DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Mei 2013

PUISI CINTA KEPADA ALLAH

Puisi Cinta Kepada Allah

Allah itu Maha Indah. Terkadang keindahannya menyapa dalam relung batin kita dalam bentuk romantisme berupa kerinduan dan cinta. Namun tidak semua makhluk-Nya mampu menerima sinyal-sinyal itu. Hanya mereka yang mau mendekat kepada-Nya, akan menerima balasan cinta dan kerinduan-Nya. Para sahabat inilah hadiah dariku yang kepersembahkan kepadamu, berupa PUISI CINTA KEPADA ALLAH yang perlu engkau pahami dan renungkan secara mendalam. Semoga bermanfaat.

KERINDUAN (IN THE BEGINNING)

Sapaan hening dan dingin semilir angin malam
Membelaiku dalam kerinduan yang teramat dalam
Nyanyian simphoni sang rembulan dan bintang gemintang
Membuat hamba larut dalam kerinduan

Duhai Kekasih…
Begitu lama Engkau perjalankan hamba seperti Ibrahim
Mencari gerangan dimana Sang Kekasih bersemayam
Kini itu semua..telah kulalui dengan ijin-Mu
Ketika Engkau membisikkan…”Hadapkan wajahmu dengan hanif”

Duhai Sang Pujaan…
Hampir 40 tahun lamanya…Engkau tutup tirai elok wajah-Mu
Namun itu semua…semata-mata karena kebodohanku
Yang bergelimang dalam hijab-hijab kesombonganku

Wahai Yang Maha Indah
Sekian lama Engkau Musa-kan hamba
Dengan ketidakpercayaan tentang keberadaan-Mu
Namun kini…Engkau dudukkan hamba…di “bukit Tursina”
Hancur lebur…terurai…hampa…menjelma menjadi cahaya
Bersimbah penyesalan dan tangisan, bersujud di hadapan-Mu

Wahai Dzat Yang Maha Lembut
Begitu lama Engkau Muhammad-kan dalam kegelisahan
‘Tuk menemukan Yang Sejati…Illahi Robbi
Kini…Engkau dudukkan hamba…dalam “Gua Hira”
Lautan cinta yang tak terukur kedalamannya
Samudera cinta yang tak bertepi

Aahhh…Mengapa sekarang baru terjadi
Bodohnya hamba, dungunya hamba
Setelah kuhabiskan waktu begitu lama
Dalam keterombang-ambingan yang fana

Terima kasih…duhai Kekasih
Di sisa-sisa usiaku…Engkau perkenankan aku
Untuk mengenal-Mu…berada di dalam wilayah-Mu
Ya Ghofar…Ya Rahman…Ya Rahim…Ya Quddus..
Shalatku, ibadahku, hidup dan matiku..
Kuserahkan dengan tulus…kepada-Mu

JALAN TUHAN (IN THE PROCESSING 1)

Inilah jalan Tuhan, jalan yang tidak semua orang mampu menjalani
Berbagai onak dan duri harus kau lalui
Badai dan taufan akan kau hadapi
Fitnah dan ghibah akan kau dengar setiap hari

Kenikmatan duniawimu untuk sementara akan dicabut
Agar engkau tidak disibukkan dengan masalah yang remeh
Hingga mencapai suatu batas kesanggupanmu mengenal Tuhanmu
Titik nadir kehidupan adalah titik awal menuju kebahagiaan

Bukankah cinta harus ada pengorbanan?
Bukankah kerinduan terfokus hanya pada satu tujuan?
Bukankah kasih sayang perlu kepedulian?
Bukankah kedamaian diraih dengan perjuangan?

Ya Rabb....rengkuhlah hamba dalam belaian-Mu
Ya Rabb....dekaplah hamba dalam pelukan-Mu
Ya Rabb....tuntunlah hamba senantiasa menuju kepada-Mu
Hingga ujung waktu...

AL-FITRAH AL-MUNAZALAH (IN THE PROCESSING 2)

Aku tidak berbentuk namun keberadaanku di dalam sekaligus di luar
Wujudku immaterial namun bisa dirasakan
Ibarat angin...tidak berbentuk namun ada
Berkelana menembus ruang dan waktu yang tak terbatas

Aku ada namun tidak butuh apa-apa
Tidak pernah sakit, lapar, haus, dan tidur
Keinginanku cuma satu...selalu kembali ke haribaan Illahi
Karena aku adalah amr Tuhan

Kadang aku menangis terbelenggu oleh nafsu
Merintih tak berdaya....Menjerit tak bersuara
Akulah mutiara yang tenggelam dalam lumpur hitam
Bebaskan...lepaskan...biarlah aku menuju kepada yang Sejati

Akulah sebenarnya Sang Penguasa
Atas nafsuku, pikiranku, qalbuku, akalku dan ragaku
Akulah sejatinya Sang Panglima
Yang kmenggerakan seluruh perangkatku menuju Illahi Rabbi

Sabar, ikhlas, tawakal dan istiqomah adalah pondasiku
Shalat dan zakat adalah saranaku
Ramadhan adalah penyucianku
Haji adalah pembuktianku
Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu

Biarkan diriku selalu berada dalam alam kelanggengan
Menatap indah penuh pesona Sang Pujaan
Biarlah aku meringkuk penuh kemesraan
Oleh belaian Sang Kekasih Tersayang

Biarkan aku melepas rindu
Dalam lautan asmara yang menggebu-gebu
Diliputi rasa cinta yang tak pernah layu
Bagaikan kekasih yang lama tidak bertemu

INNA LILLAHI WA INNA ILLAIHI ROJI’UUN (IN THE END)

Aku adalah lelaki tersembunyi...
"Ayahku" Qudrat..."Ibuku" Iradat..."Diriku" Takdir
Aku dijuluki orang pinggiran ditelan gemuruh gelombang jaman...
Sebab perilakuku keluar dari jalur sistem "kebenaran" manusia....
Biarlah mereka menganggapku aneh, gila, majnun...terserah....
Kumaafkan sebelum mereka menghinaku...sebab mereka tidak tahu…
Tidak mengerti dan memahami hakiki hidup ini....
Biarlah aku menyendiri...cukup Allah SWT yang menemani...
Diliputi rasa kebahagiaan, kemesraan, kedamaian dan kenyamanan
Yang tak terbeli oleh apa dan siapapun....
Biarlah diri ini sirna, terurai, musnah dan lenyap....
Inna Lillahi wa inna Illaihi Roji'uun......


Marilah kita tetap ISTIQOMAH untuk meraih ridha Allah SWT!!! 
Untuk menambah wawasan beragama anda silahkan download E-Book (Electronic Book) Pertama saya yang berjudul : MENELADANI SPIRITUAL RASULULLAH SAW DALAM BERMA'RIFATULLAH dan E-Book Kedua : MENGAJI AL-QUR'AN KEPADA ALLAH. 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Iwan Fahri Cahyadi
Pondok Ar-Rahman Ar-Rahim
Semarang

Selasa, 11 Agustus 2009

Mabuk Cinta & Sebuah Pengajaran


MABUK CINTA DAN SEBUAH PENGAJARAN

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Para sahabat dan sidang pembaca yang dicintai, dirahmati dan dimuliakan Allah SWT.

Tadi malam ketika saya sedang menikmati sebatang rokok sambil berdzikir, tiba-tiba ada yang menelusup halus dan menguak qolbu. Saya mencoba untuk menyelami dengan berdiam diri dan pasrah. Ada apakah gerangan?

Ternyata Allah SWT sedang menyapaku dengan cintanya, sebuah cinta sejati yang tidak mampu (maaf) saya uraikan dengan kata-kata. Begitu halus cinta-Nya menyelubungi dadaku. Duhai Al-Lathief inikah jawaban Engkau ketika diriku selalu merindukan-Mu.

Inikah proses “Anzalla sakinah” ketika ketenangan, kedamaian, keheningan, kesunyian, kebeningan dan lautan cinta Engkau tumpahkan ke dadaku. Inilah cinta sejati antara Rabb dengan hamba-Nya. Bukan seperti cinta fatamorgana seorang hamba kepada makhluk-makhluk-Nya. Tak terasa terburai do’a-do’a yang menyambut belaian Rabb-ku.

Ya..Allah…
Tenggelamkan hamba ke dalam lautan cinta-Mu
Yang dalam tak terselami
Yang luas tak bertepi

Ya Rahman…Ya Rahim
Jangan Kau cabut cinta ini dari dadaku
Ijinkan hamba selalu menatap indah wajah-Mu
Seperti dahulu kala ketika hamba berada dalam alam azali

Duhai Al-Aziz…
Biarkan manusia mencampakkanku, hamba tidak peduli
Asalkan Engkau selalu membelai diriku dengan cinta-Mu
Biarkan makhluk-Mu mengasingkan diriku, aku tidak peduli
Asalkan Engkau selalu mendekapku dalam pelukan-Mu

Perlahan saya mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah shalat Isya’. Allah SWT menuntunku untuk bersuci. Wajahku seperti disentuh dengan kelembutan. Tanganku seperti diusap dengan kasih sayang. Kepalaku seperti disiram dengan kerinduan. Mata, telinga dan mulutku terbebas dari suara dunia, hanya kesadaranku yang menguasaiku. Kakiku seperti dibasuh untuk segera masuk dalam ruang mihrabku.

"Ya Allah pertahankan rasa ini, tanamkan cinta ini, tuntun shalat hamba ya Allah",…segera kumasuki shalat Isya’ dengan kepasrahan totalitas. Bergemalah dalam shalatku dengan 5 dzikir sekaligus. Dzikir Lisan, Qalbu, An-Nafs, Ar-Ruh dan Sirr. Sungguh rahmat dan nikmat yang tak terkira.

Diriku fana, badanku menjadi serpihan-serpihan tak berguna dihadapan-Nya, hancur lebur tak berbekas. Para sahabat, engkau akan menyaksikan diri-Nya ketika engkau tiada. La Syarkiyya wa La Qarbiya…..

Takbiratul Ihramku, berdiriku, ruku’ku, i’tidalku, sujudku, duduk iftirajku, bahkan sampai salamku semua menjadi irama yang indah, sambung menyambung, tunduk dan patuh. Laksana langit, bumi, bulan, bintang, matahari dan alam semesta bertasbih dan bersujud kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Ketika salam menyapaku, kupinta kepada-Nya,”Ya..Allah jangan kau cabut cinta-Mu, mohon ijinkan hamba duduk tafakur dihadapan-Mu”. Allah SWT mengabulkan permohonanku. Tidak berapa lama Allah SWT mengajarkan sesuatu kepadaku.

“Duhai hamba-Ku, lihatlah makhluk-makhluk-Ku yang sekarang sedang tertipu dengan hingar bingar dunia. Mereka disibukkan dengan permainan dan sendau gurau dunia. Cobalah perhatikan…betapa sia-sianya hidup mereka. Mengejar angan-angan belaka. Seolah-olah itu membahagiakan dirinya. Mereka sungguh-sungguh tertipu. Mereka dipermainkan oleh persepsinya, nafsunya, egonya…..”

Aku hanya tertunduk dan meng-iya-kan,”Betul ya..Allah. Itu juga yang pernah hamba alami. Maafkan hamba ya Allah. Terima kasih ya Allah…Engkau memberi pelajaran kepada hamba, Engkau pahamkan hamba…”. Tak terasa air mataku ingin tumpah. Namun Allah SWT menahannya,”Jangan engkau bersedih. Datanglah segera kemari, peluk Aku, dekap Aku….maka kedamaian akan menyelimutimu”. Subhanallah….

Aku masuk semakin dalam…ketika tiba-tiba Allah SWT menyadarkanku dan menyuruh untuk menulis pengalaman spiritualku kepada para sahabat dan sidang pembaca. Kutengok sejenak jam dinding disampingku. Subhanallah, Alhamdulillah, Laailahaialllah, Allahu Akbar…hampir 1,5 jam aku menjalani prosesi shalat Isya’-ku. Seandainya Allah SWT tidak segera menyuruhku, tidak ingin aku memalingkan wajahku dari-Nya, mungkin saja saya tidak akan menulis artikel dan berbagi pengalaman spiritualku. Cukuplah menjadi rahasia antara Rabb-ku dan aku.

Semoga para sahabat dan sidang pembaca dapat mengalami apa yang pernah saya alami, meskipun dengan pengajaran yang berbeda. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Fahri-Penulis
Shalat Center Halaqah Sampangan Semarang
www.akubersujud.blogspot.com

Sabtu, 01 Agustus 2009

Maafkan Aku Tidak Mencintamu


MAAFKAN AKU TIDAK MINCINTAIMU

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Para sahabat dan sidang pembaca yang dirahmati, dicintai dan dimuliakan Allah SWT.

Tanggal 31-Juli-2009 kemarin, kami (beberapa sahabat dalam komunitas Shalat Center Halaqah Sampangan Semarang) secara kebetulan (diperjalankan Allah) dipertemukan dalam satu masjid. Walaupun pertemuan itu relative singkat, Insya Allah tetap ada manfaat (ilmu) yang kami peroleh.

Setelah sejenak memberikan salam dan menanyakan kondisi masing-masing serta keluarga, kami langsung “tancap gas” sharing perihal pengalaman yang dialami selama beberapa hari selama tidak bertatap muka. Dalam artikel ini saya akan menceritakan pengalaman yang dialami sahabat kami saudara Hari Purnomo.

Sebelumnya ijinkan saya menceritakan sedikit (kilas balik). Setelah SC-HSS terbentuk dan memiliki acara tetap hari Sabtu malam Minggu, syukur Alhamdulillah dari beberapa sahabat juga “memperlebar sayap” dengan membuka pengajian, salah satunya adalah sahabat saya Hari Purnomo yang membuat halaqah kecil setiap Jumat sore setelah shalat Ashar. Inilah yang akan saya ceritakan kepada para sahabat dan sidang pembaca tentang salah satu topik pertemuan.

Jum’at suatu sore, sahabat saya yang didampingi istrinya (kebetulan jamaah selain pria juga ada wanita) memberikan pernyataan yang membuat para jamaah terperanjat dan bertanya-tanya. Apakah pernyataan itu?

“Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, pernahkah anda tahu bahwa saya akhir-akhir ini tidak lagi mencintai istri dan bahkan anak-anak saya?” begitu kata sahabat Hari Purnomo sambil menunjuk kepada istrinya.

Jamaah sejenak terdiam mendengar pernyataan tersebut, bahkan ada yang sedikit agak shock. Setelah mereka tenang dan sadar, baru kemudian muncullah beberapa pertanyaan dari para jamaah. Baik yang serius, heran dan ada yang sedikit nakal.

“Wah Pak Hari ini ada-ada saja!”

“Masak sih? Padahal saya lihat selama ini rumah tangga Pak Hari adem-adem saja?”

“Mau kawin lagi ya Mas? Atau mau Poligami?”

Sahabat saya hanya tersenyum penuh makna. Setelah jamaah agak tenang, kemudian baru dia menerangkan pernyataannya tadi sambil mengutip ayat Al-Qur’an,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….(QS. At-Tahrim 66 : 6).

“Begini para jamaah sekalian. Saya ini sebenarnya sangat mengasihi mereka namun tidak mencintai mereka. Kenapa? Pertama, bahwa yang namanya cinta hanya saya peruntukkan hanya kepada Allah SWT. Sedangkan kasih sayang saya tebarkan kepada seluruh makhluk-makhluk Allah SWT tanpa kecuali, termasuk istri dan anak saya. Cinta itu derajatnya lebih tinggi daripada kasih sayang. Cinta itu khusus dipersembahkan kepada Allah SWT, sedangkan kasih sayang sifatnya lebih umum. Oleh karena itu yang namanya cinta itu tidak bisa dibagi-bagi maupun setengah-setengah, harus totalitas, sementara kasih sayang itu bisa dibagi-bagi.”

“Yang kedua, Kalau saya mencintai istri dan anak-anak saya, berarti saya justru menjerumuskan dan tidak memelihara keluarga saya agar selamat dari api neraka. Bagaimana saya dapat menyelematkan mereka kalau saya juga termasuk penghuni neraka. Kenapa? karena saya lebih mencintai mereka (keluarga) daripada Allah SWT”.

Sejenak para jamaah terdiam dan merenungkan pernyataan sahabat saya. Kemudian tidak berapa lama mereka perlahan-lahan menganggukkan kepalanya, tanda bahwa mereka mulai paham apa yang diuraikan oleh Mas Hari. Kemudian sahabat saya melanjutkan dengan menukilkan ayat Al-Qur’an,

“Dia-lah Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi…(QS. Ibrahim 14 : 2).

“Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada diantara keduanya dan semua yang ada di bawah tanah,..(QS. Thaha 20 : 6).

“Jadi Allah-lah yang memiliki semuanya, kita manusia tidak berhak mengklaim bahwa keluarga, kekayaan, jabatan, dll itu milik kita. Jangan sekali-kali bapak-bapak dan ibu-ibu lakukan. Kalau hal ini jamaah lakukan maka saudara-saudara bersiap-siaplah akan berhadapan dengan masalah. Misalnya, anda tidak rela ketika apa yang anda klaim selama ini diambil oleh Allah, maka saudara-saudara akan stress, kecewa, sedih, dll.”

Kemudian sahabat saya melanjutkan, “Beda bila saudara-saudara memiliki kesadaran bahwa apa-apa yang dititipkan (amanah) dari Allah SWT diambil yang berhak memiliki yaitu Allah SWT, maka anda tidak akan merasa kehilangan, karena selama ini saudara-saudara hanya dipinjami saja. Wajarkan bila yang meminjami mengambil sesuatu yang dititipkan. Yang perlu diperhatikan juga, kalau hati kita sudah tertambat kepada sesuatu yang selain Allah SWT, maka bersiap-siaplah saudara-saudara akan lalai untuk mengingat Allah SWT.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah…”(QS. Al-Munafiqun 63 : 9).

“…..Tidaklah kehidupan dunia melainkan harta benda yang memperdayakan,..” (QS. Ali Imran 3 : 185)

“…Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang kafir,.. (QS. Al-An’am 6: 130).

“Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Tentunya kita semua berhak dan boleh hidup bahagia dan kaya di dunia ini. Namun yang perlu diingat, janganlah dunia ini melenakan dan menghanyutkan kita. Jadikanlah dunia ini sebagai sarana untuk menuju kepada Allah SWT sehingga kita mendapatkan rahmat dan ridho dari-Nya”.

Demikian Mas Hari menutup ceritanya. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Kami kemudian saling berpamitan dan mengucapkan salam. Karena kami juga ditunggu kewajiban kami yang lain yaitu mencari nafkah.

Demikian sedikit sumbangsih dari saya, semoga bermanfaat. Amin ya Rabbal’alamin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Hari Purnomo-Ide Artikel
Fahri-Penulis dan Lay Out
Shalat Center Halaqah Sampangan Semarang

Rabu, 24 Juni 2009

Menakar Kadar Cinta Kita Kepada Allah SWT


MENAKAR KADAR CINTA KITA KEPADA ALLAH SWT

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Para sahabat dan sidang pembaca yang dimuliakan, dirahmati dan dicintai Allah SWT.

Saat cinta datang menyambangi hati manusia maka kita tidak mampu menolaknya. Cinta kadang tidak direncanakan dan tiba-tiba datang menyergap kehidupan. Ketika cinta merasuki hati setiap insan maka hidup ini terasa indah berhiaskan senyuman, nyaman, penuh kasih sayang, tidak mudah tersinggung, dan suasana hidup menjadi berbunga-bunga.

Bahkan bagi kawula muda, jatuh cinta dianggap segala-galanya. Kadang tidak peduli dengan nasehat orang tua. Waktu, pikiran dan tenaga dikorbankan buat si dia. Tidak peduli siang dan malam, panas dan hujan, tanpa si dia disisinya dunia terasa hampa. Hidup tak bergairah. Tidak nafsu makan dan susah tidur. Dalam bahasa gaul, inilah yang biasa disebut dengan cinta buta. Segala logika terabaikan.

Namun cinta kadang membuat manusia kalap, ketika cinta tidak bersambut. Bahkan tak jarang segala perbuatannya yang dilakukan diluar akal sehat dan sulit dicerna. Segala jalan ditempuh untuk mendapatkan cinta, meski cinta itu menjauh darinya. Dan puncaknya adalah kebencian yang membara, ketika cinta tidak menyambutnya.

Kata cinta sungguh sulit didefinisikan, namun mudah dirasakan dan dipahami. Banyak manusia yang sedang jatuh berusaha mendefinisikan apa itu cinta. Namun anehnya antara satu manusia dengan manusia yang lain memiliki definisi yang berbeda-beda meskipun topik bahasannya sama yaitu cinta. Tetapi jika cinta itu dirasakan dan dipahami, tanpa perlu didefinisikan maka melalui bahasa universal manusia, “makhluk” yang bernama cinta akan memiliki kefahaman yang sama, tanpa susah-susah dijabarkan.

Ya, cinta adalah anugerah Allah SWT kepada makhluk-makhluknya tanpa membeda-bedakan apakah dia kaya, miskin, tua, muda, dsb. Tanpa cinta hidup akan dipenuhi dengan kekerasan, kelicikan, kesombongan, dll. Cinta itu fitrah manusia sekaligus bahasa universal. Melalui bahasa universal inilah manusia diharapkan dapat memberikan kasih sayang kepada semua makhluk yang ada dimuka bumi ini sesuai dengan derajat atau kadar cinta itu. Ada cinta kepada pasangannya, keluarga, sahabat, tetangga, teman, hewan dan tanaman peliharaannya, dsb. Inilah the power of love.

Demikian pula Allah SWT, Dia-lah benar-benar pecinta sejati kepada makhluk-makhluk-Nya yang tercermin dalam asma-Nya, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Allah SWT tidak pernah mendzalimi manusia, tetapi manusia-lah yang mendzalimi diri sendiri.

“Sesungguhnya Allah tiada mendzalimi manusia, tetapi manusialah yang mendzalimi dirinya sendiri”. (QS. Yunus 10 : 44).

Kalau begitu besarnya cinta Allah SWT kepada manusia, maka seberapakah besarnya kadar cinta kepada Allah SWT? Apa bukti atau tanda kalau kita cinta kepada Allah SWT? Padahal sering bahkan teramat sering kita bilang bahwa kita cinta kepada Allah SWT.

Ketika Allah SWT menyapa manusia melalui suara adzan, kadang kita berucap diluar kesadaran, seperti mengucapkan,” Yah...sudah waktunya adzan nih! Padahal kerjaan masih banyak dan segera harus selesai!” dengan nada suara yang agak “berbau” malas dan ogah-ogahan. Seolah shalat hanya menghabiskan jatah waktu kita.

Atau sering pula “rasa lega” timbul ketika shalat kita mendekati salam karena sebentar lagi terbebas dari kewajiban. Inikah bukti bahwa kita cinta kepada Allah SWT? Maukah kita disebut Allah SWT dalam golongan orang-orang munafik?

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas....”.(QS. An-Nisa’ 4 :142).

Sering pula kita tidak mau menerima pemberian dari Allah SWT karena pemberian itu tidak sesuai dengan keinginan (nafsu). Bahkan tidak jarang bila kita mempunyai hajat dan mohon dikabulkan tetapi Allah SWT tidak memberinya maka kita menuntut hak kita, bahkan bila do’a tidak dikabulkan timbul persepsi negatif seperti menganggap Allah SWT tidak sayang, tidak adil, dsb. Seolah-olah kewajiban yang kita jalankan selama ini (shalat, puasa, zakat, shadaqah, haji, dll) sebagai “barang dagangan” untuk menyuap Allah SWT.

Padahal tidak terkabulnya keinginan atau do’a adalah salah satu bentuk cinta Allah SWT kepada hamba-Nya. Belum tentu apa yang kita minta itu baik bahkan bisa mencelakakan kita. Karena Allah SWT lebih tahu hal yang terbaik bagi abdi-Nya.

“...boleh jadi kamu benci sesuatu, sedang ia lebih baik bagimu; boleh jadi kamu kasihi sesuatu, sedang ia mudharat bagimu. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-Baqarah 2 : 216).

Lalu takaran apa yang menandakan kadar cinta kepada Allah SWT?

1. Rindu. Orang yang dirundung cinta pasti selalu diliputi rasa rindu untuk selalu bertemu atau berjumpa dengan kekasihnya. Demikian pula orang-orang yang beriman selalu rindu untuk selalu bertemu atau berjumpa dengan Allah SWT. Salah satunya diejawantahkan dalam perilaku shalatnya, yaitu shalat yang khusyu’. Shalat yang penuh dengan suasana kemesraan sehingga selalu ingin berlama-lama bertemu dengan “Sang Kekasih” yaitu Allah SWT.

2. Berkorban. Seorang yang dilanda cinta pasti mau berkorban dengan ikhlas untuk mendapatkan cinta dari “Sang Kekasih” baik berkorban dengan perkataan (menyampaikan yang haq), perbuatan (amar makruf nahi munkar), harta bahkan jiwa sekalipun.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya; kemudian dia tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujurat 49 : 15).

3. Menerima dan bersyukur atas segala pemberian dari Allah SWT, apapun bentuknya, sehingga kita tidak menaruh prasangka buruk kepada “Sang Kekasih” sehingga Allah SWT merahmati dan meridhai kita.

Demikian sedikit sumbangsih saya, semoga bermanfaat. Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Fahri
SC-HSS
www.akubersujud.blogspot.com

Senin, 18 Mei 2009

Munajat Cinta Seorang Hamba


MUNAJAT CINTA SEORANG HAMBA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Para sahabat yang dimuliakan, dicintai dan dirahmati Allah SWT. Ijinkanlah saya menyuarakan hati nurani saya dalam bentuk puisi bukan dalam bentuk artikel. Semoga para sahabat dapat mengambil hikmah dan semoga bermanfaat.

Wal ’Ashri...(Demi Sang Pencipta Masa)
Kebingungan demi kebingungan membelenggu diriku
Jalan curam dan terjal penuh pendakian, berselimutkan keringat darah
Duhai Kekasih, hamba sungguh rugi melalaikan waktu yang terus mengejarku

Rangkaian do’a demi rangkaian do’a, ku panjatkan sepanjang waktu
Jeritan hati, lolongan nurani dan tangisan insani
Untaian kerinduan demi meraih cinta yang sejati
Dimana Engkau duhai Sang Kekasih?

Buta matahatiku, hilang kesadaran akalku, diberangus yang palsu
Ternyata Sang Kekasih Sejati
Begitu dekat...bahkan sangat-sangat dekat
Lebih dekat daripada urat leherku

Kini telah kutemukan Engkau
Semata-mata karena rahmat dan ridho-Mu
Kau hujamkan iman dalam dadaku bersama cinta dan kasih sayang-Mu
Kudekap erat, takkan mungkin ku-lepas, kupatri dalam hati, cinta mati

Duhai Rabb
Kerinduan ini semakin nyata dan membara
Telah beku dalam diriku, selain-Mu
Untuk segera bertemu dengan-Mu, disisi-Mu

Poetri by Fahri

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



Fahri
SC-HSS