DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Senin, 14 Juni 2010

Sang Mantan (3)


Sang Mantan (3)

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Disisi lain manusia diperingatkan Allah SWT agar jangan suka mencela dan mengumpat, “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela” (QS. Al-Humazah 104:1) apa-apa yang terjadi dengan seseorang pada saat ini, karena biasanya kita cenderung menilai dengan standarisasi subyektivitas diri sendiri. Orang pengumpat dan pencela adalah manusia celaka. Namun seringkali manusia terjebak dengan perilaku membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Bisa pula terjadi mencela perilaku orang lain dan menganggap diri sendiri paling baik atau benar. Perilaku demikian sangatlah vital akibatnya. Lebih baik membenarkan orang lain dan menyalahkan diri sendiri. Hal ini akan menjadikan kita selalu mawas diri, bahan evaluasi, mengoreksi kekurangan yang ada dan tidak menyakiti perasaan orang lain.

Banyak contoh di sekitar kita baik dalam skala lokal, nasional, regional dan internasional bahwa penilaian subyektif kepada seseorang akan vital akibatnya (celaka). Ambil contoh di Indonesia: ada mantan preman (napi) yang sekarang telah menempuh jalan kebenaran dan bahkan telah menjadi seorang penceramah (terlepas dari kadar seberapa dalam mereka mampu menyelami ilmu agama).

Contoh lain adalah beberapa artis/penyanyi yang meninggalkan gemerlap duniawi yang identik dengan hura-hura tanpa tujuan yang pasti (kesenangan temporer). Ternyata apa yang dilakukan tidak mampu menghilangkan kehausan dan ketenangan rohaninya. Dengan kesadarannya akhirnya mereka memilih mencari kenikmatan yang sifatnya kekal abadi, yaitu masuk dalam wilayah Ketuhanan. Semua itu terjadi berkat karunia, rahmat dan hidayah Allah SWT, mereka telah kembali ke jalan yang di ridhoi-Nya. Apa jadinya kalau dulu kita sering mencemooh mereka dan ternyata apa yang dulu kita nilai ternyata berbeda kondisinya dengan saat ini? Bukankah kita termasuk orang yang celaka?

Mungkin bagi sebagian dari kita pada waktu itu (dulu) menilai saudara-saudara kita tersebut sebagai manusia tercela dan meresahkan masyarakat sehingga waktu itu kita gampang melemparkan stigma, umpatan dan celaan kepada perilaku mereka. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Ternyata kita tertipu dengan apa yang terjadi kemudian. Sungguh kita yang bodoh dan lemah karena tidak akan mampu menerka kehendak Allah SWT.

Contoh yang lebih real adalah beberapa sahabat saya yang tergabung dalam pengajian. Dulu beberapa sahabat saya ada yang jauh dari dan mengenal Allah SWT. Namun Allah SWT berkehendak lain, dengan nurhidayah-Nya sekarang mereka dituntun dan sadar menempuh jalan-Nya serta khusyu’ tenggelam dalam buaian lautan cinta-Nya.

QS. Al-Anaam 6 : 122,
“Dan apakah orang yang sudah mati (tersesat) kemudian Kami hidupkan (mendapat hidayah) dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”.

Sebaliknya, kita kadang gampang mengagung-agungkan predikat perilaku baik yang disandang seseorang pada saat tertentu karena gelar yang dia sandang dan ditunjukan perilakunya yang baik. Namun seringkali pula pada suatu saat kita dikejutkan dengan perilakunya yang berbuat kedzaliman. Jadi untuk kali kedua kita tertipu.

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan bila menemui seseorang yang tingkah lakunya kurang berkenan, baik dipandang dari sisi kita (subyektivitas), norma masyarakat atau hukum agama? Jadilah dan tempatkanlah posisi anda sebagai seorang pemerhati, jangan menjadi komentator (pencela, pengumpat, dll). Alangkah baiknya kita terus menerus mengoreksi, dan mengevaluasi kekurangan diri kita masing-masing daripada mengintip kekurangan orang lain dengan mencela dan mengumpat, seperti saat ini yang ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia mengenai adegan kurang mendidik beberapa "artis" papan atas di Indonesia. Toh sudah ada institusi yang menangani.

Bagaimana menurut anda?

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar