DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Rabu, 30 Juni 2010

Kebodohan Hamba

KEBODOHAN HAMBA
By Fahri

Duhai Al-Alim...
Dengan kebodohanku, hamba datang menghadapmu
Memohon ampunan, bimbingan dan petunjuk-Mu
‘Tuk mencoba mengurai firman-firman dan bahasa kalam-Mu
Agar hamba dapat berbagi kebahagian dengan umat manusia

Duhai Al-Mutakabbir...
Ambil semua, jangan tersisa, kesombongan yang menyelimutiku
Sekian lama, hampir di sepanjang perjalanan hidupku
Hamba tidak berhak menyandangnya, karena itu pakaian-Mu
Hamba tidak berhak mengenakannya, karena itu selendang-Mu

Duhal Al-Qohar...
Hamba tidak berdaya, lemah dan tak mampu berbuat apa-apa
Engkau Sang Penggerak alam semesta dan seluruh isinya
Hamba hanya bisa pasrah, tunduk dan patuh atas kehendak-Mu
Terserah Engkau bawa kemana, surga neraka tidak masalah bagiku
Asalkan cinta-Mu selalu mendekap, membelai dan menyelimutiku

Duhai Al-Lathief...Sentuhlah Baitul Makmur hamba dengan rahmat-Mu
Belailah Baitul Haram hamba dengan nurhidayah-Mu
Untuk menarikan setetes pelajaran yang tak terbatas dari-Mu
Dengan kebodohan hamba hanya sebatas menyampaikan
Bukan memberi petunjuk, karena itu wilayah-Mu,
Hamba tidak mau merampasnya

Kini hamba mohon...kemurahan-Mu
Ijinkan hamba menorehkan kebahagiaan
Perkenankan hamba mengguratkan kenyamanan
Perbolehkan hamba menuliskan kedamaian
Untuk berbagi ilmu-Mu, kepada para makhluk-Mu
Sebelum hamba, Engkau tawarkan cinta sejati, di sisi-Mu

Amin Ya Rabbal'alamiin

Kamis, 24 Juni 2010

Kerinduan


KERINDUAN
By Fahri

Sapaan hening dan dingin semilir angin malam
Membelaiku dalam kerinduan yang teramat dalam
Nyanyian simphoni sang rembulan dan bintang gemintang
Membuat hamba larut dalam ketiadaan

Duhai Kekasih…
Begitu lama Engkau perjalankan hamba seperti Ibrahim
Mencari gerangan dimana Sang Kekasih bersemayam
Kini itu semua..telah kulalui dengan ijin-Mu
Ketika Engkau membisikkan…”hadapkan wajah dengan hanif”

Duhai Sang Pujaan…
Hampir 40 tahun lamanya…Engkau tutup tirai elok wajah-Mu
Namun itu semua…semata-mata karena kebodohanku
Yang bergelimang..dalam hijab-hijab-Mu


Wahai Yang Maha Indah
Sekian lama Engkau Musa-kan hamba
Dengan ketidakpercayaan tentang keberadaan-Mu
Namun kini…Engkau dudukan hamba…di bukit Tursina
Hancur lebur…terurai…hampa…menjelma menjadi cahaya
Bersimbah penyesalan dan tangisan, bersujud di hadapan-Mu

Wahai Dzat Yang Maha Lembut
Begitu lama Engkau Muhammad-kan dalam kegelisahan dan kerinduan
‘Tuk menemukan Yang Sejati…Illahi Robbi
Kini…Engkau dudukkan hamba…dalam Gua Hira’
Lautan cinta yang tak terukur kedalamannya
Samudera cinta yang tak bertepi

Aahhh…Mengapa sekarang baru terjadi
Bodohnya hamba, dungunya hamba
Setelah kuhabiskan waktu begitu lama
Dalam keterombang-ambingan yang fana

Terima kasih…duhai Kekasih...Kini baru kusadari
Di sisa-sisa usiaku…Engkau perkenankan aku
Untuk mengenalmu…berada di dalam wilayah-Mu
Ya Ghofar…Ya Rahman…Ya Rahim…Ya Quddus..
Shalatku, ibadahku, hidup dan matiku..
Kuserahkan dengan tulus…dihadapan-Mu

Senin, 21 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (38)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kalau kita mau jujur, dalam skala nasional pun, kejadian seperti di atas pun sedang dan tengah terjadi. Coba anda perhatikan partai politik peserta pemilu yang memakai basic keagamaan. Meskipun dengan desain dan alasan bahwa ini semata-mata hanya perbedaan pandangan politik, bukan agama, namun realitasnya hal tersebut tidak terlepas dari unsur agama. Mereka memakai agama sebagai kendaraan politik. Cuma ya itu tadi, malu-malu.

Coba anda me-recall ulang dan hitung berapa jumlah partai politik yang ikut pemilu 2009 kemarin dan mengusung aliran agama islam? Banyakkan. Justru yang membuat umat heran adalah mengapa mereka tidak bersatu saja untuk mewujudkan masyarakat yang islami kalau keyakinan mereka didasari agama ? Kondisi ini kadang-kadang membuat kita bertanya-tanya,”Apakah benar pendirian partai politik ini semata-mata untuk kepentingan umat? Atau jangan-jangan hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok?”. Silahkan anda sendiri yang menjawab.

Saya pribadi sih cuma menyayangkan cara mengelola umat yang kurang elegan. Umat dijadikan obyek untuk suatu peristiwa sesaat dan tidak terlepas kepentingan pribadi/golongan. Bahkan umat menjadi terkotak-kotak dan bingung harus mendukung partai yang mana. Lha sama-sama partai islamnya.

Yang lebih tragis adalah banyak umat harus berkorban untuk membela sesuatu yang tidak jelas. Contohnya ketika berkampanye ada dua partai yang memiliki jadwal kampanye bersamaan dan keduanya sama-sama partai ber-basic islam. Atas nama loyalitas salah kaprah, mereka saling mengejek, mengolok-olok, dan menghina. Bahkan sampai beradu fisik. Konyol bukan?

Begitulah sebagian potret buram umat islam di Indonesia. Mereka lebih mengutamakan perbedaan daripada persamaan. Menjunjung tinggi perpecahan daripada persatuan. Meng-idola-kan kepentingan pribadi dibanding kepentingan umat. Pokoknya serba tidak jelas, semu dan abu-abu. Benar-benar kasihan umat yang diombang-ambingkan kepentingan pemimpinnya. Sementara umat sendiri tidak kunjung menyadari kalau mereka digunakan sebagai obyek kepentingan.

Tidakkah para pemimpin umat menyadari bahwa amanat (jabatan) itu akan diper-tanggungjawab-kan kelak di hadapan Allah SWT? Mengapa justru banyak pemimpin mengabaikan amanat yang diberikan? Tidakkah mereka takut terhadap azab Allah SWT?

QS. Al-An’aam 6 : 165,
“Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Renungan :

1.Pemimpin agama seharusnya memberikan suri tauladan kepada umatnya sebagaimana yang ditunjukkan Rasulullah SAW semasa beliau hidup (sunnah nabi). Sebagai pemimpin yang baik sebenarnya cukup berpegang pada satu prinsip, tidak perlu persyaratan yang macam-macam, yaitu apabila mendapat kebahagiaan maka pemimpin-lah yang terakhir menikmatinya sementara umat didahulukan dan apabila mendapat penderitaan maka pemimpin-lah yang pertama kali merasakan sementara umat paling akhir. Cukup simple bukan?

2.Pemimpin seharusnya mampu membina dan membimbing umat. Ketentraman, kesejukan dan kedamaian merupakan kondisi yang harus diciptakan. Janganlah kehadiran pemimpin justru membuat bingung umat, apalagi memanfaatkan dan menjadikan mereka obyek demi mengejar kepentingan pribadi dan sesaat.

3. Jangan jadikan perbedaan sebagai alat perseteruan. Bukankah perbedaan itu rahmat? Meskipun berbeda dalam hal furu’ seharusnya tetap memegang teguh prinsip toleransi, saling menghormati dan menyayangi sesama muslim. Karena bagaimanapun juga umat islam itu adalah saudara, yang dipersatukan oleh iman yang sama.

Bagaimana menurut pendapat anda?

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih

Jumat, 18 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (37)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kejadian tersebut, dalam skala lebih kecil juga pernah saya alami. Bahkan hingga saat ini masih berlangsung. Di kampung dimana saya dilahirkan, mayoritas masyarakat mempunyai kebiasaan membacakan tahlil, baik pada acara keagamaan maupun saat ada tetangga yang sedang ditimpa musibah kematian.

Diantara penduduk kampung, terdapat golongan minoritas yang memiliki keyakinan tidak perlunya pembacaan tahlil. Kami yang merasa golongan mayoritas menghargai dan menghormati perbedaan ini. Namun yang justru membuat kami terheran-heran adalah wilayah keyakinan ini dibawa sampai merembet pada tata kehidupan sosial kemasyarakatan. Kelompok minoritas menutup diri, tidak mau berkumpul (silaturahmi), bahkan untuk kegiatan warga seperti kerja bakti tidak pernah hadir. Bahkan mengunjungi tetangga sekedar saling bermaaf-maafan di hari raya Idul Fitri tidak dilakukan.

Saya secara pribadi tidak bisa menyalahkan 100% kepada tetangga tersebut, bahkan cenderung kasihan. Salah apa tetangga saya sehingga mendapat doktrin dari pimpinan kelompoknya yang memiliki cara berpikir sempit dan defensif. Sungguh sebuah doktrin yang tidak masuk akal, kalau harus sampai menutup diri dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Masya Allah!.

***

Ternyata, perseteruan secara diam-diam ini tidak hanya terjadi dalam ranah kehidupan sosial kemasyarakatan, namun juga telah menyentuh organisasi islam.

Ada cerita menarik ketika masa kuliah dulu. Kebetulan saya mempunyai seorang sahabat yang aktif dalam himpunan organisasi islam. Anggotanya rata-rata mahasiswa. Hingga suatu sore hari, dia bercerita kepada saya.

“Aneh ya cara umat islam berorganisasi?”

“Aneh bagaimana? Setahu saya yang namanya organisasi ya seperti pada umumnya. Mereka kumpulan orang yang memiliki misi, visi dan tujuan sama, menyuarakan kepentingan organisasi, berfungsi sebagai salah satu lembaga kontrol, dan semacamnya!” sergah saya.

“Benar sih. Tapi disinilah letak permasalahannya. Mengapa ketika saya mencoba ikut organisasi mahasiswa islam tersebut justru mendapat pertanyaan yang mengejutkan dan membuat saya tak habis pikir!”.

“Lho memangnya kamu ditanya apa?”

Sejenak dia terdiam. Kemudian melanjutkan ceritanya,“Sebagian ada anggota organisasi tersebut yang menanyakan tentang asal-usul atau latar belakang kelompok islam apa yang saya anut!”

“Maksudnya?”

“Ya begitulah. Ditanya perihal asal saya dari islam X, Y atau Z?”

“Terus kamu jawab apa?”

“Ya aku kembalikan saja pertanyaannya. Memang ada islam X, Y atau Z? Islam ya cuma satu. Tidak ada dikotomi, kotak-kotak dan sekat-sekat!, kalaupun ada sih itu hasil dari rekayasa manusianya. Memangnya ada waktu jaman Rasulullah SAW yang bernama islam X, Y atau Z?”

Sambil diiringi senyuman kemudian dia meneruskan ceritanya dan mencoba bertanya kepada saya,’’ Kamu tahu yang selanjutnya terjadi? Mendengar argumen tadi, si penanya malah bingung sendiri dan pergi meninggalkan aku sendiri!”

Saya pun ikut tersenyum, mendengar jawaban pragmatis sahabat saya yang langsung meng-KO si-penanya.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS
Pondok Cinta Kasih

Kamis, 17 Juni 2010

Dakwah Salah Kaprah (36)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

(10)
ANTARA PEMIMPIN DAN UMAT


Pada pertengahan medio tahun 2006, saya beserta istri ikut pelatihan yang diselenggarakan oleh sebuah Yayasan islam, selama dua hari berturut-turut, mulai pagi hari sampai menjelang maghrib. Meskipun kami sudah merasa cukup umur, namun tidak menghalangi untuk tetap terus belajar dan belajar. Semua itu didorong oleh kesadaran bahwa mencari ilmu tidak pernah berakhir selama masih hidup. Hanya kematianlah yang dapat menghentikan. Rasulullah SAW pernah bersabda,”Belajarlah mulai dari ayunan hingga liang lahat”.

Materi demi materi yang disampaikan coba kami serap dan cerna. Syukur Alhamdulillah keseriusan itu berbuah manis, kami paham inti dari materi pelatihan tersebut dan insya Allah dapat menerapkannya.

Ada hal yang menarik selama pelatihan tersebut berlangsung. Di sela-sela penyampaian materi, sang ustadz menyisipkan pengalamannya tentang kondisi umat islam saat beliau berkunjung di sebuah desa terpencil, di Jawa Timur. Dengan mimik wajah yang serius beliau mulai bercerita.

Tersebutlah suatu desa di Jawa Timur yang mayoritas penduduknya memeluk agama islam. Meskipun memiliki keyakinan yang sama, mereka berasal dari 2 kelompok islam yang berbeda. Entah mulai kapan dan bagaimana asal usulnya sehingga terjadi perpecahan. Akibatnya diantara mereka tumbuh semacam sentimen kelompok.

Sebenarnya kondisi ini dipicu hanya karena masalah pemahaman furu’ (cabang) yang berbeda. Tetapi dampaknya sungguh sangat luar biasa dan berakar kuat sampai sekarang. Oleh karena itu, sang ustadz berusaha mendamaikan kedua kubu dan meredam lebih jauh dampak perseteruan tersebut.

Apa yang sedang terjadi sehingga perlu di-damai-kan dan diredam permasalahan tersebut?

Pertama, Sentimen kelompok menyebabkan situasi dan kondisi kehidupan sosial masyarakat menjadi tidak kondusif lagi. Ada semacam konflik kepentingan. Masing-masing pimpinan dari tiap-tiap kelompok saling menaruh curiga. Para berusaha mempertahankan umatnya dan saling mempengaruhi satu sama lain. Karena mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab atas “keselamatan” umatnya. Segala daya upaya tindakan protektif pun dilakukan. Salah satunya dengan melakukan dakwah yang kurang terpuji dan tidak tepat, seperti merendahkan ustadz dari golongan lain di depan umatnya melalui pengajian yang diadakankan. Kondisi ini semakin memperparah keadaan yang ada dan sentimen kelompok bertambah parah.

Kedua, Di sisi lain, umat berusaha membela mati-matian pemimpinnya yang dilecehkan dan tidak diberlakukan sebagaimana mestinya oleh kelompok lain. Sehingga bila bertemu dengan seterunya di tengah jalan saling tidak bertegur sapa, walaupun mereka bertetangga.

Ketiga, Ketidakharmonisan kehidupan keagamaan juga menyebabkan setiap kelompok berusaha merebut, menguasai dan “menduduki” masjid yang ada. Kebetulan di desa tersebut jumlahnya hanya ada 1 buah.

Keempat, Meskipun tidak sampai beradu otot, namun antar golongan terjadi perang dingin. Hal ini mengakibatkan kehidupan sosial masyarakat tidak terjalin dengan baik. Kegiatan-kegiatan sosial pun menjadi terbengkalai. Masing-masing disibukkan dengan kecurigaan dan urusan kelompoknya.

Demikian sekelumit cerita dari sang ustadz, namun sudah cukup mewakili apa yang menjadi keprihatinan hati beliau saat itu. Saya sendiri terkejut mendengar kisah tersebut dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda penyesalan terhadap perilaku umat islam yang tak kunjung dewasa dalam beragama. Baik dalam cara berdakwah, membina umat, rasa empati dan tingkat toleransi dalam menerima perbedaan. Sungguh suatu cara kehidupan beragama yang naif bukan?

Namun syukur alhamdulillah. Setelah kedua pimpinan (ustadz) golongan tersebut dipertemukan dan diajak berdiskusi dicapailah jalan keluar. Hingga saat ini berdasarkan pantauan yang dilakukan secara periodik, kehidupan masyarakat mulai membaik. Misalnya, mengenai masalah masjid, tidak perlu diperebutkan. Hanya perlu kesadaran dan toleransi golongan. Masing-masing kelompok diberi jatah secara bergiliran untuk digunakan beribadah dan berdakwah.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Fahri-SCHSS

Pondok Cinta Kasih