DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Tampilkan postingan dengan label Lailatul Qodar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lailatul Qodar. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Agustus 2013

UNTUK KITA RENUNGKAN


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

            Alhamdulillah, kita sudah memasuki akhir bulan ramadhan 1434 H, berbagai amal ibadah semaksimal mungkin tentu telah kita tunaikan di dalam bulan suci ini. Tentu saja apa yang kita lakukan pada akhirnya akan mendapatkan apa yang kita harapkan. Amin.

            Marilah kita merenung sejenak tentang apa yang telah kita lakukan selama ramadhan ini. Pertanyaannya adalah “Apakah ramadhan kali ini anda berusaha ibadah semaksimal mungkin, baik siang maupun malam dengan niat agar mendapatkan pahala yang banyak untuk menebus surga?” Kalau jawaban anda iya, maka pertanyaan selanjutnya adalah “Benarkah anda telah mendapat pahala itu dan apa buktinya?” Kalau anda masih bingung menjawabnya (mungkin karena tidak tahu dan paham), saya malah bertanya, “Lha katanya cari pahala kok tidak tahu buktinya apakah sudah dapat apa belum?” atau anda menjawab (untuk mengelak ketidaktahuan anda) dengan alasan klasik,”Semua saya serahkan kepada Allah!”. Jawaban ini memang benar, tapi kurang tepat juga. Kok bisa? Tentu saja. Janji Allah SWT itu pasti, jadi tidak mungkin Dia memberi tanpa ada buktinya. Jadi, bukti apa kalau anda telah mendapatkan pahala? (silahkan direnungkan sendiri).
*****
            Apakah anda sudah mendapat Lailatul Qodar di sepuluh malam terakhir ramadhan ini? Lalu apa buktinya? Kalau anda mengatakan bahwa saat malam itu suasana langit tidak terang juga tidak mendung, suasana tenang dan hening, angin bertiup sepoi-sepoi, dan pada pagi harinya matahari tidak terik (panas), maka jawaban anda memang benar adanya sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah Muhammad SAW, “Ubay (bin Ka'ab) berkata, "Demi Allah yang tiada tuhan melainkan Dia. Sesungguhnya ia terjadi di bulan Ramadhan. Dan demi Allah sesungguhnya aku mengetahui malam itu. Ia adalah malam yang Rasulullah memerintahkan kami untuk qiyamullail, yaitu malam kedua puluh tujuh. Dan sebagai tandanya adalah pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya putih yang tidak bersinar-sinar menyilaukan." (HR. Muslim).

Sebenarnya hadist di atas hanya memberikan suasana atau lebih tepat TANDA turunnnya Lailatul Qodar, bukan BUKTI. Oleh karena itu, saya bertanya sekali lagi apa buktinya anda mendapatkan Lailatul Qodar? (silahkan direnungkan sendiri).
*****
            Pertanyaan selanjutnya adalah bahwa anda yakin setelah selesai menunaikan ibadah puasa ramadhan sebulan penuh maka anda akan kembali suci lagi (fitrah) layaknya bayi yang baru dilahirkan pada saat tanggal 1-syawal (Idhul Fitri) karena diampuni dosa-dosa anda. Memang ini benar atau sesuai dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan puasa Romadhan dan aku telah mensunnahkan menegakkan shalatnya (terawih), maka barangsiapa berpuasa dan menegakkannya mengharapkan ridho Allah SWT keluar dari dosa-dosanya seperti hari ibunya melahirkannya. (HR. Imam Ahmad/1572, Nasai /2180,Ibnu Majh/ 1318.)
Pertanyaannya, “Apakah bukti bahwa anda kembali fitrah?”. (silahkan direnungkan sendiri)
*****
            Dari beberapa pertanyaan di atas paling tidak ada beberapa hal yang perlu mendapat catatan :
  1. Apakah mungkin anda mendapat pahala, Lailatul Qodar dan kembali fitrah kalau anda tidak terlebih dahulu berjumpa dengan yang memberikan itu semua? Sebagai ilustrasi, ketika anda meminta sesuatu kepada seseorang dan kebetulan anda tidak/belum ketemu dengan orang tersebut mungkinkah anda akan diberi? Tidak mungkin bukan? Kalau pun anda mendapatkan sesuatu yang anda inginkan itu berarti anda mencuri karena tanpa sepengetahuan sang pemilik. Ini bisa saja terjadi kalau di dunia dan berhubungan dengan manusia mungkin saja terjadi. Tetapi dalam beribadah, anda tidak mungkin mencuri pahala, lailatul qodar dan mendapatkan ke-fitrah-an, karena ini berhubungan dengan Allah SWT yang Maha Berkuasa, Maha Menjaga, dan tidak pernah lengah sedikit pun.
  2.  Seringkali niat ibadah kita tidak tertuju atau mengutamakan yang memberi segala kenikmatan, tapi ibadah kita sering terfokus pada apa yang akan kita peroleh. Jadi mungkinkah kita akan memperoleh pahala, lailatul qodar dan ke-fitrah-an kalau tujuan yang kita niatkan tidak tepat?
  3. Pahala, Lailatul Qodar, Ke-fitrah-an (diampuni dosa-dosa kita), dan Surga adalah bonus yang diberikan Allah SWT ketika anda beribadah secara hanif kepada Allah SWT semata-mata untuk mengharap rahmat dan ridho-Nya. Tanpa anda minta pun Allah SWT akan memberi bonus-bonus itu. Tapi kalau dalam beribadah yang anda tuju bukan mengutamakan (menyembah) kepada sang pemberi, maka anda tidak mungkin mendapat bonus itu semua.
  4. Beragama dan beribadah, hasilnya adalah pasti (ada bukti) karena janji Allah SWT itu pasti. Itu mengapa beberapa pertanyaan di atas sengaja saya ajukan, terutama berhubungan dengan BUKTI bahwa ibadah kita diterima Allah SWT dan telah dibenarkan-Nya. Apa jadinya kalau beragama dan beribadah hasilnya sebatas anda duga-duga tanpa adanya bukti?
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (QS. Yunus 10:36).

Semoga artikel singkat ini dapat bermanfaat, dan dapat menjadi pijakan (kontemplasi) kita untuk memperbaharui niat ibadah kita selanjutnya. Amin.

Untuk menambah wawasan beragama anda, silahkan baca dan membeli E-Book saya dengan cara men-download. Adapun E-Book yang telah saya terbitkan adalah :
  1. E-Book PERTAMA saya yang berjudul : “MENELADANI SPIRITUAL RASULULLAH SAW DALAM BERMA’RIFATULAH”, http://akubersujud.blogspot.com/2013/05/e-book-meneladani-spiritual-rasulullah.html (silahkan klik kalimat/tulisan yang berwarna merah disamping ini untuk mengetahui syarat dan ketentuannya).
  2. E-Book KEDUA saya yang berjudul : “MENGAJI AL-QUR’AN KEPADA ALLAH", http://akubersujud.blogspot.com/2013/06/e-book-kedua-mengaji-al-quran-kepada_5596.html (silahkan klik kalimat/tulisan berwarna yang berwarna merah disamping ini untuk mengetahui syarat dan ketentuannya).
  3. E-Book KETIGA saya yang berjudul : “MENYIBAK TAKWIL RAKAAT SHALAT FARDHU", http://akubersujud.blogspot.com/2013/07/e-book-ketiga-menyibak-takwil-rakaat.html (silahkan klik kalimat/tulisan yang berwarna merah disamping ini untuk mengetahui syarat dan ketentuannya).

Semoga bermanfaat!!!
Senantiasa ISTIQOMAH untuk meraih ridha Allah SWT!!!
            
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Iwan Fahri Cahyadi
Pondok Ar-Rahman Ar-Rahim
Semarang

Senin, 15 Juli 2013

MERAIH “PIALA” RAMADHAN (2)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Nuzulul Qur’an

Sebelum memasuki uraian pembahasan apa itu Nuzulul Qur’an, mari kita simak ayat Al-Qur’an berikut ini :

“(Beberapa hari yang telah ditentukan itu) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)...,(QS. Al-Baqarah 2 : 185).

Setiap tanggal 17 Ramadhan, umat islam memperingati peristiwa Nuzulul Qur’an sebagai bentuk penghormatan atas firman Allah SWT yang diturunkan (diwahyukan) pertama kali pada paruh kedua bulan Ramadhan, 14 abad yang lalu, melalui Rasulullah SAW saat berkhalwat di Gua Hira. Sebuah peringatan yang sebenarnya memiliki arti yang sangat dalam, salah satunya yaitu sebagai bahan intropeksi diri bagi umat islam dalam men-tadabbur-i (merenungkannya) kalam Illahi. Tetapi sungguh disayangkan, banyak dari kalangan umat islam sendiri tidak mau mengambil momentum ini sekaligus menggali lebih jauh makna (hakikat) dari peringatan Nuzulul Qur’an.

Banyak dari umat islam sendiri yang menganggap bahwa peristiwa ini hanya sebatas seremonial saja. Sungguh disayangkan. Padahal tidaklah demikian. Banyak sekali hikmah yang terkandung di dalamnya, seperti mengapa Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan? Apa hubungan Al-Qur’an dengan angka 17? Ternyata dibalik peristiwa ini semua berkaitan erat dengan jumlah rakaat shalat fardhu yang ditunaikan dalam sehari semalam. Shalat Isya’ terdiri dari 4 rakaat, Subuh 2 rakaat, Dhuhur 4 rakaat, Ashar 4 rakaat dan Maghrib 3 rakaat, sehingga kalau dijumlah secara keseluruhan sebanyak 17 rakaat.

Peringatan Nuzulul Qur’an sebenarnya juga memiliki makna untuk mengingatkan kembali perilaku (sikap) umat islam dalam “membumikan” Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an bukan saja firman Illahi dan mu’jizat yang diberikan kepada Rasulullah SAW, tetapi esensinya adalah pedoman hidup umat islam sampai hari kiamat, karena Al-Qur’an tidak akan pernah usang sampai akhir zaman. Pemahaman ayat-ayatnya selalu memiliki makna yang up to date sesuai perkembangan jaman. Tanpa berpedoman dengan Al-Qur’an maka dapat dipastikan perilaku kita sehari-hari akan jauh dari kebenaran.

Memang kalau melihat perkembangan akhir-akhir ini dan minat mempelajari kitab suci ini cukup menggembirakan, seperti banyak didirikan TPQ, metode atau cara belajar membaca Al-Qur’an dengan waktu singkat atau Al-Qur’an dikemas dalam bentuk media elektronik agar mudah dipelajari, dan yang tak kalah pentingnya adalah masih diadakannya lomba MTQ secara periodik. Namun ini belumlah cukup karena Al-Qur’an tidak hanya dipelajari dan dibaca. Justru yang terpenting adalah memahami maknanya dan mengaplikasikan dalam perilaku (ahlak) kehidupan sehari-hari. Sehingga umat islam betul-betul menjadi umat yang rahmatan lil ‘alamin.

Yang lebih memprihatinkan lagi banyak kalangan dari umat islam sendiri jarang menyentuh Al-Qur’an, apalagi membuka, membaca dan mempelajari isinya. Kitab suci ini hanya sebagai penghias lemari buku saja dan sebagai penunjuk identitas agama yang dianutnya. Hal ini disebabkan umat islam kurang harmoni dalam me-manage waktu antara kebutuhan dunia dan akhirat. Bahkan saat ini banyak yang tenggelam dalam aktivitas duniawi. Maka tidak mengherankan bila dewasa ini banyak terjadi dekadensi moral, terutama di kalangan kawula muda.

Sedikit uraian diatas sebenarnya syarat bila umat islam ingin meraih  Nuzulul Qur’an, yaitu menjaga ke-ajeg-an shalat fardhu (diisyaratkan dengan tanggal 17 Ramadhan) serta bersedia mengaplikasikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah, bagi yang mampu menjalankannya akan mendapatkan karunia Nuzulul Qur’an berupa pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an, sesuai dengan firman Allah SWT berikut ini,

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Fatir 35 : 32).

“Dialah yang mengajarkan Al-Qur’an.”(QS. Ar-Rahman 55 : 2).

Cara Allah SWT mengajarkan pemahaman Al-Qur’an memang terkadang unik. Dimana uniknya? Kadang pemahaman langsung diturunkan ke hati/dada hamba-Nya, kadang anda diperjalankan dahulu baru kemudian dipahamkan ayat-Nya, dll. Kondisi ini juga dialami Rasulullah SAW, dimana Allah SWT menurunkan pemahaman Al-Qur’an secara bertahap. Tidak sekaligus.

”Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuat pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya”. (Al-Qiyamah 75 : 16-19).

”Allah menganugerahkan al-Hikmah (Kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Surat Al-Baqarah 2 : 269).

”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. (Al-Baqarah 2 : 147)

Yang perlu menjadi catatan disini adalah beda maknanya antara anda tahu (belajar sendiri, entah itu dari ustadz, buku, dll) dan paham (diajarkan oleh Allah SWT). Tahu sifatnya sementara sehingga kadang manusia akan lupa karena tahu adalah hasil dari olah pikir/otak. Sedangkan paham sifatnya kekal karena hasil pengajaran Allah SWT yang ditanamkan dalam hati hamba-Nya dan sang hamba mengalami peristiwa ayat tersebut. Proses ajar mengajar ini berlangsung terus menerus sampai ajal menjemput. Sang hamba juga akan dipelihara dan dijaga oleh Allah SWT selama masa hidup-Nya, Insya Allah, Inilah makna hakiki dari Nuzulul Qur’an.


(Bersambung....)

Tetap ISTIQOMAH untuk meraih ridho Allah SWT!!!

Untuk menambah wawasan beragama anda, silahkan baca dan membeli E-Book saya dengan cara men-download E-Book pertama saya yang berjudul MENELADANI SPIRITUAL RASULULLAH SAW DALAM BERMA'RIFATULLAH. Untuk menambah wawasan beragama anda, silahkan membeli dan membaca juga E-Book Kedua saya yang berjudul : MENGAJI AL-QUR'AN KEPADA ALLAH (silahkan klik judul E-Book yang berwarna merah untuk mengetahui syarat dan ketentuannya). Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Iwan Fahri Cahyadi,

Pondok Ar-Rahman Ar-Rahim
Semarang 

Jumat, 12 Juli 2013

REPACKAGE : MERAIH “PIALA” RAMADHAN (1)


Kalau boleh saya analogkan dengan dunia olah raga, maka puasa Ramadhan merupakan ajang pertandingan bagi umat Islam. Seluruh waktu, tenaga dan pikiran difokuskan pada aktivitas prosesi ibadah, baik puasa Ramadhan itu sendiri, maupun ibadah wajib dan sunah lainnya seperti memelihara shalat fardhu 5 (lima) waktu, shalat tarawih, shalat tasbih, tadarus dan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam 1 bulan, iktikaf di masjid pada 10 hari terakhir, dan lain sebagainya.

Saat ini umat islam bagaikan seorang atlit yang bertanding mati-matian agar menjadi juara untuk memperebutkan “piala” yang bernama Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar. Kenapa harus mati-matian? Karena piala ini hanya diperebutkan hanya satu tahun sekali yaitu pada bulan suci Ramadhan dan kita belum tentu di tahun depan dapat menemui kembali moment seperti ini, kecuali diberi karunia panjang umur dan nikmat iman oleh Allah SWT.

Ada sebagian pendapat yang saya kira perlu diluruskan yang menyatakan bahwa bulan Ramadhan adalah waktunya umat islam untuk melatih diri dengan memperbanyak amal ibadah. Tetapi menurut pendapat saya pribadi, bahwa yang namanya berlatih bukanlah pada saat Ramadhan, tetapi 11 bulan di luar bulan suci ini. Ibarat seorang atlit, sebelum melakukan pertandingan maka dia harus melakukan latihan di luar event itu. Kenapa? Tanpa melakukan latihan pastilah sang atlit lambat atau cepat akan mudah tersingkir dari arena pertandingan.

Seyogyanya, umat islam selama 11 bulan berlatih untuk menyambut bulan Ramadhan. Entah itu dengan ibadah “tambahan” seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Nabi Daud AS, selalu menjaga frekuensi shalat sunah, memelihara perilaku (ahlak) yang islami serta ibadah lainnya. Dengan catatan, tentunya tetap menjaga ke-ajeg-an shalat fardhu 5 (lima) waktu. Dengan persiapan yang matang maka diharapkan di bulan Ramadhan umat islam tidak akan keteteran dalam melaksanakan prosesi ibadah tambahan, seperti shalat tarawih, iktikaf dan lain sebagainya.

Dengan berlatih diharapkan pula ketahanan fisik (badan) dan batin (ruhani) lebih prima dan siap untuk menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan dengan penuh ikhlas dan khusyu’. Karena bagaimanapun juga setiap prosesi ibadah melibatkan 2 (dua) aspek yaitu batiniyah dan badaniyah yang harus terus dipelihara dan berjalan secara seimbang. Tanpa adanya keseimbangan maka dalam menunaikan ibadah pastilah gersang, terutama bila aspek batiniyah tidak dilibatkan.

Bila masa latihan selama 11 bulan tersebut dipenuhi, Insya Allah, umat islam mampu melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan memperoleh piala berupa Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar. Pertanyaannya sekarang adalah apa makna (hakikat) dari Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar? Marilah coba kita uraikan satu per satu.
(Bersambung….)

Tetap ISTIQOMAH untuk meraih ridho Allah SWT!!!

Untuk menambah wawasan beragama anda, silahkan baca dan membeli E-Book saya dengan cara men-download E-Book pertama saya yang berjudul MENELADANI SPIRITUAL RASULULLAH SAW DALAM BERMA'RIFATULLAH. Untuk menambah wawasan beragama anda, silahkan membeli dan membaca juga E-Book Kedua saya yang berjudul MENGAJI AL-QUR'AN KEPADA ALLAH (silahkan klik judul E-Book yang berwarna merah untuk mengetahui syarat dan ketentuannya). Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Iwan Fahri Cahyadi

Pondok Ar-Rahman Ar-Rahim
Semarang


Kamis, 04 Juli 2013

PERMASALAHAN SETIAP KALI DATANGNYA BULAN RAMADHAN (1)


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

                Ada fenomena menarik yang terjadi beberapa tahun belakangan ini di Indonesia berkenaan dengan penentuan datangnya awal bulan ramadhan, awal syawal (Idul Fitri), dan 10 Dzulhijah (Idul Adha).  Sering sekali terjadi perdebatan antara kalangan ulama dalam menentukan pergantian sebuah bulan menurut kalender Islam. Jadi media-media semakin sering menggunakan istilah diatas yaitu, Hilal, Hisab, dan Rukyat.
           
Oleh sebab itu, artikel ini sengaja saya tulis sebagai tambahan wawasan dan referensi bagi para pembaca berkenaan dengan datangnya awal Ramadhan 1434 Hijriah yang jatuh di bulan Juli 2013. Artikel ini sejatinya tidak memihak salah satu kelompok, aliran dan sebuah organisasi tertentu, namun lebih kepada pemahaman yang saya terima.  Jadi posisi saya independent, tidak diintervensi oleh pihak siapa atau mana pun, dan hanya berpedoman kepada ilmu pengetahuan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Demikian pula dengan posisi para pembaca, saya persilahkan meyakini apa yang harus anda yakini selama ini. Kalau pun anda setuju atau tidak setuju dengan tulisan saya, maka itu hak anda. Jadi kita tidak perlu berbantah-bantahan, dan saling menyalahkan. Oke?
           
Ada baiknya sebelum masuk ke pokok permasalahan, kita bahas makna dan arti dari Hilal, Hisab dan Rukyat sehingga pemahaman kita akan lebih komplit.

  1. Pengertian Hilal
Hilal adalah sabit bulan baru yang menandai masuknya bulan baru pada sistem kalender Qomariyah atau Hijriah. Hilal merupakan fenomena tampakan Bulan yang dilihat dari Bumi setelah ijtimak atau konjungsi. Perbedaan tempat dan waktu di Bumi mempengaruhi tampakan hilal. Hilal sangat redup dibandingkan dengan cahaya Matahari atau mega senja. Dengan demikian hilal ini baru dapat diamati sesaat setelah Matahari terbenam.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tampakan hilal. Hal ini menyangkut kriteria visibilitas hilal. Kedudukan Bumi, Bulan, dan Matahari memungkinkan tinggi dan azimut Bulan dapat dihitung saat Matahari terbenam. Demikian halnya dengan beda tinggi dan jarak sudut antara Bulan dan Matahari. Tidak kalah pentingnya adalah faktor atmosfer dan kondisi pengamat yang ikut menentukan kualitas tampakan hilal.

  1. Pengertian Hisab
Secara harfiyah hisab bermakna ‘perhitungan’. Di dunia Islam istilah ‘hisab’  sering digunakan sebagai metode perhitungan matematik astronomi untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.

Penentuan posisi matahari menjadi penting karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokan waktu sholat. Sedangkan penentuan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam Kalender Hijriyah. Ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat orang mulai berpuasa, awal Syawal saat orang mengakhiri puasa dan merayakan Idul Fitri, serta awal Dzulhijjah saat orang akan wukuf haji di Arafah (9 Dzulhijjah) dan hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah).

  1. Pengertian Rukyat
Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding cahaya matahari, serta ukurannya sangat tipis.

Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya. Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.

Titik Tolak Permasalahan
                     Dalam literatur islam diceritakan bahwa jaman Rasulullah Muhammad SAW dahulu dalam menentukan rukyat berdasarkan penglihatan mata telanjang. Ketinggian hilal akan terlihat ketika posisi di atas 2 derajat. Oleh sebab itu, ketika hilal tidak nampak karena cuaca mendung maka akan digenapkan menjadi 30 hari sebagaimana bunyi hadits,  "Berpuasalah kalian karena melihat (ru’yah) hilal, dan berbukalah karena melihat hilal. Maka jika ia tertutup awan bagimu, maka sempurnkanlah bilangan Sya’ban tiga puluh.” (HR Bukhori dan Muslim).

                     Sementara dewasa ini metode Rasulullah Muhammad SAW dahulu hingga saat ini masih dipakai oleh beberapa umat islam untuk menentukan hilal (rukyat). Berdasarkan kesepakatan di kawasan Asia, tinggi hilal adalah 2 derajat. Maka, kemungkinan bulan sudah bisa terlihat. Perbedaan kriteria inilah yang menyebabkan perbedaan penentuan awal Ramadhan atau Idul Fitri. Selain bisa dilihat mata, ada kriteria lain, yaitu umur bulan delapan jam dan jarak antara matahari dan bulan sebesar tiga derajat. 

                    Di sisi lain, ada beberapa umat islam yang berpegang penuh melalui metode hisab yang berhenti di-wujudul hilal. Wujudul hilal adalah posisi bulan berada di atas 0 (nol) derajat. 

(Bersambung….)

Tetap ISTIQOMAH untuk meraih ridha Allah SWT!!!

Bagi sidang pembaca yang ingin menambah wawasan beragama, silahkan download E-Book pertama saya yang berjudul MENELADANI SPIRITUAL RASULULLAH SAW DALAM BERMA'RIFATULLAH (silahkan klik tulisan/judul di samping yang berwarna biru untuk mengetahui tata cara dan ketentuan men-download). saya juga telah me-launching E-Book kedua saya yang berjudul  MENGAJI AL-QUR'AN KEPADA ALLAH. (silahkan klik tulisan/judul di samping yang warna biru untuk mengetahui tata cara dan ketentuan men-download).

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Iwan Fahri Cahyadi
Pondok Ar-Rahman Ar-Rahim
Semarang

Jumat, 03 September 2010

Salah Alamat


SALAH ALAMAT

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kalau para sahabat dan pembaca jeli, mungkin anda sekalian akan menangkap fenomena yang menarik di masyarakat (khususnya umat islam) setiap kali bulan Ramadhan datang. Pertama, karena bulan suci ini datang setahun sekali dan di dalamnya ada aktivitas ibadah shalat tharawih maka “barang” yang sifatnya baru ini akan disenangi dengan penuh semangat oleh umat pada minggu-minggu pertama ramadhan. Lihatlah masjid di sekeliling anda, pada minggu pertama banyak jamaah yang berbondong-bondong pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat tharawih. Yang bikin kita kadang terbengong-bengong adalah pertengahan bulan ramadhan, dimana yang shalat tarawih mendadak menurun drastis. Ini tidak terjadi pada satu moment ramadhan saja, namun berulangkali setiap ramadhan menyambangi umat islam.

Kedua, Setelah separo ramadhan sepi, maka di sepuluh terakhir bulan ramadhan mendadak mesjid menjadi ramai lagi, entah apa sebabnya, mungkin salah satunya mereka beriktikaf untuk mendapatkan Lailatul Qodar.

Ketiga, Kadang sungguh keterlaluan sikap/cara kita beribadah kepada Allah SWT. Seolah-olah Allah SWT bisa kita suap. Saat kita mengharapkan sesuatu kepada-Nya, kita berlagak bermanis-manis rupa dengan cara memperbanyak beribadah. Tapi bila kita tidak merasa perlu, Allah SWT dinomorsekiankan. Lha ibadah kok dianggap bisnis, semua serba diperhitungkan untung ruginya kepada kita. Na’udzubillahi min dzalik!

Kadang saya sendiri harus mengelus dada. Namun saya mahfum. Oke-lah kalau itu memang sebatas kemampuan mereka, saya tidak bisa apa-apa. Namun yang justru urgent saya soroti di sini adalah tolong luruskan niat kita pada alamat yang tepat (hanif) untuk mendapatkan pahala 1000 bulan di sepuluh terakhir bulan ramadhan. Kenapa hal ini menggelitik pemikiran saya?

Pertama, Banyak saudara-saudara kita yang masih salah alamat dalam beribadah. Tujuan ibadah mereka masih mengharapkan pahala, apalagi bila pahalanya besar. Seolah-olah ini sebagai media barter atas dosa-dosa yang pernah dilakukan selama 11 bulan. Dengan mendapatkan Lailatul Qodar maka insya Allah, pahala mereka lebih banyak dari dosanya sehingga bisa masuk surga. Nah...justru yang aneh disini ketika ditanya,”Apakah anda mendapat Lailatul Qodar? Kalau iya apa buktinya dan kalau tidak apa buktinya?”. Pastilah yang ditanya akan bingung menjawabnya dan malah pusing tujuh keliling. Padahal Allah SWT tidak pernah menjanjikan sesuatu dalam Al-Qur’an yang tidak ada buktinya atau sebatas angan-angan atau dongeng manis belaka. Seperti juga islam, iman, dan ihsan, semua ada bukti otentiknya dari Allah SWT.

Kedua, Secara umum banyak umat islam yang masih takut masuk neraka bila dosanya lebih banyak daripada pahalanya. Mereka mengharapkan/menginginkan masuk surga. Ini salah alamat yang vital. Kenapa? Mengapa mereka tidak mempertanyakan hubungannya dengan Allah SWT selama ini selaku pemilik surga dan neraka serta pemberi pahala dan dosa? Bukankah surga dan neraka itu makhluk Allah SWT karena diciptakan? Lha kalau cara beginikan bisa jadi berabe! Demikian pula mereka yang lebih mengharap Lailatul Qodar daripada perjumpaan dengan Allah SWT, padahal yang memberi Lailatul Qodar-kan ya Allah SWT. Bagaimana kalau hubungan kita dengan Allah SWT tidak akrab, mesra dan baik-baik? Mungkinkah pahala 1000 bulan akan diberikan?

Untuk itu luruskan segala niat ibadah kita hanya semata-mata kepada Allah SWT. Perkara pahala, surga, dan lailatul qodar itu akan dengan sendirinya mengikuti kita bila cara ibadah kita sudah benar dan hubungan kita dengan Allah SWT terjalin mesra. Semua itu bonus dari-Nya. Tidaklah mungkin Allah SWT tega menelantarkan “kekasih”-Nya bila telah terjalin cinta berupa rahmat dan ridha-Nya.

Ada sedikit tips yang saya sadurkan dari tulisan Emha Ainun Najib yang cukup menarik sebagai bekal menyambut Lailatul Qodar. Semoga bermanfaat.

Yang sepenuhnya harus kita urus dalam ‘menyambut’ Lailatul Qadar adalah Reciever Spiritual kita sendiri untuk mungkin menerima Lailatul-Qadar. Kesiapan Diri kita. Kebersihan Jiwa kita. Kejernihan Ruh kita. Kepenuhan Iman kita. Totalitas iman dan kepasrahan kita. Itulah yang harus kita maksimalkan.

Kalau lampumu tak bersumbu dan tak berminyak, jangan bayangkan api. Kalau gelasmu retak, jangan mimpi menuangkan minuman. Kalau

mentalmu rapuh, jangan rindukan rasukan tenaga dalam. Kalau kaca jiwamu masih kumuh oleh kotoran-kotoran dunia, jangan minta cahaya akan memancarkan dengan jernih atasmu.

Jadi, bertapalah dengan puasamu, bersunyilah dengan i’tikafmu, mengendaplah dengan lapar dan hausmu. Membeninglah dengan rukuk dan sujudmu. Puasa mengantarkanmu menjauh dari kefanaan dunia, sehingga engkau mendekat ke alam spiritualitas. Puasa menanggalkan barang-barang pemberat pundak, nafsu-nafsu pengotor hati, serta pemilikan-pemilikan penjerat kaki kesorgaanmu.

Wallahu‘alam bishshawab...

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jumat, 11 September 2009

Meraih "Piala" Ramadhan (3)


MERAIH "PIALA" RAMADHAN (3)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Mari kita selesaikan pembahasan kita..mumpung malam 21 Ramadhan 1430 H..

Lailatul Qadar

Suatu ketika Rasulullah SAW dihadapan para sahabatnya menceritakan tentang seorang pemuda Bani Israil yang bernama Sam’un yang memiliki kekuatan fisik dan mampu beribadah sehari semalan selama 1.000 tahun (80 tahun). Pada waktu siang hari Sam’un berjihad dan malamnya beribadah, tak mengenal lelah. Kondisi inilah yang menjadikan para sahabat berdecak kagum dan “cemburu” dengan keutamaan ibadah yang mampu dijalani oleh Sam’un.

Melihat kondisi ini dan atas kemurahan Allah SWT, maka diutuslah malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu mengenai Lailatul Qadar (QS. Surat Al-Qadr 97: 1-5). Pada ayat tersebut, Allah SAW menghibur umat islam, bahwa dalam bulan Ramadhan ada satu malam yang tingkat ibadahnya sama dengan 1.000 bulan (Lailatul Qadar).

Banyak literatur islam yang mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar akan turun pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, ada juga yang mensinyalir malam ganjil 10 hari terakhir Ramadhan, bahkan ada mengerucutkan pada malam 27 Ramadhan. Bahkan ada literatur yang menyebutkan ciri-ciri turunnya Lailatul Qadar seperti siang hari tidak panas dan mendung, langit bersih dari awan, angin bertiup sepoi-sepoi dan masih banyak lagi. Apakah ini benar? Wallahualam bi Shawab.

Adapun sikap kita sebagai orang beriman hendaklah jangan sampai membeda-bedakan kemuliaan hari satu dengan hari lainnya di bulan suci Ramadhan. Tetaplah berniat, beribadah dan berfokus hanya semata-mata karena Allah SWT. Dengan niat yang ikhlas, cinta dan berpasrah diri kepada Allah SWT, Insya Allah, dengan kemurahan-Nya kita akan mendapatkan Lailatul Qadar. Jadi Lailatul Qadar adalah “bonus” dari Allah SWT karena semata-mata niat hamba-Nya yang benar dalam menjalankan ibadah.

Namun sebagai gambaran, seperti yang ditulis oleh Sayyid Qutub dalam salah satu kitabnya yaitu Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, bahwa malam Lailatul Qadar bermandikan cahaya Allah, cahaya malaikat dan cahaya ruh hingga terbit fajar. Inilah yang saya kemukakan sebelumnya bahwa umat islam hendaknya melibatkan dimensi fisik dan ruhani. Kenapa? Karena tanda Lailatul Qadar diturunkan dalam bentuk dimensi cahaya (non materi) dan hanya ruhani-lah yang mampu menyaksikan, karena hakekatnya ruhani juga berdimensi non materi.

Selain surat Al-Qadr 97 : 1-5 yang menerangkan peristiwa Lailatul Qadar, di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menerangkan secara tersirat ciri-ciri hamba-Nya yang mendapat Lailatul Qadar, yaitu:

“...Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki...,” (QS. An-Nur 24 : 35).

Cahaya itu berarti atau menggambarkan warna putih, bersih dan cemerlang. Ini pertanda bahwa Allah SWT menurunkan rahmat, berkah dan ampunan atas dosa-dosa hamba-Nya yang mendapatkan Lailatul Qadar. Maka Ramadhan identik dengan bulan suci yang penuh rahmat, berkah dan ampunan.

Demikian sekilas uraian saya, semoga dengan sisa waktu pada bulan Ramadhan 1430 H ini, Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, berkah dan maghfirah-Nya kepada umat islam dan menerima amal ibadah kita semua. Amin.

Selesai, 21-Ramadhan-1430 H

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri
Shalat Center Halaqah Sampangan Semarang

Kamis, 10 September 2009

Meraih "Piala" Ramadhan (2)

MERAIH "PIALA" RAMADHAN (2)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.


Para sahabat dan sidang pembaca, mari kita lanjutkan pembahasan kita dengan sub topik Nuzulul Qur'an.

Nuzulul Qur’an

Sebelum memasuki uraian pembahasan apa itu Nuzulul Qur’an, mari kita simak ayat Al-Qur’an berikut ini :

“(Beberapa hari yang telah ditentukan itu) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)...,(QS. Al-Baqarah 2 : 185).

Setiap tanggal 17 Ramadhan, umat islam memperingati peristiwa Nuzulul Qur’an sebagai bentuk penghormatan atas firman Allah SWT yang diturunkan (diwahyukan) pertama kali pada paruh kedua bulan Ramadhan, 14 abad yang lalu, melalui Rasulullah SAW saat berkhalwat di Gua Hira. Sebuah peringatan yang sebenarnya memiliki arti yang sangat dalam, salah satunya yaitu sebagai bahan intropeksi diri bagi umat islam dalam men-tadabbur-i (merenungkannya) kalam Illahi. Tetapi sungguh disayangkan, banyak dari kalangan umat islam sendiri tidak mau mengambil momentum ini sekaligus menggali lebih jauh makna (hakikat) dari peringatan Nuzulul Qur’an.

Banyak dari umat islam sendiri yang menganggap bahwa peristiwa ini hanya sebatas seremonial saja. Sungguh disayangkan. Padahal tidaklah demikian. Banyak sekali hikmah yang terkandung di dalamnya, seperti mengapa Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan? Apa hubungan Al-Qur’an dengan angka 17? Ternyata dibalik peristiwa ini semua berkaitan erat dengan jumlah rakaat shalat fardhu yang ditunaikan dalam sehari semalam. Shalat Isya’ terdiri dari 4 rakaat, Subuh 2 rakaat, Dhuhur 4 rakaat, Ashar 4 rakaat dan Maghrib 3 rakaat, sehingga kalau dijumlah secara keseluruhan sebanyak 17 rakaat.

Peringatan Nuzulul Qur’an sebenarnya juga memiliki makna untuk mengingatkan kembali perilaku (sikap) umat islam dalam “membumikan” Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an bukan saja firman Illahi dan mu’jizat yang diberikan kepada Rasulullah SAW, tetapi esensinya adalah pedoman hidup umat islam sampai hari kiamat, karena Al-Qur’an tidak akan pernah usang sampai akhir zaman. Pemahaman ayat-ayatnya selalu memiliki makna yang up to date sesuai perkembangan jaman. Tanpa berpedoman dengan Al-Qur’an maka dapat dipastikan perilaku kita sehari-hari akan jauh dari kebenaran.

Memang kalau melihat perkembangan akhir-akhir ini dan minat mempelajari kitab suci ini cukup menggembirakan, seperti banyak didirikan TPQ, metode atau cara belajar membaca Al-Qur’an dengan waktu singkat atau Al-Qur’an dikemas dalam bentuk media elektronik agar mudah dipelajari, dan yang tak kalah pentingnya adalah masih diadakannya lomba MTQ secara periodik. Namun ini belumlah cukup karena Al-Qur’an tidak hanya dipelajari dan dibaca. Justru yang terpenting adalah memahami maknanya dan mengaplikasikan dalam perilaku (ahlak) kehidupan sehari-hari. Sehingga umat islam betul-betul menjadi umat yang rahmatan lil ‘alamin.

Yang lebih memprihatinkan lagi banyak kalangan dari umat islam sendiri jarang menyentuh Al-Qur’an, apalagi membuka, membaca dan mempelajari isinya. Kitab suci ini hanya sebagai penghias lemari buku saja dan sebagai penunjuk identitas agama yang dianutnya. Hal ini disebabkan umat islam kurang harmoni dalam me-manage waktu antara kebutuhan dunia dan akhirat. Bahkan saat ini banyak yang tenggelam dalam aktivitas duniawi. Maka tidak mengherankan bila dewasa ini banyak terjadi dekadensi moral, terutama di kalangan kawula muda.

Sedikit uraian diatas sebenarnya syarat bila umat islam ingin meraih Nuzulul Qur’an, yaitu menjaga ke-ajeg-an shalat fardhu (diisyaratkan dengan tanggal 17 Ramadhan) serta bersedia mengaplikasikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah, bagi yang mampu menjalankannya akan mendapatkan karunia Nuzulul Qur’an berupa pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an, sesuai dengan firman Allah SWT berikut ini,

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Fatir 35 : 32).

“Dialah yang mengajarkan Al-Qur’an.”(QS. Ar-Rahman 55 : 2).

Cara Allah SWT mengajarkan pemahaman Al-Qur’an memang terkadang unik. Dimana uniknya? Kadang pemahaman langsung diturunkan ke hati/dada hamba-Nya, kadang anda diperjalankan dahulu baru kemudian dipahamkan ayat-Nya, dll. Kondisi ini juga dialami Rasulullah SAW, dimana Allah SWT menurunkan pemahaman Al-Qur’an secara bertahap. Tidak sekaligus.

”Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuat pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya”. (Al-Qiyamah 75 : 16-19).

”Allah menganugerahkan al-Hikmah (Kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Surat Al-Baqarah 2 : 269).

”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. (Al-Baqarah 2 : 147)

Yang perlu menjadi catatan disini adalah beda maknanya antara anda tahu (belajar sendiri, entah itu dari ustadz, buku, dll) dan paham (diajarkan oleh Allah SWT). Tahu sifatnya sementara sehingga kadang manusia akan lupa karena tahu adalah hasil dari olah pikir/otak. Sedangkan paham sifatnya kekal karena hasil pengajaran Allah SWT yang ditanamkan dalam hati hamba-Nya dan sang hamba mengalami peristiwa ayat tersebut. Proses ajar mengajar ini berlangsung terus menerus sampai ajal menjemput. Sang hamba juga akan dipelihara dan dijaga oleh Allah SWT selama masa hidup-Nya. Inilah makna sebenarnya dari Nuzulul Qur’an.

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri
Shalat Center-Halaqah Sampangan Semarang