DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Jumat, 18 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (37)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kejadian tersebut, dalam skala lebih kecil juga pernah saya alami. Bahkan hingga saat ini masih berlangsung. Di kampung dimana saya dilahirkan, mayoritas masyarakat mempunyai kebiasaan membacakan tahlil, baik pada acara keagamaan maupun saat ada tetangga yang sedang ditimpa musibah kematian.

Diantara penduduk kampung, terdapat golongan minoritas yang memiliki keyakinan tidak perlunya pembacaan tahlil. Kami yang merasa golongan mayoritas menghargai dan menghormati perbedaan ini. Namun yang justru membuat kami terheran-heran adalah wilayah keyakinan ini dibawa sampai merembet pada tata kehidupan sosial kemasyarakatan. Kelompok minoritas menutup diri, tidak mau berkumpul (silaturahmi), bahkan untuk kegiatan warga seperti kerja bakti tidak pernah hadir. Bahkan mengunjungi tetangga sekedar saling bermaaf-maafan di hari raya Idul Fitri tidak dilakukan.

Saya secara pribadi tidak bisa menyalahkan 100% kepada tetangga tersebut, bahkan cenderung kasihan. Salah apa tetangga saya sehingga mendapat doktrin dari pimpinan kelompoknya yang memiliki cara berpikir sempit dan defensif. Sungguh sebuah doktrin yang tidak masuk akal, kalau harus sampai menutup diri dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Masya Allah!.

***

Ternyata, perseteruan secara diam-diam ini tidak hanya terjadi dalam ranah kehidupan sosial kemasyarakatan, namun juga telah menyentuh organisasi islam.

Ada cerita menarik ketika masa kuliah dulu. Kebetulan saya mempunyai seorang sahabat yang aktif dalam himpunan organisasi islam. Anggotanya rata-rata mahasiswa. Hingga suatu sore hari, dia bercerita kepada saya.

“Aneh ya cara umat islam berorganisasi?”

“Aneh bagaimana? Setahu saya yang namanya organisasi ya seperti pada umumnya. Mereka kumpulan orang yang memiliki misi, visi dan tujuan sama, menyuarakan kepentingan organisasi, berfungsi sebagai salah satu lembaga kontrol, dan semacamnya!” sergah saya.

“Benar sih. Tapi disinilah letak permasalahannya. Mengapa ketika saya mencoba ikut organisasi mahasiswa islam tersebut justru mendapat pertanyaan yang mengejutkan dan membuat saya tak habis pikir!”.

“Lho memangnya kamu ditanya apa?”

Sejenak dia terdiam. Kemudian melanjutkan ceritanya,“Sebagian ada anggota organisasi tersebut yang menanyakan tentang asal-usul atau latar belakang kelompok islam apa yang saya anut!”

“Maksudnya?”

“Ya begitulah. Ditanya perihal asal saya dari islam X, Y atau Z?”

“Terus kamu jawab apa?”

“Ya aku kembalikan saja pertanyaannya. Memang ada islam X, Y atau Z? Islam ya cuma satu. Tidak ada dikotomi, kotak-kotak dan sekat-sekat!, kalaupun ada sih itu hasil dari rekayasa manusianya. Memangnya ada waktu jaman Rasulullah SAW yang bernama islam X, Y atau Z?”

Sambil diiringi senyuman kemudian dia meneruskan ceritanya dan mencoba bertanya kepada saya,’’ Kamu tahu yang selanjutnya terjadi? Mendengar argumen tadi, si penanya malah bingung sendiri dan pergi meninggalkan aku sendiri!”

Saya pun ikut tersenyum, mendengar jawaban pragmatis sahabat saya yang langsung meng-KO si-penanya.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar