DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Senin, 07 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (33)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hati atau qolbu (bukan dalam artian fisik) adalah ruang atau wilayah privacy antara seorang hamba dengan Khaliq-nya. Hanya manusia dan Tuhan yang tahu, ini berarti seorang harus mengalami dalam berspiritual, tidak sebatas kata-kata atau teori. Allah SWT mengetahui yang nyata dan ghaib, termasuk isi hati setiap manusia.

QS. Al-An’aam 6 : 73,
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya diwaktu Dia mengatakan: Jadilah, maka terjadilah, dan ditangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala di tiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Mengetahui”.

Apa yang dialami ustadz X adalah sebuah pelajaran berharga bagi dirinya. Hal ini tidak terlepas dari kekhilafannya. Keahlian dan ketrampilannya mengumpulkan jamaah disetiap pengajian ternyata disalahgunakan untuk memuaskan kepentingan nafsunya (yang terdapat di dalam hati manusia). Dakwahnya dijadikan “kuda tunggangan” untuk meraih posisi anggota dewan.

QS. Al-Anfaal 8 : 24,
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi manusia dan hatinya (yaitu nafsu) dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan”.

Saya secara pribadi lebih berpikir positif tentang peristiwa itu. Mungkin misi dan tujuan sang ustadz baik, yaitu memilih jalur formal untuk membangun daerah dan menyejahterakan rakyat. Namun tidak demikian dari sudut pandang masyarakat. Mungkin sudah banyak yang dikecewakan selama ini atas kinerja lembaga legislatif.

Walaupun anggota dewan idealnya mewakili aspirasi dan kepentingan rakyat, namun ternyata dalam realisasinya, seringkali banyak yang membawa aspirasi dan kepentingan parpol dimana dia bernaung. Massa hanya dijadikan sapi perahan untuk legitimasi kepentingan pribadi dan parpol.

Sebenarnya saat itu masyarakat tidak menyangka kalau ustadz X mau menerima pinangan parpol dan berharap tetap bersikukuh berdiri diatas kepentingan umat. Namun harapan tersebut pupus, sehingga kekecewaan umat ditunjukan dalam bilik pemungutan suara.

Kalau pun benar bahwa sang ustadz menjadikan dakwah sebagai kuda tunggangan, maka apa yang menjadi tujuan berdakwah ustadz X selama ini, dengan apa yang diinginkan jamaahnya sangat berbeda jauh. Seperti peribahasa yang saya sebutkan diatas tadi, “Dalamnya lautan masih bisa diukur, dalamnya hati siapa tahu”.

Mungkin Allah SWT sedang menegur sang ustadz melalui peristiwa tersebut, karena Allah SWT sebenarnya masih sayang kepadanya. Dengan kejadian ini dapat diambil hikmahnya. Hati sang ustadz yang dulu sempat khilaf karena diisi oleh ambisi dan kepentingan duniawi, dipaksa Allah SWT agar dipenuhi dengan keikhlasan untuk syiar agama islam.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Jumat, 04 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (32)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ternyata ustadz tersebut salah memprediksikan perolehan suara dengan mengandalkan “loyalitas” jamaahnya. Beliau berasumsi, dengan banyaknya jamaah yang selalu hadir disetiap acara pengajiannya selama ini, minimal 75% akan memilih partainya. Namun asumsi tersebut meleset. Apa penyebabnya? Paling tidak ada 2 hal:

a.Parpol dimana sang ustadz bernaung adalah parpol baru yang di masa pemerintahan orde baru belum pernah ada. Mungkin para jamaah beranggapan, bahwa track record dari parpol tersebut belum kelihatan dan terbukti membela kepentingan rakyat. Sehingga untuk menjatuhkan pilihan kepada parpol tersebut dirasa amat berat. Ibarat membeli kucing dalam karung. Parpol tersebut tidak hanya semata-mata diisi oleh orang-orang yang memiliki kredibilitas seperti ustadz X, tetapi banyak anggota lainnya yang tidak dikenal masyarakat.

b.Banyaknya jamaah yang hadir dalam setiap pengajian bukanlah sebagai tolok ukur keberhasilan. Iman boleh sama tapi pilihan parpol boleh beda, adalah hak pribadi masing-masing individu.

Tidak terpilihnya ustadz X menjadi anggota legislatif berdampak pada pamor sang ustadz di masyarakat. Ibarat bulan tertutup awan, pamor ustadz X langsung turun drastis di masyarakat. Hanya beberapa jamaah yang pro masih menghadiri pengajiannya. Sementara yang kontra tidak mau hadir dalam pengajian-pengajian berikutnya. Justru yang terjadi, banyak jamaah yang kontra dan tidak respect cukup banyak terhadap pencalonannya sebagai anggota dewan.

Memang demikianlah kondisi masyarakat di Indonesia, terutama di daerah. Mereka kadang belum cukup dewasa untuk berdemokrasi dalam menerima perbedaaan. Satu perbedaan saja sudah cukup sebagai tolok ukur bahwa mereka berseberangan. Semua dipukul rata, tanpa mau memilah dan memilih.

Kondisi ini baru disadari oleh sang ustadz pasca pemilihan, sehingga hampir 8 tahun nama beliau seolah-olah hilang di telan bumi. Kharismanya langsung turun di mata jamaahnya, disebabkan hanya untuk memenuhi ambisi pribadi dan pemuasan egonya. Baru 2 tahun terakhir ini, kehadiran beliau mulai mendapat simpati dan mulai diterima masyarakat kembali setelah beliau menyatakan keluar dari parpol tersebut.

***

Dalamnya lautan masih bisa diukur, dalamnya hati siapa tahu. Demikianlah bunyi peribahasa yang sering kita dengar dan hafalkan ketika duduk belajar di bangku Sekolah Dasar. Sederet kata yang memiliki makna dan filosofi tinggi. Seberapa pun dalam lautan atau samudera, dengan peralatan atau teknologi cangkih yang dimiliki manusia sekarang ini maka kedalamannya dapat diukur. Berbeda dengan suasana hati seseorang, betapa pun cangkihnya peralatan atau teknologi, manusia tidak mampu bahkan tidak akan pernah dapat mengukurnya.

Manusia dengan perangkat tubuh yang dimilikinya hampir semua dapat diukur. Detak jantung dapat dihitung, tarikan nafas per menitnya dapat dikalkulasi, kebohongan disiasati dengan peralatan lie detector, kemampuan dan kapasitas otak dapat ditest melalui psikotest untuk menentukan tingkat Intelegence Quotient (IQ), kondisi emosional seseorang dapat dibaca sebelum emosi itu muncul dan bagaimana cara meredamnya melalui metode Emotional Quotient/EQ. Hanya hatilah yang tidak mampu ditebak meskipun manusia berusaha mencoba mendeteksi melalui perangkat Spiritual Quotient (SQ). Karena ruang ini adalah rahasia Illahi.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Kamis, 03 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (31)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

(9)
DAKWAH SEBAGAI “KUDA TUNGGANGAN”

Suatu sore, kira-kira 10 tahun (1998) yang lalu, saya bersama teman-teman berkumpul di beranda rumah. Dari pertemuan yang tidak terencana tersebut, kami semula hanya membicarakan hal-hal ringan, kemudian berbelok arah memperbincangkan peristiwa yang lebih serius tentang kejadian yang baru saja dialami bangsa ini pada saat itu, yaitu euforia demokrasi di Indonesia yang baru saja lahir.

Diskusi kecil-kecilan ini masih tertanam dalam ingatan saya karena disebabkan oleh 3 hal:

Pertama, runtuhnya kekuasaan orde baru pasca peristiwa Mei 1998, setelah berkuasa hampir 32 tahun lamanya.

Kedua, Terbukanya kran demokrasi. Pada masa orde baru demokrasi masih berjalan di tempat. Salah satunya hal ini dapat dilihat dari beberapa media cetak yang dicabut ijin penerbitannya, karena terlalu lantang mengkritisi pemerintahan saat itu. Jadi hak berbicara dan berpendapat dibungkam. Layak tidaknya berita ditentukan oleh pemerintah. Sementara pasca peristiwa Mei 1998, diharapkan demokrasi dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat, yang berarti pula pemberangusan hak berbicara dan bebas berpendapat mendapat angin segar. Meskipun semua ini tetap dibatasi dalam koridor hukum dan etika.

Ketiga, Gegap gempitanya para reformer untuk mendirikan partai baru. Bahkan kalau tidak salah saat itu (tahun 1999) partai yang berhak ikut pemilu hampir mencapai 30-an.

Peristiwa lahirnya demokrasi yang terjadi dalam skala nasional, mau tidak mau juga berimbas ke daerah, khususnya mengenai pendirian cabang parpol baru. Ada peristiwa yang menarik berkenaan ramainya pendirian partai baru dan maraknya pencalonan anggota legislatif di daerah saya.

Tersebutlah seorang ustadz pada saat itu yang ikut mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Adalah hak setiap warga negara untuk memilih dan dipilih sebagai anggota dewan tanpa melihat latar belakang profesi. Asalkan memenuhi syarat.

Peristiwa ini saya angkat karena ada hikmah dan pelajaran berharga dari pencalonan sang ustadz tersebut.

Sebut saja namanya ustadz X. Beliau adalah salah satu pendakwah karismatik di daerah saya, dicintai umat, dan saat memberikan ceramah selalu dipadati oleh jamaah. Tutur bahasanya lembut, mudah dipahami, pandai mempermainkan emosi jamaah dan penguasaan materi yang mumpuni adalah sebagai modal beliau ketika bersyiar.

Dengan track record inilah menjadikan daya tarik bagi parpol-parpol saat itu untuk merekrutnya sebagai anggota partai, mengingat sang ustadz memiliki massa (jamaah) yang cukup banyak.

Tidak berapa lama kemudian, rayuan parpol pun dilancarkan kepada sang ustadz, dan ternyata gayung bersambut. Dengan iming-iming kedudukan strategis di partai dan memasang nomer urut jadi pada pencalonan legislatif, maka sang ustadz menyetujui masuk menjadi anggota parpol tersebut dan bersedia menjadi juru kampanye.

Berita ini kemudian cepat tersebar di masyarakat. Ada yang pro dan kontra. Namun pelajaran yang berharga diperoleh saat pemilihan calon legislatif dan hasil dari perhitungan suara yang diluar dugaan. Ternyata sang ustadz tersebut tidak terpilih menjadi anggota dewan dan parpolnya pun tidak masuk 10 besar. Apa gerangan yang terjadi?

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih

Rabu, 02 Juni 2010

ISRAEL DAN ABABIL


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Berkenaan dengan serangan tentara Israel terhadap kapal pengangkut sukarelawan bantuan kemanusiaan di jalur gaza dan rasa keprihatinan saya maka ijinkan saya untuk kali ini akan menampilkan artikel yang ditulis oleh sahabat saya Dody Ide. Semoga bermanfaat bagi para pembaca budiman.

ISRAEL DAN ABABIL
sekedar sharing catatan lama yang hanya bersifat be'e lho yo....

Cerita surat Al fiil selalu kita sangka hanya sebuah sejarah. Padahal langkah gajah - gajah itu masih berderap -derap menggegerkan. Binatang itu telah berubah wujud menjadi sebuah mesin kecongkakan yang mengguncangkan pusat ketauhidan manusia, Ka'batullah. Rumah Allah ini dari jaman dulu memang banyak disangka akan roboh, hancur, bangkrut dan ternafikan oleh serombongan pasukan besar entah itu berupa arus filsafat, pemikiran, opini kepenyairan, media informasi, iptek atau varian ilmu baru yang akan terjadi di waktu akan datang.

Sejengkal langkah gajah sudah mampu membuat dag -dig-dug pemukiman yang akan dilewatinya. Hentakan pijakan kakinya sangat terasa walaupun kita berdiri ribuan kilometer jauhnya. Kaki yang menghunjam bumi hanyalah sebuah tamsil bahwa kekuatan utama adalah perolehan alam materi, khususnya bumi. Setiap gebrakan langkahnya membuat segala alam materi yang bertumpu pada struktur ilmu ekonomi akan berguncang hebat dan sangat menakut-nakuti umat manusia.

Perutnya yang besar menjadi central data bank setiap aktivitas manusia yang mencintai dunia. Telah terfragmentasi dengan sempurna mana aktivitas manusia yang menjadi nutrisi ekonomi si gajah, mana yang hanya menjadi limbah. Tapi limbah bukan sembarang limbah. Benda buangan ini malah menjadi bidang bisnis baru. Cukup taruh di wilayah yang senang berebut kekuasaan, pasti para perebut tahta akan saling tuduh : " Ini kotoranmu ya ! " .

Ketika suasana panas saling tuduh, datanglah gajah menawarkan gading runcing sebagai alat pertahanan diri. Gading adalah perlambang persenjataan modern dengan segala keelitan tehnologi militer beserta strategi ilmiahnya. Strategi yang mampu menghasut para pemuka dan pemikir agar terus melanjutkan tradisi berbantahan panas-panasan. Maka langgeng lah bisnis alat militer yang mengatasnamakan perdamaian dan pertahanan diri. Dan kenyataannya, dimanapun terjadi perang, merk dan type jenis alat perang ya itu - itu saja.

Telinganya yang lebar, mata yang besar, sekarang telah menjelma menjadi tehnologi satelit dunia. Jika program google earth saja sudah bisa mengintip orang mandi dari satelit, jelas, satelitnya pasukan gajah ini lebih canggih dari itu.

Kalaupun sekedar menangkap orang yang dianggap teroris kelas wahid sih sebenarnya sangat mudah. Sebab satelit pasukan gajah telah menggabungkan indera penglihatan, penciuman dan perabaan melalui sensor belalai mekanik yang mampu mengenali seseorang melalui pantulan common frekwensi, sonogram analyzer, bioritmik, chemistry aroma tubuh, pancaran spektrum retina mata, struktur DNA dan scanning 3 dimensi atas kecenderungan pola gerak mulai global tubuh sampai bagian terdetail seperti kebiasaan gerak mulut atau kerling mata.

Tapi kok ya yang dituduh itu nggak pernah ketangkap ya?

Inilah perang tingkat jenderal, tingkat ahli siasat. Tak hanya sekedar unjuk gigi kekuatan fisik dan hantam kromo main tangkap dan pukul walaupun sangat bisa. Tetapi sudah berpadu dengan kecerdasan strategi, pembentukan opini, memetic engineer, brain storming, dan kerapian mind mapping sampai pada tahap konsep self destroyer bagaimana agar sang musuh menghancurkan dirinya sendiri sebelum sang gajah melakukan apapun.

Uff...sebuah proses kesabaran luar biasa dalam bertindak demi memenuhi ambisi keserakahan penguasaan dunia ( hhmm...aneh atau hebat ? )

***

Lalu bagaimana kita bisa menang hanya dengan ngotot mengandalkan jihad fisik yang tak lebih dari tulang dan daging ini ? padahal sang gajah telah ber evolusi-bermetamorfosa berkali-kali menjadi bentuk -bentuk baru yang telah melewati kadar ukuran fisik.

Ataukah kita melawan dengan ilmu dan filosofi gajah itu sendiri ? Pertanyaannya, apakah kita bisa melebihi kebesaran pasukan gajah ? Mengingat bahwa plagiat tak pernah akan lebih baik dari yang asli. Paling banter mentok setingkat dibawahnya. Tak kan mampu sejajar.

Cara terbaik melawannya bukanlah dengan mengandalkan kemampuan diri kita seperti harta, keringat ataupun ilmu. Walaupun semua itu tetap harus dipenuhi sebagai sarana. Satu - satunya jalan akhir, seperti terjelaskan dalam surat Al Fiil, hanyalah pertolongan Allah semata.

Bagaimana bentuk pertolongan itu ? berbondong - bondonglah menjadi sang Ababil... berjamaah lah menjadi burung - burung perkasa yang suci itu...

Tapi siapkah kita menjadi burung - burung Ababil ? Burung yang secara maknawi adalah mahluk yang sedikit sekali berurusan dengan tanah alias sumber kenikmatan materi. Hidupnya lebih banyak hinggap pada pohon.

Ya, pohon sebagai perlambang kekuatan hidup, petikan nilai luhur, sistematika kebajikan, keteduhan, penyerap zat kotor dan penghasil zat suci. Hijau daunnya memaknakan semangat dan keberkahan. Akarnya mengajarkan sifat keteguhan. Batangnya mengajarkan kesejajaran derajat. Bunganya mengajarkan keindahan. Buahnya memberi rasa nyaman. Rantingnya mengajarkan jembatan hidup.

Porsi utama burung adalah udara yang meliputi alam frekwensi, rumusan gerak angin, zat etheric, zat hidup dan kelembutan partikel. Dan ini semua adalah jembatan langit.

Tapi sekali lagi, siapa yang mampu menjadi burung - burung pasukan Allah ini ? Burung yang mampu mencengkram panasnya peradaban batu dunia...

Orang yang mengambil sikap hidup puasa lah yang sanggup menjadi burung dan mampu mengalahkan pasukan gajah. Tarmiihim bihijaratin min sijjil adalah gambaran lemparan batu dari tanah yang terbakar. Lalu apakah tanah yang terbakar itu ? jelas itu adalah manusia. Bukankah manusia terbuat dari unsur tanah ? dan proses pembakaran adalah sebuah konsep puasa yang membakar kalori tubuh, menggerus kotoran usus menjadikan bentuk energi murni.

Ini manfaat puasa yang sangat basic. Manfaat bumi lapis pertama. Di wilayah ini akan terjadi proses body cleansing atau detoksifikasi. Proses yang menjadikan manusia lebih stabil secara fisik dan open mind. Manusia yang lamat-lamat mulai mampu menangkap ilham tersembunyi.

Ahh..tapi kira - kira siapa ya rombongan ababil yang sanggup melempari gajah dari atas dengan batu panas ini ? Pelemparan dari atas bermaknakan mempunyai ilmu yang lebih tinggi yang lepas dari pijakan bumi alias alam materi. Batu panas bermaknakan perubahan dan pemuaian materi padat menjadi bentuk energi dahsyat yang dihasilkan oleh tanah alias manusia itu sendiri, The Atom Man.

Kalau saya kayaknya nggak mungkin banget. lha wong orang seperti saya ini kalau lihat soto dan rawon masih ngiler rek ! Paling banter ya jadi manusia kacang atom. Manusia kacangan. Bukan manusia kesadaran atom. Tapi supaya ada sedikit pengharapan dan GR, kata nggak mungkin diganti dengan kata belum mungkin saja. Eeh siapa tau suatu saat bisa...he he...optimis dong ! wong kita ini muslim...

Pada tahap berikutnya, tahap orang berpuasa tidak sekedar urusan menahan masuknya makanan dan memindah jam kapan makanan masuk ke tubuh. Puasa para orang alim, puasa orang yang mengetahui seluk beluk hukum relativitas dunia. Dimana ia hanya mau mempelajari, mendekat dan bermukim di wilayah yang bukan relatif. Wilayah eksak, wilayah abadi, Allah. Sehingga bertemulah realitas hadits qudsi ; ""Bila Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya "

Maka terjadilah wilayah tak ada yang tak mungkin. Sebab ia adalah perantara Tuhan setelah rasul.

Tahap expert inilah tahap dimana manusia telah menjadi pewaris nabi, menjadi penyiar. Bukan penangkap siaran, bukan menjadi manusia yang terombang -ambing oleh megatrend kecanggihan aktifitas dunia. Manusia ini telah mempunyai kekuatan mengendalikan apapun bentuk siaran frekwensi dan partikel atom. Tingkat hacker frekwensi. Tingkat penggerak energi. Tingkat pengendali omongan atau suara. Tingkat mukimin cahaya tanpa warna. Tingkat penghulu ilmu. Tingkat sebuah rangkuman kekompleksan segala bentuk kecerdasan manusia tanpa terlalu banyak perantara dalam perwujudannya.

Kalau ciri utama kekuatan Israel adalah kecerdasan mengolah informasi melalui tumpangan frekwensi atau cahaya, maka begitu mudahnya bagi tingkat pengendali ini membelokkan cahaya , frekwensi, atau struktur partikel. Hanya dengan menggeser satu derajat sudut kemiringan satelit, kacaulah segala indera dan tranformasi data sang gajah. Di sinilah jihad fisik baru bisa dimulai dimana israel tanpa tehnologi akan sangat kecut. Face to face berhadap - hadapan sangat tidak diharapkan mereka. Sedangkan umat Islam malah kebalikannya, ingin segera mati syahid.

Hal ini seperti yang dicontohkan rasulullah. Beliau hijrah dulu ke Madinah membangun kekuatan yang tidak sekedar fisik. Segala ilmu dan sistem sosial beliau arahkan menjadi sebuah kesolidan Tauhid yang menggiring Ilmu dan kekuatan konstruksi kelengkapan unsur manusia sampai tahap mentok. Sehingga ketika beliau bersama para sahabat mudik menahlukkan Makkah, malah pasukan Quraisy yang terlihat gagah, rontok sebelum perang dimulai.

***

Inilah kenapa agama adalah penyempurnaan akhlak. Yang berarti sebuah nilai belajar, dynamic, bukan perebutan materi yang mensifati suasana statis. Segala bentuk aktifitas apapun mulai yang bersifat materi sampai ghaib klenis dipelajari, disempurnakan laku ilmunya, di islamkan, diberserahdirikan sampai tuntas. Kepada siapa ? Ya jelas kepada Maha Akhir, Maha Pamungkas, Allah.

Dan sebagai catatan, bukannya anti materi.Melainkan memahami bahwa dunia ( materi ) hanyalah la'ibun wa lahwun. main-main dan senda gurau belaka. Lalu bagaimana supaya kita bisa menjadikan dunia ini menjadi sebuah senda gurau. Tentu saja harus dengan menguasai sungguh-sungguh setiap keahlian yang dipasrahkan Allah kepada kita.

Logika sederhana, kalau orang nggak bisa nyetir mobil, ketika belajar lalu ada mobil menyalip, pasti gugup dan bisa-bisa mengumpat menganggap mobil tadi bikin gara -gara. Tapi bagi sang ahli tidak. Ia sudah terbiasa dengan pola berfikir global bahwa ya begini ini jalan raya. Ia sudah bisa memetakan apakah mobil tadi melanggar aturan lalu lintas atau terburu nafsu. Tak ada reaksi amarah dalam dirinya. Ia sudah mampu memprediksi bahwa orang yang melanggar rambu dan terburu nafsu ya tinggal nunggu waktu apes saja. Bahkan ia berfikir begitu dengan tetap tenang mengendarai sambil ngobrol bersenda gurau dengan penumpang sebelah. Karena dia pembalap yang sangat serius menekuni bidangnya. Dan ia bisa saja menyalip lagi mobil tadi kapanpun ia mau.

Kuncinya yang terpenting, mulai dari tahap belajar sampai expert bukan terhenti pada apa yang dipasrahkan, bukan pula pada kekhalifahan, melainkan berhenti kepada siapa yang memasrahi dan yang mengamanatkan kekhalifahan itu sendiri. Allah.

Materinya tetap, Allah juga tetap, permainannya dari jaman ke jaman tetap, model ilmunya saja yang berubah-ubah. Sekarang kita tinggal terhenti di materi, berhenti di Hadapan Wajah Allah dan berpuasa selain Allah atau macet ditengah-tengah perputaran ilmu yang selalu silih berganti berubah wujud dan metodenya. Monggo -monggo saja, nggak ada yang membantah, nggak ada yang melarang. Lha wong semuanya sangat jelas kok bagi yang memahami...

Sikap puasa terhadap selain Allah inilah dalam Al Fiil laksana ulat yang memakan daun. Sebuah semangat keduniaan beserta penguasaanya akan pupus sendiri oleh sebuah sikap kesederhanaan hidup. Qana'ah. Sederhana saja, seperti prinsip hukum ekonomi, supply and demand. Kalau nggak ada yang mau beli, orang jualan akan frustasi dan bangkrut dengan sendirinya.

Ealaah..tapi namanya orang kok ya nggak kurang akal. Maka terciptalah ilmu rayuan yang bernama marketing dan advertising. Ilmu yang intinya merubah sesuatu yang sebenarnya hanya sebuah keinginan kecil, menjadi suatu kebutuhan besar dan mutlak yang tak boleh dilewati....

***

Kesimpulannya, gajah adalah orang yang sangat mencintai dunia dengan segala kerepotan pembelaannya. Burung adalah mahluk merdeka yang dengan sesuka hati mencari makna hidup akhirat. Gajah hanya bisa memandang burung sekelebatan saja, tanpa bisa menyentuhnya. Sedangkan burung mampu melihat dengan cermat kemana gajah berlari. Ia bahkan bisa menyentuh atau menyiksanya. Tentu dengan batu panas yang siap ia terjunkan ke tubuh gajah.

Ada benarnya anekdot yang menanyakan kenapa gajah tidak punya sayap ? sebab bila punya sayap , ketika terbang dan hinggap diatas atap, pasti ambruk deh rumah kita. Terus apakah kita mau jadi gajah terbang atau total menjadi Ababil ? terserah monggo kerso....

Sudah terlalu banyak gajah terbang berkeliaran di negeri ini. Sudah banyak sekali rumah saudara sendiri yang ambruk akibat injakannya. Tak lain karena sebenarnya ingin jadi burung, tetapi tak bisa meninggalkan tabiat mengisi perut yang bikin berat tubuhnya. Naasnya isi perutnya ya tetep itu -itu saja. Kekuasaan, jaringan ekonomi, ashabiah, kasta modern yang berupa keheranan produk tehnologi dan berhala bendera yang kesemuanya mensifati langkah gajah. Hentakan penguatan penguasaan materi bumi.

Akhirnya kita tak pernah bisa mengusir penjajah dari tanah suci. Sebab kita sendiri masih begitu senang terjajah oleh kandungan - kandungan tanah yang kita anggap suci......masih senang menjadi gajah yang ingin terlihat hebat....

Ketakutan saya pribadi, jangan - jangan kita ini memang secara tak sadar malah melangkah mengkader diri menjadi pasukan gajah yang suatu saat siap menggugat rumah Allah....wallahua'lam

Wa ba'du, tulisan ini sekedar perenungan diri, jauh dari kemampuan ahli tafsir. Hanya sebuah pemetaan posisi diri di tengah lautan milyaran manusia. Belajar tahu diri kenapa saya sebagai bagian muslim kok selalu tertindas, suka bertengkar dengan sesama, gemar berdebat tentang wairsan pemikiran masa lalu, dan mudah mencurigai sesama.

Coretan ini terilhami dari cerita sahabat tentang pasukan Garuda yang ngenes nelangsa di Lebanon. Ketika kendaraannya tersesat jalan dan memasuki wilayah Israel, ia diperingatkan dengan baik-baik melalui radio komunikasi " Permisi tentara indonesia, anda memasuki wilayah kami. Mohon segera keluar. Kami akan memandu anda step by step keluar area ini. Mohon dipatuhi. Good Luck !

Tapi cerita berlainan ketika pasukan Garuda lagi istirahat nyantai bermain bola. Lagi asyiknya main bola, eeh...bola itu nyasar ke pekarangan rumah warga. Apa yang terjadi ? orang itu menghardik dengan ucapan-ucapan yang sangat kasar.

Tentara itu sedih..." kenapa yang kubela malah seperti ini ...? "

Mungkinkah kita juga sering bersikap demikian ketika bola pemikiran penjaga perdamaian memasuki wilayah pekarangan otak kita ?......

Malang, 7 Januari 2009

Wsb, Makmum kancrit

Dody Ide

Selasa, 01 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (30)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Semasa kehidupan Rasulullah SAW, ada sekelompok kaum munafik yang dipimpin oleh Dzu Awan yang membangun sebuah masjid dengan maksud untuk memecah belah kaum muslim, membelokkan ajaran agama islam dan sebagai tempat berkumpul bagi golongan mereka. Ketika mereka meminta Rasulullah SAW diminta membuka dan menunaikan shalat di masjid tersebut beliau menolak dan memerintahkan masjid tersebut dibakar. Peristiwa ini diabadikan dalam surat At-Taubah.

QS. At-Taubah 9 : 107-108,
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin) untuk kekafiran, dan untuk memecah-belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah:” Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka adalah pendusta (dalam sumpahnya)”.

Janganlah kamu bershalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bershalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”.

Sungguh ironis bukan bila ada sekelompok yang mengaku umat islam mengklaim masjid yang didirikan hanya milik dan dipergunakan untuk kepentingan kelompoknya. Padahal Allah SWT menyuruh umat muslim untuk senantiasa memakmurkan masjid tanpa memandang siapa dia. Jadi tidak perlu ada perpecahan serta mengklaim dengan mengatas-namakan masjid tersebut khusus untuk seseorang yang aliran, golongan dan kelompok yang sama.

QS. At-Taubah 9 : 18,
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Renungan :

Kita sebagai umat islam dan bersaudara sungguh merasa prihatin melihat kaum muslim yang tak kunjung dewasa dalam memahami agama. Masjid, tempat yang kita muliakan malah dijadikan ajang berpecah belah. Kalau kejadiannya seperti ini, pertanyaannya adalah benarkah umat islam mengaku beriman kepada kitabullah? Apakah mereka termasuk orang yang mendapat petunjuk sementara mereka tidak mau memakmurkan masjid?

Saya sendiri tidak berhak memvonis, apakah beberapa peristiwa tersebut di atas dan para pelakunya dapat di golongankan sebagai orang munafik dan tidak mendapat petunjuk. Hanya Allah SWT yang berhak dan tahu. Saya hanya mencoba menunjukkan kepada para pembaca dan memohon kepada anda untuk memperhatikan surat At-Taubah di atas!

Ada misteri apakah pada surat At-Taubah 107-108 tersebut? Mengapa ketika para sahabat membukukan Al-Qur’an (atas ijin dan kehendak Allah SWT) menjadikan kedua ayat tersebut masuk dalam surat At-Taubah, yang berarti pengampunan? Apakah ini berarti beberapa umat islam yang mendirikan masjid untuk memecah belah orang-orang mukmin agar segera sadar dan bertaubat kepada Allah SWT atas perilakunya yang salah? Wallahua’lam bishawab!

Silahkan anda renungkan!

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih