duniawi, dipaksa Allah SWT agar dipenuhi dengan keikhlasan untuk syiar agama islam.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Jumat, 04 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (32)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ternyata ustadz tersebut salah memprediksikan perolehan suara dengan mengandalkan “loyalitas” jamaahnya. Beliau berasumsi, dengan banyaknya jamaah yang selalu hadir disetiap acara pengajiannya selama ini, minimal 75% akan memilih partainya. Namun asumsi tersebut meleset. Apa penyebabnya? Paling tidak ada 2 hal:

a.Parpol dimana sang ustadz bernaung adalah parpol baru yang di masa pemerintahan orde baru belum pernah ada. Mungkin para jamaah beranggapan, bahwa track record dari parpol tersebut belum kelihatan dan terbukti membela kepentingan rakyat. Sehingga untuk menjatuhkan pilihan kepada parpol tersebut dirasa amat berat. Ibarat membeli kucing dalam karung. Parpol tersebut tidak hanya semata-mata diisi oleh orang-orang yang memiliki kredibilitas seperti ustadz X, tetapi banyak anggota lainnya yang tidak dikenal masyarakat.

b.Banyaknya jamaah yang hadir dalam setiap pengajian bukanlah sebagai tolok ukur keberhasilan. Iman boleh sama tapi pilihan parpol boleh beda, adalah hak pribadi masing-masing individu.

Tidak terpilihnya ustadz X menjadi anggota legislatif berdampak pada pamor sang ustadz di masyarakat. Ibarat bulan tertutup awan, pamor ustadz X langsung turun drastis di masyarakat. Hanya beberapa jamaah yang pro masih menghadiri pengajiannya. Sementara yang kontra tidak mau hadir dalam pengajian-pengajian berikutnya. Justru yang terjadi, banyak jamaah yang kontra dan tidak respect cukup banyak terhadap pencalonannya sebagai anggota dewan.

Memang demikianlah kondisi masyarakat di Indonesia, terutama di daerah. Mereka kadang belum cukup dewasa untuk berdemokrasi dalam menerima perbedaaan. Satu perbedaan saja sudah cukup sebagai tolok ukur bahwa mereka berseberangan. Semua dipukul rata, tanpa mau memilah dan memilih.

Kondisi ini baru disadari oleh sang ustadz pasca pemilihan, sehingga hampir 8 tahun nama beliau seolah-olah hilang di telan bumi. Kharismanya langsung turun di mata jamaahnya, disebabkan hanya untuk memenuhi ambisi pribadi dan pemuasan egonya. Baru 2 tahun terakhir ini, kehadiran beliau mulai mendapat simpati dan mulai diterima masyarakat kembali setelah beliau menyatakan keluar dari parpol tersebut.

***

Dalamnya lautan masih bisa diukur, dalamnya hati siapa tahu. Demikianlah bunyi peribahasa yang sering kita dengar dan hafalkan ketika duduk belajar di bangku Sekolah Dasar. Sederet kata yang memiliki makna dan filosofi tinggi. Seberapa pun dalam lautan atau samudera, dengan peralatan atau teknologi cangkih yang dimiliki manusia sekarang ini maka kedalamannya dapat diukur. Berbeda dengan suasana hati seseorang, betapa pun cangkihnya peralatan atau teknologi, manusia tidak mampu bahkan tidak akan pernah dapat mengukurnya.

Manusia dengan perangkat tubuh yang dimilikinya hampir semua dapat diukur. Detak jantung dapat dihitung, tarikan nafas per menitnya dapat dikalkulasi, kebohongan disiasati dengan peralatan lie detector, kemampuan dan kapasitas otak dapat ditest melalui psikotest untuk menentukan tingkat Intelegence Quotient (IQ), kondisi emosional seseorang dapat dibaca sebelum emosi itu muncul dan bagaimana cara meredamnya melalui metode Emotional Quotient/EQ. Hanya hatilah yang tidak mampu ditebak meskipun manusia berusaha mencoba mendeteksi melalui perangkat Spiritual Quotient (SQ). Karena ruang ini adalah rahasia Illahi.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Kamis, 03 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (31)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

(9)
DAKWAH SEBAGAI “KUDA TUNGGANGAN”

Suatu sore, kira-kira 10 tahun (1998) yang lalu, saya bersama teman-teman berkumpul di beranda rumah. Dari pertemuan yang tidak terencana tersebut, kami semula hanya membicarakan hal-hal ringan, kemudian berbelok arah memperbincangkan peristiwa yang lebih serius tentang kejadian yang baru saja dialami bangsa ini pada saat itu, yaitu euforia demokrasi di Indonesia yang baru saja lahir.

Diskusi kecil-kecilan ini masih tertanam dalam ingatan saya karena disebabkan oleh 3 hal:

Pertama, runtuhnya kekuasaan orde baru pasca peristiwa Mei 1998, setelah berkuasa hampir 32 tahun lamanya.

Kedua, Terbukanya kran demokrasi. Pada masa orde baru demokrasi masih berjalan di tempat. Salah satunya hal ini dapat dilihat dari beberapa media cetak yang dicabut ijin penerbitannya, karena terlalu lantang mengkritisi pemerintahan saat itu. Jadi hak berbicara dan berpendapat dibungkam. Layak tidaknya berita ditentukan oleh pemerintah. Sementara pasca peristiwa Mei 1998, diharapkan demokrasi dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat, yang berarti pula pemberangusan hak berbicara dan bebas berpendapat mendapat angin segar. Meskipun semua ini tetap dibatasi dalam koridor hukum dan etika.

Ketiga, Gegap gempitanya para reformer untuk mendirikan partai baru. Bahkan kalau tidak salah saat itu (tahun 1999) partai yang berhak ikut pemilu hampir mencapai 30-an.

Peristiwa lahirnya demokrasi yang terjadi dalam skala nasional, mau tidak mau juga berimbas ke daerah, khususnya mengenai pendirian cabang parpol baru. Ada peristiwa yang menarik berkenaan ramainya pendirian partai baru dan maraknya pencalonan anggota legislatif di daerah saya.

Tersebutlah seorang ustadz pada saat itu yang ikut mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Adalah hak setiap warga negara untuk memilih dan dipilih sebagai anggota dewan tanpa melihat latar belakang profesi. Asalkan memenuhi syarat.

Peristiwa ini saya angkat karena ada hikmah dan pelajaran berharga dari pencalonan sang ustadz tersebut.

Sebut saja namanya ustadz X. Beliau adalah salah satu pendakwah karismatik di daerah saya, dicintai umat, dan saat memberikan ceramah selalu dipadati oleh jamaah. Tutur bahasanya lembut, mudah dipahami, pandai mempermainkan emosi jamaah dan penguasaan materi yang mumpuni adalah sebagai modal beliau ketika bersyiar.

Dengan track record inilah menjadikan daya tarik bagi parpol-parpol saat itu untuk merekrutnya sebagai anggota partai, mengingat sang ustadz memiliki massa (jamaah) yang cukup banyak.

Tidak berapa lama kemudian, rayuan parpol pun dilancarkan kepada sang ustadz, dan ternyata gayung bersambut. Dengan iming-iming kedudukan strategis di partai dan memasang nomer urut jadi pada pencalonan legislatif, maka sang ustadz menyetujui masuk menjadi anggota parpol tersebut dan bersedia menjadi juru kampanye.

Berita ini kemudian cepat tersebar di masyarakat. Ada yang pro dan kontra. Namun pelajaran yang berharga diperoleh saat pemilihan calon legislatif dan hasil dari perhitungan suara yang diluar dugaan. Ternyata sang ustadz tersebut tidak terpilih menjadi anggota dewan dan parpolnya pun tidak masuk 10 besar. Apa gerangan yang terjadi?

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Selasa, 01 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (30)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Semasa kehidupan Rasulullah SAW, ada sekelompok kaum munafik yang dipimpin oleh Dzu Awan yang membangun sebuah masjid dengan maksud untuk memecah belah kaum muslim, membelokkan ajaran agama islam dan sebagai tempat berkumpul bagi golongan mereka. Ketika mereka meminta Rasulullah SAW diminta membuka dan menunaikan shalat di masjid tersebut beliau menolak dan memerintahkan masjid tersebut dibakar. Peristiwa ini diabadikan dalam surat At-Taubah.

QS. At-Taubah 9 : 107-108,
“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin) untuk kekafiran, dan untuk memecah-belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah:” Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka adalah pendusta (dalam sumpahnya)”.

“Janganlah kamu bershalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bershalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”.

Sungguh ironis bukan bila ada sekelompok yang mengaku umat islam mengklaim masjid yang didirikan hanya milik dan dipergunakan untuk kepentingan kelompoknya. Padahal Allah SWT menyuruh umat muslim untuk senantiasa memakmurkan masjid tanpa memandang siapa dia. Jadi tidak perlu ada perpecahan serta mengklaim dengan mengatas-namakan masjid tersebut khusus untuk seseorang yang aliran, golongan dan kelompok yang sama.

QS. At-Taubah 9 : 18,
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Renungan :

Kita sebagai umat islam dan bersaudara sungguh merasa prihatin melihat kaum muslim yang tak kunjung dewasa dalam memahami agama. Masjid, tempat yang kita muliakan malah dijadikan ajang berpecah belah. Kalau kejadiannya seperti ini, pertanyaannya adalah benarkah umat islam mengaku beriman kepada kitabullah? Apakah mereka termasuk orang yang mendapat petunjuk sementara mereka tidak mau memakmurkan masjid?

Saya sendiri tidak berhak memvonis, apakah beberapa peristiwa tersebut di atas dan para pelakunya dapat di golongankan sebagai orang munafik dan tidak mendapat petunjuk. Hanya Allah SWT yang berhak dan tahu. Saya hanya mencoba menunjukkan kepada para pembaca dan memohon kepada anda untuk memperhatikan surat At-Taubah di atas!

Ada misteri apakah pada surat At-Taubah 107-108 tersebut? Mengapa ketika para sahabat membukukan Al-Qur’an (atas ijin dan kehendak Allah SWT) menjadikan kedua ayat tersebut masuk dalam surat At-Taubah, yang berarti pengampunan? Apakah ini berarti beberapa umat islam yang mendirikan masjid untuk memecah belah orang-orang mukmin agar segera sadar dan bertaubat kepada Allah SWT atas perilakunya yang salah? Wallahua’lam bishawab!

Silahkan anda renungkan!

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Senin, 31 Mei 2010

Dakwah Salah Kaprah (29)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Peristiwa II

Peristiwa ini saya alami juga ketika akan menunaikan ibadah shalat Jum’at bersama salah seorang teman. Untuk menuju ke masjid, kami berdua mengendarai sepeda motor dengan posisi saya dibelakang. Selama dalam perjalanan kami berdua hanya diam karena posisi duduk tidak memungkinkan untuk bercakap-cakap.

Saya melihat jam tangan, waktu menunjukan jam 12.15 WIB, berarti shalat Jum’at segera di mulai dan kami tidak mempunyai waktu banyak. Pada saat saya melihat masjid di depan, secara reflek saya langsung mengusulkan berhenti dan lebih baik shalat di masjid tersebut karena waktu sudah mendesak. Namun betapa terkejutnya saya ketika teman tadi langsung menjawab,”Jangan di situ, itu masjid milik organisasi B!”. Pada akhirnya saya terdiam, pasrah dan menyerah kepada teman saya, karena posisinya yang memegang kendaraan. Terserah dia mau shalat di mana yang sesuai dengan keinginannya, yang penting tidak terlambat. Untunglah tidak berapa lama pada akhirnya kami menemukan masjid untuk mendirikan shalat. Namun rasa penasaran akan peristiwa tadi sempat menggelayuti pikiran saya, “Ada apa gerangan?”

Di lain waktu, saat teringat peristiwa tersebut, saya mencoba mencari informasi mengenai teman saya. Selidik punya selidik ternyata dia adalah aktivis dari salah satu organisasi islam di Indonesia, dan baru saya ketahui pula bahwa masjid yang dulu saya usulkan untuk shalat Jum’at adalah milik organisasi islam lain yang menjadi seterunya.

Saya hanya sempat merenung, kok bisa ya sesama saudara seiman ada sentimen organisasi. Bahkan menjurus ke arah perpecahan. Padahal Tuhannya sama, Rasulnya tidak berbeda, dan kitabnya juga Al-Qur’an. Saya hanya geleng-geleng kepala dan merasa sedih melihat kondisi umat islam sekarang ini.

Peristiwa III,

Kejadian yang ketiga ini juga hampir sama namun beda sebabnya. Suatu saat ada salah seorang ustadz bercerita kepada saya. Mungkin karena kegelisahan dan kegundahan hati beliau selama ini. Terlihat jelas dari raut wajahnya ketika bercerita.

Tersebutlah salah seorang yang kaya raya di suatu daerah X. Mungkin sebagai tanda terima kasih kepada Allah SWT atas rejeki yang dilimpahkan kepadanya maka dia mendirikan sebuah masjid. Namun anehnya masjid tersebut hanya boleh digunakan dan diperbolehkan untuk berdakwah harus seijin darinya. Anehnya lagi banyak dari masyarakat sekitar yang ingin mengunakan masjid tersebut untuk berdakwah namun ditolak dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal.

Selidik punya selidik, ternyata pendiri dan pemilik masjid tersebut adalah pengikut dari aliran dan golongan islam Y. Maka apabila ada ustadz yang ingin berdakwah, sementara dia bukan dari aliran dan golongan islam Y pasti ditolaknya.

***

Sebagai seorang muslim, tentu saja saya sedih melihat berbagai peristiwa yang saya alami dan dengar tersebut. Bukankah masjid di bangun berfungsi untuk kemashlahatan umat islam? Mengapa harus dibeda-bedakan? Sungguh sangat ironis, mengapa umat islam mudah terpecah belah dan tidak mengutamakan ukhuwah islamiyah. Mengapa mereka berbangga-bangga dengan golongan, aliran dan organisasi? Mengapa masalah ini sampai masuk dalam wilayah ibadah?

Betapa sedihnya Rasulullah SAW kalau melihat perkembangan umatnya saat ini. Adalah benar ketika Rasulullah SAW pernah bersabda: “Suatu saat umat islam akan berkembang dengan pesat, namun jumlah yang besar ini ibarat buih di lautan”. Ya...saat ini umat islam bertambah banyak, namun dari segi persatuan dan kesatuan sangatlah rapuh, karena mementingkan aliran, dan golongannya masing-masing. Masya Allah. Saya hanya terdiam teringat pesan Nabi SAW tersebut.

Mengapa umat islam yang mengaku beriman kepada Al-Qur’an selalu menganggap remeh peringatan Allah SWT? Tidak takutkah mereka dicap sebagai orang yang munafik? Kalau begini kondisinya, bagaimana kita menyikapinya? Apakah perlu kita tidak usah mendirikan shalat di masjid yang digunakan untuk memecah belah umat dan hanya untuk memuaskan ego masing-masing kelompok, aliran, golongan dan organisasi. Adakah ayat Allah SWT yang memberikan jalan keluar atas kondisi ini?

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Jumat, 28 Mei 2010

Dakwah Salah Kaprah (28)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Mengapa begitu penting dan mulianya masjid bagi syiar agama dan umat muslimin? Paling tidak ada tiga hal :

Pertama, sebagai tempat shalat berjamaah. Dengan shalat tidak saja melakukan ibadah mahdloh, tetapi juga memupuk rasa persaudaraan dan persatuan umat, karena orang-orang yang bersama-sama mendirikan shalat akan merasakan ikatan batin yang menyatukan rasa dan kepribadian mereka.

Dengan demikian shalat berjamaah merupakan alat perekat hubungan sosial di tengah-tengah umat dan dapat digunakan untuk membangun serta menggalang rasa persaudaraan yang kuat dan berbuat untuk kesejahteraan bersama. Melalui shalat berjamaah pula, akan tercipta rasa persatuan, rasa persamaan derajat manusia, terciptanya kekuatan yang utuh dan dapat menopang rasa solidaritas yang tinggi. Dari kaitan ini maka Rasulullah SAW pernah bersabda:”Orang yang menghadap kiblat kami, shalat bersama kami, memakan sembelihan kami adalah muslim, antara seorang muslim dengan muslim lainnya saling memilki” (HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud, dan at-Tirmizi dari Anas bin Malik).

Shalat berjamaah juga mempunyai dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulllah SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an,

QS. An-Nisaa’ 4 :102,
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat, lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu”.

Meskipun ayat ini mengandung perintah untuk melaksanakan shalat berjamaah dalam keadaan takut di medan perang. Namun dalam kondisi seperti itu saja Allah SWT memerintahkan shalat berjamaah, apalagi dalam kondisi aman (tidak ada perang). Logika ini dalam usul fiqih disebut dengan qiyas ula (kias yang lebih utama). Lebih lanjut kalau kita memakai bahasa logika, kalaulah shalat jamaah tidak disyariatkan, tentu saja di waktu perang juga tidak di syariatkan.

Di ayat lain perintah shalat berjamaah diperjelas oleh Allah SWT, yaitu pada surat Al-Baqarah.

QS. Al-Baqarah 2 : 43,
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”

Kedua, Sebagai tempat berdakwah, membaca dan mengkaji Al-Quran. Masjid adalah “rumah” umat islam. Siapa saja yang beragama muslim berhak dan boleh menggunakan untuk syiar tanpa memandang latar belakang dan asal usul. Karena pada hakekatnya setiap muslim itu saudara, yang diikat dalam kesamaan iman. Masjid juga sebagai wadah bertemunya (silaturahmi) antar umat muslim, untuk mengenal satu dengan lain dan tempat mediasi menjalin ukhuwah islamiyah.

Ketiga, Aktivitas sosial dan kesejahteraan umat. Fungsi lain dari masjid ialah sebagai tempat untuk kegiatan sosial seperti pembagian zakat fitrah, pembagian hewan qurban dan peringatan hari-hari besar umat islam.

***

Lalu bagaimana dengan fungsi masjid dijaman sekarang ini? Apakah kegunaannya masih sama ketika jaman Rasulullah SAW? Secara garis besar dapat dikatakan sama yaitu sebagai tempat ibadah shalat, berdakwah, dan kegiatan sosial. Namun disisi lain ada beberapa masjid yang sedikit berubah fungsinya. Sedikit berbelok arah. Tidak melayani umat dengan baik.

Kalau kita perhatikan selintas dari luar memang tidak ada perbedaaan fungsinya, namun apa yang kita lihat dari luar belum tentu sama isi dalamnya. Kok bisa? Mari kita bedah beberapa contoh peristiwa yang saya sendiri pernah mengalami atau mungkin juga anda pernah menemui.

Peristiwa I,

Suatu hari ketika saya bepergian keluar kota di sebelah selatan Jawa Tengah dan akan menunaikan ibadah shalat Jum’at, saya dikejutkan oleh peristiwa yang hingga saat ini tidak pernah saya lupakan.

Kebetulan siang itu jam menunjukan pukul 12.00 WIB, karena waktu sudah mepet maka saya mengusulkan kepada teman-teman untuk berhenti sejenak menunaikan shalat Jum’at. Tidak ada pilihan lain, kami harus berhenti pada saat menemukan masjid yang terlihat pertama kali. Syukur Alhamdulillah, akhirnya kami menemukan masjid tersebut.

Tanpa memperhatikan kondisi sekeliling dan tanpa pikir panjang kami bertiga segera mengambil air wudhu dan masuk ke dalam masjid. Saat itu khotib masih memberikan khotbah. Disinilah awal kejadian aneh bermula.

Ketika mengambil duduk sambil mendengarkan khotbah, jamaah di sekeliling memperhatikan kedatangan kami. Saya sempat memperhatikan dan beradu pandang. Sorot mata mereka menunjukan tanda curiga. Namun kami tidak mempedulikannya.

Setelah khotbah selesai dan dilanjutkan dengan shalat Jum’at berjamaah, kami masing-masing berdzikir sebentar. Namun ketika akan beranjak meninggal masjid, kami masih menemui hal yang sama seperti saat memasukinya. Para jamaah memandang dan mengamati tingkah laku kami. Seolah-olah manusia yang salah dan patut dicurigai. Sungguh mengherankan tingkah laku mereka.

Di lain waktu, kejadian tersebut saya ceritakan kepada salah seorang ustadz dan betapa terkejutnya saya atas jawaban yang diberikan.

Ternyata masjid itu khusus diperuntukkan dan hanya digunakan oleh aliran islam A (demi kerahasiaan dan etika sengaja tidak saya sebutkan). Bagi jamaah yang bukan anggotanya maka mereka beranggapan bahwa saya umat muslim yang berada di luar kelompok mereka. Seperti bukan saudara seiman. Astaghfirullah! Saya kaget dan kurang mengerti jalan pikiran mereka. Apa hak mereka mengadili kami seperti itu?

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih

Kamis, 27 Mei 2010

Dakwah Salah Kaprah (27)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

(8) INI MASJID KAMI!

Pernah suatu kali saya mencoba mengkalkulasi jumlah masjid dan mushola di Jawa, terutama di Propinsi Jawa Tengah. “Keisengan” ini muncul dalam pikiran berawal ketika saya sering bepergian dari satu kabupaten ke kabupaten lain di Jawa Tengah karena tugas kantor dahulu. Hampir di setiap pinggir jalan raya yang saya lalui, banyak ditemui dan berdiri bangunan masjid dengan jarak antara satu dengan yang lainnya tidak saling berjauhan. Ini belum termasuk yang tidak terlihat secara fisik, karena terletak di dalam perkampungan. Sungguh sangat fantastis cara umat islam mencintai agamanya.

Bagi orang seperti saya yang sering bepergian ke luar kota, kondisi ini secara tidak langsung memberikan keuntungan tersendiri. Kenapa? Karena tidak perlu bingung dan repot-repot lagi untuk mencari masjid ketika akan melaksanakan ibadah shalat dan atau sejenak mengistirahatkan badan.

Mungkin kalau kita mau berandai-andai, ada pihak yang mensponsori rekor jumlah tempat ibadah terbanyak untuk dimasukan dan dicatat didalam guinessbook of record, mungkin Indonesia akan menduduki peringkat pertama dalam memiliki masjid dan mushola (tempat ibadah), atau paling tidak minimal peringkat dua-lah setelah salah satu negara di Timur Tengah.

Banyaknya tempat ibadah ini menunjukan semangat beragama dan sebagai salah satu tolok ukur upaya umat islam di Indonesia dalam mengembangkan dan mengenalkan ajaran agama islam. Bahkan jumlahnya akan terus bertambah, karena setiap tahun pasti ada yang membangun.

Namun maksud baik ini kadang ditanggapi umat islam sendiri dengan cara yang kurang simpatik dan sedikit sinis. Kurangnya dana dan donatur menyebabkan mereka mengharuskan meminta sumbangan dari rumah ke rumah atau di tengah-tengah jalan dengan cara memberhentikan kendaraan yang lewat. Meskipun cara ini kadang kurang mendapat simpatik namun bagi saya upaya ini patut dihargai.

Saya sendiri sebenarnya tidak memandang cara itu kurang simpatik dan elegan. Berbaik sangka-lah karena siapa tahu melalui mereka-lah Allah SWT mengingatkan kepada umat islam akan perlunya amal jariyah, shadaqah atau infaq. Tanpa melalui “tangan” mereka, mungkin kita sendiri lupa bahwa ada hak bagi orang lain dalam harta yang kita miliki.

Kalau kita mau menengok sebentar ke belakang, banyaknya masjid yang berdiri saat ini tidak saja atas peran umat islam secara swadaya. Pada era pemerintahan Presiden Soeharto (terlepas dari kekurangan dan kelebihannya) banyak juga sumbangan untuk pemugaran, renovasi dan mendirikan masjid baru melalui bantuan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila.

Sungguh bangga rasanya sebagai seorang muslim melihat dan menemui sekian banyak masjid yang didirikan. Tidak hanya dari segi jumlahnya saja, tetapi kebanggaan juga muncul karena masjid tersebut dibangun dengan memperhatikan segi estetika. Ada yang meniru desain dari Timur Tengah, ada juga yang menggabungkan beberapa ciri budaya lokal dan etnis tertentu atau pun yang hanya berbentuk standar-standar saja namun tetap kokoh, arstistik dan representaif sebagai tempat ibadah. Inilah salah satu tanda cinta umat islam untuk syiar agama sekaligus memuliakan tempat ibadah.

***

Salah satu tanda cinta Rasulullah SAW terhadap islam juga diwujudkan dengan membangun masjid pertama kali di madinah, setelah tidak berapa lama beliau hijrah.

Dengan membeli sebidang tanah yang sebelumnya digunakan oleh dua orang anak yatim (kaum anshar) untuk menjemur buah kurma, didirikanlah masjid di atas lahan tersebut. Meskipun sebelumnya kedua anak yatim ini bermaksud menghibahkan tanah tersebut, namun ditolak Rasulullah SAW.

Dalam pembangunan masjid tersebut, Rasulullah SAW turun tangan langsung dan bergotong royong dengan kaum muslimin (Anshar dan Muhajirin) seraya berdo’a :”Ya Allah, imbalan terbaik adalah imbalan akhirat, limpahkanlah rahmat-Mu kepada kaum Anshar dan Muhajirin!”. Do’a ini juga ditirukan dan dilafalkan oleh kaum muslimin selama pembangunan masjid itu berlangsung.

Dulu bentuk masjid yang didirikan Rasulullah SAW di madinah sangatlah sederhana, hanya berbentuk segi empat dan temboknya terbuat dari adukan tanah liat dan pasir. Separuh atapnya hanya ditutup dengan daun kurma dan sebagian lagi dibiarkan terbuka. Pada malam hari sebagai penerangan menggunakan jerami yang dibakar untuk sekedar menerangi masjid ketika akan menunaikan ibadah shalat Isya’. Di masjid yang sederhana ini, umat muslimin bershalat jamaah tanpa membedakan kaum muhajirin atau anshar. Disamping itu, masjid tersebut juga digunakan Rasulullah SAW untuk berdakwah/syiar, menyusun strategi perang dan berdiskusi membicarakan sesuatu hal demi kepentingan, kemajuan dan kesejahteraan umat islam.

Sementara di sekitar masjid tersebut, dibangun beberapa bilik tempat kediaman Rasulullah SAW. Bilik itu pun beliau tempati setelah hampir tujuh bulan beliau tinggal di rumah Ayyub Al-Anshariy (kaum anshar).

Pada salah satu sisi masjid lain dibangun pula tempat khusus untuk menampung fakir miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal. Kondisi ini menunjukan betapa Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-harinya hidup secara sederhana, lebih memperhatikan umat dan mendahulukan kepentingan agama daripada kepentingan pribadi.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Selasa, 25 Mei 2010

Dakwah Salah Kaprah (26)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pertanyaannya adalah kalau para penyampai dakwah merasa telah mendapat dan menguasai ilmu agama hanya berdasarkan persangkaannya, sementara Allah SWT belum memahamkan dan menjelaskan kepadanya, mampukah mereka memberikan pencerahan kepada umat? Kalau Nurullah (cahaya Allah) tidak ada, dapatkah syiarnya menyinari jamaahnya? Tidakkah sudah terlihat secara kasat mata, bukan ukhuwah islamiyah yang di dapat tetapi justru perpecahan dan berbangga atas golongannya yang terjadi? Tidaklah mungkin terjadi perpecahan apabila para ustadz memperoleh pemahaman tentang Al-Qur’an dari sumber yang sama yaitu Allah SWT. Lalu mengapa perpecahan terjadi?

Padahal Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, pelita hati dan peringatan kepada umat manusia selama menempuh perjalanan di dunia ini agar selamat sampai tujuan di akhirat kelak. Tetapi manusia malah lebih suka memilih selalu berbantahan serta tidak meyakini, mengikuti dan memahami petunjuk ayat-ayat Allah SWT.

QS. Al-Kahfi 18 : 54,
”Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”.

QS. Al-Isra’ 17 : 89,
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya)”.

QS. An-Nahl 16 : 104-105,
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, maka Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka dan untuk mereka siksaan yang pedih. Hanya yang mengadakan dusta, ialah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang yang dusta”.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah mungkin umat islam dapat bersatu dan tidak terpecah belah? Jawabanya adalah mungkin bila Allah menghendaki dan kita betul-betul mengikuti petunjuk-Nya dalam Al-Qur’an. Bila setiap umat islam mendapatkan cahaya iman dari Allah SWT, Insya Allah pemahaman tentang agama islam akan sama, holistik dan utuh sehingga tidak akan terpecah belah. Tidak memandang itu nabi/rasul, wali, ulama maupun umat semua sama. Hanya derajatnya saja yang berbeda. Coba perhatikan dan cermati ayat dibawah ini,

QS. Al-Baqarah 2 : 136-137,
“Katakanlah (hai orang-orang mukmin) : Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Renungan :

Banyak dari umat islam yang diam-diam berbangga dengan keterpecah-belahan. Mengaku dan merasa paling benar dengan cara mengangkat tinggi-tinggi identitas kelompoknya. Padahal mereka belum mendapat pengetahuan sedikit pun, karena kebenaran ilmu agama (Al-Qur;an) itu datangnya dari Allah SWT. La ‘ilma lana illa ma ‘allamtana, manusia tidak punya ilmu kalau Allah SWT tidak berkenan mengajarkannya.

Kalau satu golongan mengaku bahwa merekalah yang paling benar, mengapa golongan lain juga mengakui hal yang sama? Kalau mereka mengaku bahwa Allah-lah sumber dari segala sumber ilmu tentang islam mengapa pemahaman yang didapat bisa berbeda? Seharusnya pemahaman tersebut tentulah harus sama.

Kalau mereka mengaku berpedoman pada Al-Qur’an, mengapa justru banyak ayat-ayatnya sering dilanggar? Jangan-jangan mereka hanya menuruti dan berpedoman pada hawa nafsunya (kepentingan pribadi/kelompok) saja?

Saya sejenak mengajak kepada sidang pembaca yang budiman, agar merenung dan bertafakur atas beberapa pertanyaan yang saya ajukan diatas.

Cobalah luangkan waktu untuk merenungkan!

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih

Sabtu, 22 Mei 2010

Dakwah Salah Kaprah (25)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Banyak dari pimpinan aliran, kelompok dan golongan islam yang merasa bahwa mereka telah pandai dan mumpuni, karena merasa telah menguasai ilmu agama, sehingga mengaku bahwa aliran, kelompok dan golongannya yang paling benar. Dapat anda bayangkan kalau hal ini yang terjadi, maka perpecahanlah yang akan timbul. Padahal tidak-lah demikian. Ilmu pengetahuan agama, yang menerangkan dan menjelaskan adalah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih. Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT, maka Dia-lah yang menjelaskan.

QS. Ar-Ruum 30 : 29,
“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah?. Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun”.

QS. Al-An’aam 6 : 116,
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanya berdusta (terhadap Allah)”.

QS. Al-Israa’ 17 : 36,
“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”.

Ilmu dari Allah SWT bukanlah hasil olah pikir manusia, karena kebenaran ilmu ini letaknya di hati. Otak tidak mampu menjangkau, namun hatilah yang mampu. Oleh karena itu, Alqur'an adalah pelita hati, bukan pelita pikir (otak).

Al-Qur'an juga sebagai rahmat bagi alam semesta, artinya mampu "berbicara" di setiap jaman. Meskipun secara redaksional ayat Al-Qur’an itu sama dan tidak berubah, namun pemahaman akan berbeda antara apa yang diajarkan manusia dengan yang diajarkan oleh Allah SWT. Itulah mengapa Al-Qur’an tidak akan usang ditelan jaman dan selalu mampu memberikan solusi ditiap-tiap masa sampai hari kiamat kelak.

Hanya Allah-lah yang menurunkan pemahaman dan kebenaran melalui hati manusia, sebagaimana yang dialami para utusan-Nya dan orang yang dipilih-Nya. Allah-lah Sang Maha Guru (Al-Alim), yang memahamkan dan menjelaskan ayat-ayat-Nya.

QS. Al-An’aam 6 : 126,
”Dan inilah jalan Tuhanmu (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran”

QS. An-Nisaa’ 4 : 58,
”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah sebaik-baik mengajar kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Melihat”.

QS. Yunus 10 : 57,
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

QS. Al-Hajj 22 : 54,
“Agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasannya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”.

Bahkan juga Allah SWT memperingatkan kepada manusia, apabila mereka tidak mau belajar dan berguru kepada-Nya dan hanya mengikuti hawa nafsunya maka syaitan-lah yang menjadi pemimpinnya untuk menyesatkan dari jalan Allah, SWT.

QS. Az-Zukhruf 43 : 36,
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.


QS. Al-A’raaf 7 : 179,
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka inilah orang-orang yang lalai”.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Jumat, 21 Mei 2010

Dakwah Salah Kaprah (24)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sebenarnya kalau umat islam mau sedikit meningkatkan kesadaran dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, seharusnya mereka takut akan peringatan Allah SWT seperti yang difirmankan dalam Al-Qur’an,

QS. Al-Mukminuun 23 : 52-54,
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka berpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu”.

QS. Al-An’aam 6 : 159,
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”.

QS. Asy-Syuura 42 : 13,
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”.

Lalu mengapa umat islam tidak mau menuruti peringatan Allah SWT tersebut, justru dari kita banyak yang membangkang dan membantah ayat-ayat-Nya? Kejadian ini sebenarnya sudah ditengarai oleh Allah SWT, dengan maksud supaya umat islam mawas diri.

QS. An-Nahl 16 : 4,
“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata”.

Faktor lain yang menyebabkan keterpurukan dan keterpecah-belahan umat islam adalah tingkat kesadaran dalam beragama yang rendah. Kebanyakan dari umat islam masih terbelenggu ego, diliputi hawa nafsu berbentuk kesombongan dan merasa yang paling benar. Padahal kebenaran adalah mutlak milik Allah SWT.

QS. Al-Baqarah 2 : 147,
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”.

QS. Al-Kahfi 18 : 29,
“Dan katakanlah :”Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Kamis, 20 Mei 2010

Dakwah Salah Kaprah (23)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sebenarnya kondisi tidak perlu dirisaukan kalau perbedaan ini hanya sebatas forum pengajian, karena keyakinan dengan apa yang dipercayai adalah hak masing-masing individu. Tetapi kenyataannya, semua berlanjut dan merembet pada saat mereka harus bekerja. Maka dapat dibayangkan keutuhan tim menjadi tidak solid dan pelayanan ke nasabah tidak maksimal. Karena antara satu person dengan person lain tidak saling membantu, tetapi justru saling menjatuhkan satu dengan lainnya, meskipun pekerjaan tersebut sebenarnya atas nama perusahaan dan profesionalisme. Kondisi inilah yang tidak membuat nyaman sahabat saya. Bahkan dia berencana mengundurkan diri, karena melihat budaya kerja di kantornya sudah tidak sehat lagi.

Contoh dalam skala kecil diatas~kalau kita mau jujur~paling tidak juga mewakili kondisi carut marutnya keterpecah-belahan umat islam di Indonesia. Namun permainan dalam skala nasional (kalangan elite) lebih cantik dan rapi, sehingga umat kadang tidak merasakan. Seolah-olah tidak adanya keterpecah-belahan antar umat islam.

Tapi kalau kita mau lihat dalam tataran empirisnya yang muncul di permukaaan dan tidak dapat dipungkiri lagi kenyataannya adalah pada saat terjadi perbedaan penentuan masuknya bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Indikasi perbedaan terlihat jelas, meskipun dengan mengatas-namakan agama.

Bukankah selama ini umat islam telah menyetujui, mengakui dan menyatakan bahwa umara (pemimpin dalam pemerintahan) sebagai mitra ulama. Sepatutnya mereka mau tunduk dan patuh dengan keputusan pemerintah dalam menentukan hari-hari besar agama. Keputusan pemerintah pun tidak asal-asalan, tetapi berdasarkan rekomendasi para ulama (kepemimpinan dalam ilmu agama) yang telah melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat, kajian yang mendalam baik berdasarkan ilmu agama maupun ilmu pengetahuan (teknologi). Tetapi kenyataannya, lain di bibir lain di hati. Para kelompok agama jalan sendiri-sendiri dan komitmen kepada keputusan umara dan ulama di buang jauh-jauh.

Kejadian sentimen kelompok seperti ini juga telah merambah pada wilayah syiar dan para juru dakwahnya. Seorang ustadz yang kebetulan dari organisasi agama X, tidak mau menjadi pembicara bagi jamaah yang latar belakang organisasinya Y. Atau sebaliknya, jamaah yang organisasinya Y, tidaklah mungkin mengundang ustadz dari organisasi X. Ironisnya lagi umat yang tidak tahu menahu urusan “politik agama” ini, ikut terbawa arus perpecahan.

Kondisi umat islam inilah yang telah diprediksi oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya, bahwa umat islam nantinya akan terpecah menjadi 73 golongan, namun hanya satu yang benar. Keterpecah-belahan ini disebabkan oleh ego masing-masing. Oleh karena itu sebelum Beliau wafat mewanti-wanti umat islam agar selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnahnya.

Meski telah berpesan demikian, Rasulullah SAW menyadari bahwa umat islam banyak yang bandel dan tidak mau mentaati pesannya. Sehingga keprihatinan dan rasa sayang kepada umatnya ini Beliau khawatirkan dan cemaskan ketika akan menghadap Sang Khaliq dengan menyebut,” Ya Allah...umati...umati!”. Sungguh peristiwa yang seharusnya diingat dan menjadi pembelajaran bagi umat islam. Namun mengapa kita tidak mau membaca tanda-tanda perpecahan umat dari Rasulullah SAW tersebut?

QS. At-Taubah 9 : 128,
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat serasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih