DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Jumat, 23 April 2010

Dakwah Salah Kaprah (5)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa berdakwah melibatkan atau tidak terlepas dari unsur seni dan budaya. Seni bagaimana menarik jamaah agar selalu betah mendengarkan uraian materi dan paham; bagaimana mengatur intonasi suara, pemilihan tata bahasa, mimik wajah maupun body language sang ustadz. Selain itu agar penyampaian dakwah efektif maka perlu juga mengetahui latar belakang dan budaya para jamaah setempat yang hadir. Dengan demikian tujuan dan misi dakwah menjadi tepat sasaran.

Sebagai gambaran, marilah kita menengok cara dakwah yang dilakukan Walisongo pada masa dahulu. Pada jaman walisongo menyampaikan dakwah juga tidak terlepas dari cara (seni) menarik masyarakat pada waktu itu yang kebetulan banyak menganut agama hindu. Pemilihan media (budaya) yang tepat juga menjadi pertimbangan agar mereka bersedia mendengarkan dakwah, sekaligus menarik masyarakat untuk bersedia memeluk agama islam.

Salah satu strategi yang ditempuh oleh salah satu sunan, yaitu Sunan Kalijaga terbukti efektif. Melalui media wayang kulit (seni dan budaya) mampu menarik animo masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari kejelian membaca kondisi masyarakat yang haus akan hiburan dan latar belakang agama yang dianut. Oleh karena itu Sunan Kalijaga memakai atau mengambil media pewayangan untuk menyampaikan dakwah.

Pendekatan seni dan budaya ternyata terbukti tepat sasaran dan membuahkan hasil signifikan terhadap perkembangan islam. Tidak hanya masyarakat kalangan bawah yang tertarik, tetapi juga dari kalangan kerajaan. Maka tidak mengherankan jika kemudian islam berkembang pesat, bahkan sampai ke pelosok nusantara. Islam bukan lagi agama rakyat jelata dan kaum santri, tetapi islam mampu merambah kepada para elit kerajaan pada waktu itu. Islam yang tidak membeda-beda strata (golongan) mampu menjadi salah satu daya tarik setiap orang.

Sebuah taktik dan strategi yang jitu jika Sunan Kalijaga menyampaikan pesan-pesan dakwahnya menggunakan pendekatan budaya dan pementasan wayang kulit. Disamping itu, mengingat obyek dakwahnya adalah orang-orang Jawa, maka beliau juga tidak menggunakan bahasa Arab, walaupun beliau menguasai, tahu dan mampu menggunakan bahasa Arab. Di dalam literatur sejarah, tidak pernah ditemukan pesan-pesan (ceramah), bahwa dakwah Sunan Kalijaga menggunakan bahasa Arab. Sebagaimana ustadz, dai atau ulama jaman sekarang yang sering mengutip Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara fasih dalam menyampaikan dakwah.

Sunan Kalijaga lebih suka memakai bahasa setempat, bukan berarti beliau tidak suka dengan bahasa Arab. Beliau merasa pas dengan menggunakan bahasa lokal. Bahkan pesan-pesan yang tertulis juga menggunakan bahasa Jawa. Sementara dalam realitas kehidupannya sehari-hari, Sunan Kalijaga juga mampu memberikan teladan yang baik kepada masyarakat sekitarnya.

Selain menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah, Sunan Kalijaga memperkenalkan agama Islam secara luwes tanpa menghilangkan adat-istiadat atau kesenian daerah (adat setempat yang diberi sentuhan warna Islami). Banyak sekali maha karya beliau dalam bidang budaya.

Cara berdakwah juga dikembang melalui penciptaan lagu (tembang) yang mengandung ajaran dakwah dan mengandung nilai filosofi ajaran agama islam yang tinggi, seperti lagu Dandang Gulo atau lagu Lir Ilir yang sampai saat ini masih akrab ditelinga sebagian besar masyarakat Jawa. Langkah lain yang ditempuh adalah dengan membuat bedug di masjid guna memanggil umat islam untuk mendirikan sholat berjama’ah.

Karya monumental lain yang masih terjaga dan diperingati oleh masyarakat Demak hingga saat ini adalah acara ritual Gerebeg Maulud (Gerebeg Besar) yang biasanya diselenggarakan setiap hari raya Idul Adha. Moment ini berasal dari kegiatan tabligh/pengajian akbar yang diselenggarakan para Wali di masjid Demak untuk memperingati Maulud Nabi.

Tidak hanya Sunan Kalijaga, tetapi sunan yang lain seperti Sunan Drajat juga menggunakan bahasa setempat dalam menyampaikan dakwah.

Bersambung....

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS

Kamis, 22 April 2010

Dakwah Salah Kaprah (4)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

(2)
NGELAWAK ATAU BERDAKWAH?

Pada suatu hari sahabat saya mendapat tugas dari pamannya untuk mencari ustadz dan mengusulkan nama pendakwah yang telah dikenalnya sebagai referensi. Kebetulan sang paman saat itu menjadi panitia perayaan hari besar agama islam, sebagai seksi acara.

Sejenak sahabat saya berpikir untuk mengingat kembali nama-nama ustadz yang pernah dikenalnya.

“Bagaimana kalau ustadz A?” usul sahabat saya. Pamannya menggelengkan kepala, tanda tidak setuju, dan tanpa memberi alasan.

Tidak berapa lama kemudian disusul dengan nama yang lain, “Oh ya, bagaimana kalau ustadz B paman? Bagus lho, cakrawala pengetahuan agamanya luas dan cara penyampaiannya mudah dipahami!”. Namun sekali lagi sang paman menggelengkan kepala, kemudian berkata,”Jangan yang itu sudah terlalu sering mengisi tausyiah disini dan banyak warga yang kurang pas dengan caranya memberikan dakwah!”

Sahabat saya memutar lagi ingatannya. Barangkali ada referensi lain. “Ada lagi paman, cuma kayaknya ini yang terakhir saya kenal, yaitu ustadz C!” seperti sebelumnya sang paman juga menggelengkan kepalanya.

Bingung karena setiap usulan yang disampaikan ditolak, maka sahabat saya menanyakan kepada sang paman,”Kalau begitu kriteria apa yang diinginkan warga? Siapa tahu saya dapat menanyakan kepada teman-teman, karena referensi saya sudah habis!”.

“Begini lho, warga disini menginginkan ustadz yang tidak saja menyampaikan tausyiah, tetapi yang bisa juga menghibur, ya...semacam melucu atau melawak!”

“Kok begitu kriterianya, mengapa harus ustadz yang bisa menghibur?”

“Pertanyaan yang bagus. Kenapa? Supaya warga yang hadir tidak mengantuk dan betah duduk berlama-lama sampai acara selesai. Karena dari pengalaman sebelumnya, banyak warga yang meninggalkan kursi dan berpamitan pulang sebelum acara selesai. Apalagi kalau ustadz-nya terlalu serius dalam menyampaikan materi dakwah!”

Sahabat saya hanya terdiam dan merenung. Dalam hatinya dia bertanya,”Kok aneh ya? Beginikah cara pandang warga dalam menyikapi seorang ustadz yang menyampaikan dakwah. Kalau begitu apa tidak sekalian mengundang pelawak saja biar suasana ramai, ketawa terbahak-bahak dan ger-geran!”

Kegelisahan ini-lah yang pernah diceritakan kepada saya. Hanya sedikit komentar yang keluar dari bibir saya pada waktu itu dan sambil tersenyum geli,”Mungkin lagi nge-trend kali!”

***

Apa yang menjadi kegusaran sahabat saya, juga pernah beberapa tahun yang lalu di kampung dimana kedua orang tua saya tinggal. Kejadian yang tidak pernah terlupakan.

Ketika itu kebetulan warga kampung mengadakan acara halal bihalal. Atas inisiatif salah seorang warga, dia mengusulkan mengundang salah seorang ustadz yang dikenalnya sekaligus teman akrabnya. Atas usulan tersebut warga setuju dan mempercayakan kepadanya.

Maka datang-lah moment acara halal bihalal yang ditunggu-tunggu. Setelah acara dibuka dan sedikit pidato dari ketua RT dan panitia, kemudian dilanjutkan dengan giliran sang ustadz mengisi sesi tausyiah. Sambil mencicipi jajanan (snack) yang disediakan panitia, kami semua mendengarkan materi tausyiah.

Sungguh di luar dugaan saya, ternyata warga sangat antusias mendengarkan dan memberikan applaus kepada sang ustadz. Apa gerangan yang terjadi? Ternyata ustadz tersebut pandai melucu dalam menyampaikan dakwahnya sehingga membuat warga tertawa terpingkal-pingkal. Hampir 2/3 sesi tausyiah diisi oleh banyolan-banyolan yang kadang-kadang tidak ada benang merahnya dengan materi dakwah. Sungguh ironis, tapi saya hanya terdiam, karena warga menyukainya.

Setelah acara tausyiah selesai, kami warga antri untuk mengambil makan malam yang kebetulan disajikan secara prasmanan. Ketika antri itu-lah, saya dengan tidak sengaja mendengarkan pembicaraan beberapa warga.

“Wah ustadz-nya hebat ya. Bisa menghibur. Belum pernah saya duduk mendengarkan tausyiah sampai acara selesai seperti ini. Biasanya ustadz yang berceramah terlalu serius, makanya sering saya tinggal untuk merokok!”

“Iya..ya, saya juga suka!” sahut bapak yang lain.

Namun ada juga warga lain yang kurang sreg, dengan cara dakwah tadi. Karena inti dari acara halal bihalal tidak dibahas, kalau pun ada sebatas kulit permukaannya saja, sehingga tambahan ilmu agama yang ingin diperoleh tidak didapatnya.

Bahkan ada warga lain yang menganggap bahwa dakwah tadi ibarat pementasan kelompok lawak. Jadi sulit dibedakan apakah tadi ngelawak atau berdakwah!.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS

Rabu, 21 April 2010

Dakwah Salah Kaprah (3)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Banyak orang islam yang memiliki pandangan dalam mempelajari Al-Qur’an targetnya adalah dapat menghafalkannya. Biasanya kalau sudah hafal, tamat atau khatam, orang tersebut akan mendapat gelar hafidz, atau lebih akrab lagi diberi gelar kyai.

Benarkah belajar Al-Qur’an memiliki batas demikian? Tentu tidak. Kalau standarisasi yang diambil seperti ini maka kitab Al-Qur’an akan menjadi stagnan dan usang. Padahal Al-Qur’an diturunkan sebagai penuntun umat sampai akhir zaman (kiamat). Di setiap zaman Al-Qur’an selalu mampu “berbicara”. Takwil dari ayat-ayat-Nya tidak pernah ketinggalan zaman. Inilah salah satu mukjizat dari kitabullah.

Pemahaman dan takwil bukanlah hasil pikir manusia, karena otak manusia tidak akan mampu men-takwil-kannya. Tetapi Allah-lah yang akan menjelaskannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki dan dipilih, yang diturunkan ke dalam hati manusia. Inilah yang disebut dengan hidayah (ilmu dari Allah SWT). Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT, tentunya yang menjelaskan Sang Pemilik wahyu, bukan otak manusia.

QS. Al-Baqarah 2 : 269,

“Allah menganugerahkan hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia dikehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia telah benar-benar dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”.

Namun banyak umat islam yang tidak percaya, bahkan mencoba men-takwil-kan sendiri ayat-ayat Al-Qur’an, terutama ayat-ayat mutasyabihat. Apa yang kemudian terjadi? Karena hasil pikir takwil didorong oleh nafsu maka hasil yang diperoleh pun menjadi keliru. Allah SWT melarang hamba-Nya untuk men-takwil-kan ayat mutasyabihat dan menganggapnya sebagai orang yang tidak berakal. Sekali lagi, adalah hak prerogatif Allah SWT menerangkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada hamba yang dipilih dan dikehendaki.

QS. Ali Imran 3 : 7,

“Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata,”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”.

***

Membahas mengenai permasalahan ilmu dan agama ini membuat saya teringat atas kata-kata yang ditulis oleh seorang sahabat yang ditempelkan di dinding tempat pengajian biasa diselenggarakan, agar mudah dibaca para jamaah pengajian.

Agama berhubungan dengan Tuhan
Ilmu berhubungan dengan alam

Agama membersihkan hati
Ilmu mencerdaskan otak


Agama diterima dengan iman

Ilmu diterima dengan logika


Renungan :

1.Umat islam diwajibkan untuk membaca, mempelajari, memahami, mengaplikasikan dan syukur Alhamdulillah dapat menghafal ayat Al-Qur’an. Ini sebagai konsekuensi bahwa kita meyakini rukun iman yang ke empat yaitu beriman kepada kitabullah.

2.Pengertian hakiki dari pendakwah adalah manusia pilihan Allah SWT. Merekalah yang berhak menyampaikan dakwah, karena ilmu dan takwilnya telah dijelaskan sendiri oleh Allah SWT, bukan dinilai dari tingginya ilmu pengetahuan yang berasal dari proses belajar kepada manusia lain.

3.Bagi hamba yang dikehendaki dan dipilih Allah SWT selalu akan menyampaikan (berdakwah) atas ayat-ayat yang telah dipahamkan oleh Allah SWT. Tidak melebar ke ayat-ayat lain yang belum dijelaskan. Sebagaimana Rasulullah SAW mendapatkan wahyu secara bertahap (baik ilmu (ayat tersurat) maupun takwilnya (makna tersirat pada ayat tersebut).

Bagaimana menurut anda?

Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Fahri-SCHSS

Selasa, 20 April 2010

Dakwah Salah Kaprah (2)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Waktu menunjukkan pukul 19.45 WIB. Setelah selesai mendirikan shalat Isya’ dan makan malam, kami berdua duduk santai di ruang keluarga untuk meneruskan diskusi tadi sore yang sempat terputus.

Saya yang mulai membuka diskusi tersebut,“Apa yang ayah jelaskan tadi sore memang benar. Kalau materi tersebut tidak diluruskan akan berakibat fatal”.

Ayah hanya menganggukan kepala, kemudian gantian angkat bicara,”Di ayat lain misalnya, Allah SWT juga menyatakan singgasana-Nya di atas air. Apakah ini berarti Dia juga bersemayam di sana. Tidakkan? Betapa sempitnya cara berpikir manusia kalau ayat tersebut dipahami tanpa akal sehat!”

QS. Hud 11 : 7,
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu), di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah) :’Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati’, niscaya orang-orang kafir itu akan berkata:’Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.

Kemudian ayah melanjutkan pembahasan mengenai Allah, dengan ayat-ayat yang lain, seperti :

QS. An-Nisaa’ 4 : 126,”...Allah meliputi segala sesuatu...”.

QS. Al-Baqarah 2 : 115 :”Kepunyaan Allah Timur dan Barat, kemana kamu menghadap maka disana wajah Allah.

QS. Al-Hadiid 57 : 4 :”Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

QS. Qaaf 50 : 16 :”...dan Kami (Allah) lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya (manusia)”

QS. Al-An’aam 6 : 103 :”Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”

QS. Asy-Syuraa 42 : 11 :”...Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia....”.

"Kalau ustadz tadi membaca ayat-ayat tersebut, kira-kira bagaimana pendapat dia ya? Ayat-ayat ini paling tidak mewakili tentang Allah SWT”.

Saya hanya terdiam, dan coba melengkapi tentang banyaknya salah kaprah dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, seperti makna Baitullah. Banyak mengartikan rumah Allah. Dalam segi tata bahasa memang benar. Namun kalau demikian pengertiannya sungguh tidak masuk akal. Coba betapa kecilnya Allah SWT yang mempunyai rumah sebesar Baitullah dan Dia bersemayam di dalamnya. Tidak masuk akalkan? Padahal makna yang sebenarnya dari Baitullah adalah tempat yang dirahmati.

Contoh lain adalah Allah SWT mengatur alam semesta dengan kedua tangan-Nya. Bukan berarti Allah SWT memiliki tangan seperti manusia. Makna hakikinya adalah Qudrat dan Iradat.

Masih banyak contoh lain dari ayat-ayat Allah SWT yang menggunakan perumpaan dan bahasa manusia. Ini semata-mata untuk mempermudah pemahaman umat dan keterbatasan kosa kata manusia. Tapi jangan-lah secara sembarangan mengartikan apa adanya tanpa pengetahuan.

Bersambung....

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Fahri-SCHSS

Senin, 19 April 2010

Dakwah Salah Kaprah (1)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sebelumnya saya mohon maaf kepada para sahabat dan sidang pembaca karena begitu lama blog saya tidak aktif. Hal ini semata-mata karena saya sedang diperjalankan Allah SWT kepada sesuatu yang lebih "dalam" lagi untuk digembleng lahir batin dan sempat "dimarahi" karena kebodohan saya. Insya Allah, mulai saat ini saya berusaha menulis hasil perenungan dan menyisihkan waktu untuk sharing kepada para sahabat. Adapun artikel ini saya mulai tentang beberapa kasus syiar (dakwah) salah kaprah yang sering terjadi di sekitar kita. Semoga bermanfaat. Amin.

(1)
DAKWAH TANPA PEMAHAMAN ILMU

Meskipun saya sudah berkeluarga dan hidup mandiri terpisah dari orang tua namun jalinan silaturahmi tetap kami jaga. Ini sebuah komitmen bersama antara saya dengan istri. Oleh karena itu setiap bulan sekali, sebagai bentuk dharma bakti, kami “wajib” menjadwalkan kunjungan, baik kepada orang tua maupun mertua secara bergantian. Mumpung Allah SWT masih memberi mereka kesehatan.

Sore hari pada bulan November 2009, saat bersilaturahmi ke rumah orang tua, saya menyempatkan dan meluangkan waktu untuk berbincang-bincang dengan ayah. Mulai dari yang ringan seperti menanyakan kondisi rumah, saudara, dan tetangga, kami juga sering mendiskusikan masalah agama. Sebuah kebiasaan untuk saling bertukar pikiran.

Kebetulan ayah dipercaya oleh warga untuk mengisi pengajian setiap sabtu pagi di kampung. Selain untuk menambah wawasan agama juga sebagai forum silaturahmi.Pengisi pengajian tidak hanya dimonopoli ayah, namun bergiliran dengan salah satu warga lainnya. Tetangga saya masih tergolong muda, namun sudah dipercaya untuk mengisi pengajian. Adapun alasan warga adalah :

Pertama, Dia adalah anak seorang kyai (alm), asli penduduk setempat, lulusan pondok pesantren, dan pengetahuan agamanya cukup luas.

Kedua, Kegigihan, kerja keras dan prestasi yang bagus selama di pondok pesantren membuahkan hasil manis pada akhirnya. Dia mendapat bea siswa untuk belajar di salah satu universitas di Arab Saudi.

Dengan pertimbangan faktor inilah maka warga mempercayakan kepada dia sebagai salah satu ustadz untuk mengisi acara pengajian rutin setiap Sabtu pagi. Sementara itu, jamaah pengajian rata-rata adalah warga setempat yang sudah cukup berumur namun (maaf) basic agama mereka belum mendalam. Hanya beberapa orang yang pemahaman agamanya cukup baik. Melihat kondisi jamaah, disinilah peran ustadz begitu vital. Apalagi jamaah lebih banyak pasif dan hanya menerima materi yang disampaikan. Jadi penyampaian materi yang salah dapat berdampak buruk bagi pemahaman jamaah.

Pada sore itulah, saat berbincang-bincang, ayah menceritakan dan membahas perihal materi yang pernah disampaikan oleh ustadz muda tersebut. Ada suatu materi saat disampaikan kepada jamaah yang dirasa kurang tepat dan dapat berakibat fatal bagi jamaah. Kebetulan saat penyampaian materi tersebut, ayah saya duduk sebagai jamaah dan beliau hanya diam saja. Hal ini dilakukan dengan maksud agar yang hadir tidak memiliki pandangan negatif dan tidak mempermalukan sang ustadz di depan jamaah. Namun dalam hati, ayah berjanji bila ada waktu yang tepat maka beliau akan mendiskusikan masalah tersebut secara face to face.

Didorong oleh rasa penasaran dan keingintahuan, saya mencoba menanyakan perihal masalah tersebut,”Menurut pandangan ayah, penyampaian materi apa yang dirasa kurang tepat?”

“Ketika membahas tentang Allah SWT. Sang ustadz mempunyai pemahaman yang harus diluruskan. Pada saat menyampaikan materi kepada jamaah, dia menerangkan bahwa Allah SWT bersemayam di atas Arasy, dengan penjabaran bahwa Allah SWT bagaikan seorang raja yang duduk di singgasana-Nya di langit ke tujuh dan jauh sekali dari manusia. Hal ini dilatar-belakangi saat dia mencoba menafsirkan surat Al-Baqarah dan Ar-Rad”.

QS. Al-Baqarah 2 : 255,

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?. Allah mengetahui apa-apa yang ada dihadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

QS. Ar-Rad 13 : 2,

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu”.

Saya sejenak tertegun dan mencoba me-recall ulang pemahaman tentang makna Allah bersemayam di atas Arasy. Tidak berapa lama kemudian ayah melanjutkan diskusinya,”Cobalah kita renungkan dan gunakanlah akal sehat. Kalau Allah diidentikkan sebagai seorang raja yang bersemayam duduk di “kursi”-Nya di langit ke tujuh (Arasy), betapa kecilnya Allah SWT dibandingkan dengan langit dan alam semesta ini. Padahal Dia-lah pencipta alam raya ini beserta isinya. Allah memiliki Asma Akbar, Yang Maha Luas, tak terbatas, terbebas dari ruang dan waktu”.

Setelah kami berdua terdiam dan mengambil nafas sejenak. Namun jauh di dalam hati saya membenarkan apa yang baru saja dijelaskan dan diuraikan ayah.

“Betapa sembrononya ustadz tersebut dalam menafsirkan ayat hanya berdasarkan apa yang tersurat. Padahal beberapa ayat Al-Qur’an juga mempunyai makna tersirat, seperti ayat-ayat Mutasyabihat, salah satunya surat Ar-Rad tersebut! Kalau kemudian penafsiran ini diterima begitu saja oleh jamaah, alangkah berbahayanya”.

Namun diskusi sejenak kami hentikan, karena terdengar panggilan azan untuk mendirikan shalat maghrib. Kami berjanji akan membahas lebih lanjut permasalahan yang belum selesai tersebut setelah makan malam.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-SCHSS