DAPAT UANG MELALUI INTERNET

Tampilkan postingan dengan label mengaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengaji. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juni 2013

AL-QUR’AN : ANTARA PEDOMAN, HIASAN DAN BEDA PENAFSIRAN (2)


Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Secara umum, memang ada kesalah-kaprahan dalam memaknai kata “mengaji” yang hingga saat ini dipahami hampir sebagian besar  umat islam, khususnya di Indonesia. Mengaji diidentikkan sebatas dengan membaca dan atau menghafal Al-Qur’an. Padahal secara tata bahasa kata “mengaji” berasal dari kata dasar “kaji” yang artinya mendalami. Jadi ketika kata dasar “kaji” ditambah dengan awalan “meng” maka artinya seseorang secara aktif harus mempelajari lebih mendalam atas informasi yang diperolehnya. Baik itu saat mendengar tausyiah, mendatangi majelis taklim, dan lain sebagainya. Itu mengapa Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “Belajarlah dari ayunan (anak-anak) sampai liang lahat”. Artinya, sungguh banyak ilmu pengetahuan dan hikmah yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Lalu bagaimana cara mengaji Al-Qur’an kepada Allah SWT? Hakikinya  semua umat islam dapat mempelajari dan memahami isi kandungan Al-Qur’an dengan cara meneladani apa yang pernah dicontohkan Rasulullah SAW. Bukankah Al-Qur’an diturunkan sebagai rahmat semesta alam? Kalau ada pendapat bahwa Allah SWT tidak mungkin mengajarkan isi kandungan Al-Qur’an kepada umat islam yang awam dan hanya dikhususkan kepada para pemegang otoritas agama saja, maka pendapat itu patut dipertanyakan.
Justru yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kalau pemahaman isi Al-Qur’an dikhususkan kepada pemegang otoritas agama, namun realita justru menunjukan sebaliknya? Misalnya, antara satu pemegang otoritas agama dengan yang lainnya memiliki penafsiran berbeda dalam memahami suatu ayat yang sama atau mengambil dalil ayat-ayat yang berbeda (tidak holistik) dalam menjustifikasi (menyimpulkan) satu topik permasalahan yang dihadapi umat? Mengapa hal ini bisa terjadi?  Ambillah contoh tentang fatwa haram terhadap rokok di Indonesia. Antara satu tokoh agama dengan lainnya berbeda dalam menyikapinya. Mengapa? Sebab di dalam mengambil keputusan berdasarkan sudut pandang masing-masing dan terkadang pula melibatkan sisi kepentingan (nafsu) kelompoknya. Islam yang sebenarnya bersifat universal pada akhirnya menjadi simbol keagamaan, komunitas dan terkotak-kotak.
            Al-Qur’an adalah firman-firman suci dari Allah SWT, maka untuk mempelajari dan memahami tentu saja tidak boleh melibatkan kepentingan (nafsu). Demikian pula dengan otak manusia yang memiliki keterbatasan dan tidak dapat terhindar dari berbagai bombamdir informasi yang terkadang mempengaruhi dalam mengambil keputusan.  Al-Qur’an bukanlah pelita otak, tapi pelita hati. Hanya hati yang jernih, bening dan bersih (suci) dari kepentingan yang akan mampu menerima petunjuk dan pengajaran dari Allah SWT.
Sekali lagi saya tekankan bahwa wahyu adalah bahasa qalam yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali pemilik ayat itu, yaitu Allah SWT. Wahyu adalah bahasa dialog antara Sang Khalik dengan seluruh ciptaan-Nya yang akan diterangkan melalui takwil dan ilmu pengetahuan-Nya. Bukankah di dalam Al-Qur’an, Allah SWT memperingatkan kepada umat islam bahwa kitab dan iman adalah rahasia-Nya? Ini berarti pemahaman Al-Qur’an adalah hak prerogatif Allah SWT yang dijelaskan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, bukan hasil usaha manusia sendiri. “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS. Asy-Syura 42:52).
Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa yang berhak menjelaskan, menguraikan dan memahamkan takwil atas ayat-ayat-Nya kepada manusia adalah sang pemilik wahyu itu sendiri, yaitu Allah SWT, sebagaimana yang dialami Rasulullah Muhammad SAW dan hamba-hamba pilihan-Nya. Kalau boleh di-analog-kan belajar Al-Qur’an ibarat seorang ilmuwan yang menemukan suatu teori setelah sekian lama bergelut dengan eksperimen, pengamatan dan analisis, maka yang mampu menjelaskan dan menguraikan teorinya secara mendetail tentunya sang ilmuwan itu sendiri.
Kalau demikian halnya, pertanyaan yang perlu mendapat jawab adalah “Apakah benar bahwa Al-Qur’an diajarkan Allah SWT kepada setiap hamba yang bersedia belajar kepada-Nya tanpa melihat latar belakangnya? Apakah pasca Rasulullah SAW wafat wahyu berhenti atau tetap turun?Kalau wahyu tidak lagi turun, mengapa Al-Qur’an dikatakan tidak akan lekang di telan zaman? Kalau wahyu masih turun, lalu apakah sama kriteria wakyu  di zaman Rasulullah Muhammad SAW hidup dengan makna wahyu saat ini? Lalu bagaimana cara mengaji Al-Qur’an kepada Allah SWT sehingga kita tidak tersesat dalam menempuh perjalanan hidup ini? Langkah-langkah apa yang mesti dilakukan sehingga kita memahami isi kandungan Al-Qur’an secara utuh dan holistik? Pertanyaan-pertanyaan ini insya Allah akan diuraikan dalam E-Book saya yang berjudul MENGAJI AL-QUR'AN KEPADA ALLAH Selamat mendownload dan membaca. Dan silahkan download juga E-Book saya yang pertama  berjudul MENELADANI SPIRITUAL RASULULLAH SAW DALAM BERMA'RIFATULLAH.
Tetap ISTIQOMAH untuk meraih ridha Allah.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Iwan Fahri Cahyadi
Pondok Ar-Rahman Ar-Rahim
Semarang



Senin, 03 Juni 2013

MENYELAMI MAKNA DI BALIK KATA

MENYELAMI MAKNA DI BALIK KATA


       
Ketika dalam hidup anda sedang mendapat cobaan, ujian, musibah atau dipenuhi masalah pastilah anda akan berdoa kepada Allah SWT agar diberi ketegaran, kesabaran, dan semoga permasalahan apa yang anda hadapi segera terselesaikan. Atau sebaliknya, ketika anda menginginkan sesuatu dalam hidup anda pastilah anda juga berdoa untuk minta pertolongan Allah SWT agar dikabulkan hajat yang anda inginkan, diberikan kelancaran dan segera terkabul.

Siang dan malam anda berdoa, bahkan sampai meneteskan air mata karena kesedihan sedang mendera anda, atau harapan yang tak pernah pada karena keinginan anda cepat terealisasi. Namun apa yang terjadi setelah sekian lama segala bentuk doa anda panjatkan? Ternyata doa yang anda panjatkan tidak mendapat respon atau jawaban dari Allah SWT. Hingga suatu titik nadir dalam kehidupan anda timbullah pertanyaan, “Mengapa Allah SWT tidak mengabulkan doa saya? Sungguh sia-sia doa yang kupanjatkan siang malam dan ternyata Allah SWT tidak segera menolongku!”

Sebentar dulu, jangan berprasangka buruk (su’udzlon) kepada Allah SWT, ini tidak baik. Coba tengoklah dan koreksi dulu diri anda dalam berdoa sebelum men-justifikasi. Benarkah anda telah benar-benar berdoa atau sekedar membaca doa? Ini perlu diluruskan, mengapa? Karena selama ini kita lebih sering membaca doa daripada berdoa. Sungguh beda makna diantara keduanya. Membaca doa bermakna bahwa anda sekedar membaca doa sambil lalu saja. Bahkan tak jarang kita membaca doa yang panjang-panjang berbahasa arab tanpa anda tahu arti dan maknanya. Ini kan konyol, masak kita berdoa tidak tahu apa yang kita ucapkan dan mintakan ke Allah SWT. Padahal Allah SWT sendiri tidak mewajibkan berdoa dalam bahasa arab. Allah SWT Maha Tahu segala bahasa manusia bahkan bahasa binatang, tumbuhan maupun makhluk-makhluk lainnya.

Kemudian anda berkilah, “Saya berdoa pakai bahasa Indonesia kok dan saya tahu arti dan maknanya atas apa yang saya baca! Tetapi mengapa doa saya tidak segera dikabulkan? Bukankah Allah SWT Maha Mendengar?”. Benar sekali Allah SWT Maha Mendengar, tetapi doa anda tidak didengarkan. Mengapa? Karena ya itu tadi, anda membaca doa, bukan berdoa.

Lalu bagaimana doa yang benar? Tentu saja merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Anda berdoa ya harus “berjumpa” dengan yang anda mintai pertolongan terlebih dahulu. Bagaimana mungkin anda mengharap sesuatu tetapi anda tidak berjumpa dengan yang anda mintai pertolongan. Ibarat anda menelepon seseorang, tetapi teleponnya/handphonenya tidak diangkat/on, kemudian anda berbicara terus, sampai mulut anda berbusa-busa ya mana mungkin orang yang akan anda ajak bicara tahu apa yang anda ingin omongkan? Tidak mungkin bukan?

Peristiwa tersebut sama dengan ketika anda shalat. Selama ini memang secara syariat, shalat anda sudah sah karena telah menunaikan rukun, wajib, bahkan sunah wudhu maupun shalat. Pertanyaannya adalah anda mengerjakan shalat atau mendirikan shalat? Ini juga penting dibahas, mengingat makna keduanya berbeda. Al-Qur’an sendiri memakai kata mendirikan, bukan mengerjakan. Demikian pula saat adzan dikumandangkan, mengajak kita mendirikan shalat bukan mengerjakan shalat.

Mengerjakan shalat identik dengan (sekedar) menggugurkan kewajiban perintah Allah SWT. Jadi hakikat shalat tidak anda ketahui, anda mengerjakan dengan tolok ukur yang penting  membaca apa yang diperintahkan disetiap gerakan shalat, mengerjakan rakaat shalat sesuai dengan jumlahnya berdasarkan waktunya, dsb. Perkara diterima atau tidak, kita tidak tahu. Dan yang penting kita tidak berdosa karena telah mengerjakan kewajiban, sehingga nanti tidak masuk neraka. Bahkan tak jarang pula kita menyerahkan diterima atau tidaknya shalat kita tanpa kita ketahui hasilnya apa. Ujung-ujungnya kita berdalih atas apa yang kita kerjakan semua diserahkan kepada Allah SWT. Sungguh aneh kita ini. Mengerjakan sesuatu kok tidak tahu hasilnya.

Berbeda dengan mendirikan shalat. Kondisi ini pastilah sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Ash-Sholatu Mi’rajul Mu’miniin”, dan shalatnya pasti khusyu’. Sholat hakikatnya adalah perjumpaan seorang hamba dengan Allah SWT tanpa perantara siapa dan apapun, sehingga kita dapat berdialog, berkomunikasi dan berkeluh kesah langsung kepada Allah SWT. Itu mengapa ketika Rasulullah SAW menghadapi suatu persoalan, beliau mendirikan shalat sunnah doa rakaat untuk minta petunjuk dan solusi atas permasalahan yang sedang beliau hadapi. Orang yang mendirikan shalat akan ditandai dan diberi bukti bahwa shalatnya sudah dibenarkan Allah SWT, sehingga apa yang kita lakukan ada hasilnya.

Hal yang paling mendasar yang membedakan antara mengerjakan dan mendirikan shalat adalah selama proses sholat itu sendiri berlangsung. Di sini saya tidak bermaksud men-justifikasi anda, namun semata-mata ingin menggugah kesadaran diri anda sehingga anda sendiri yang mampu menilainya.

Benarkah ketika anda shalat benar-benar hanif (lurus) menghadap Allah SWT atau selama proses shalat justru anda teringat pekerjaan anda yang belum selesai, hutang anda yang belum terbayar, teringat belum menjemput anak dari sekolah, dan lain sebagainya? Kalau kondisi terakhir ini yang terjadi, maka sebenarnya anda sedang tidak menyembah Allah SWT. Mengapa? Karena anda justru menyembah “berhala-berhala” yang bernama masalah dunia. Kalau ini yang terjadi, bukankah kita termasuk syirik karena selama shalat kita tidak menyembah Allah SWT? Justru malah disibukkan oleh selain Allah SWT. Silahkan direnungkan.

Bahkan Allah SWT sendiri mengingatkan, janganlah kita mendapat celaka karena lalai dalam shalat kita. “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari  shalatnya (QS. Al-Maa’uun 107:4-5).

           Adapun yang dimaksud lalai dari shalat pada ayat di atas bukanlah orang yang tidak shalat, karena apa? Sudah jelas hukumnya kalau tidak shalat pastilah kita berdosa. Jadi ayat di atas maknanya lebih kepada peringatan kepada kita yang shalat tapi lalai atau tidak hanif (lurus) menghadap Allah SWT tapi justru yang teringat (menyembah?) masalah-masalah yang sedang kita hadapi.

 Tidak hanya dalam hal berdoa dan mendirikan shalat saja, kondisi yang sama juga sering kita alami dalam pemaknaan kata mengaji dan membaca Al-Qur’an. Selama ini kita memaknai kedua kata ini sama. Membaca Al-Qur’an ya sama saja mengaji. Padahal keduanya berbeda. Membaca Al-Qur’an identik kita membaca ayat-ayat Allah SWT yang telah dibukukan dalam Al-Qur’an sesuai dengan ilmu tajwid, nahwu sharaf, balaghah, dll. Jadi disini titik beratnya dalam hal membaca tata bahasa Arab (Grammar). Oleh sebab itu, untuk membaca Al-Qur’an yang baik dan benar maka kita dapat belajar kepada manusia atau orang yang ahli.

Membaca Al-Qur’an memang baik dan dianjurkan, namun maksud Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak-lah sebatas itu. Itu mengapa perlu mengaji Al-Qur’an. Secara tata bahasa kata “mengaji” berasal dari kata dasar “kaji” yang artinya mendalami. Jadi ketika kata dasar “kaji” ditambah dengan awalan “meng” maka artinya seseorang secara aktif harus mempelajari lebih mendalam atas informasi yang diperolehnya.

Mengaji Al-Qur’an tidak hanya sebatas membaca dan menghafalkan ayat tersurat (tekstual) saja tetapi juga harus paham ayat tersirat (kontekstual/tafsir/takwil) dibalik ayat-ayat Al-Qur’an. Lalu bagaimana mengaji yang sesuai seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW? Mengapa kita begitu sombongnya telah mengklaim merasa paham isi Al-Qur’an ketika telah hafal ayat tersurat (tekstual) dalam waktu 3-5 tahun saja? Sedangkan Rasulullah SAW sendiri memerlukan waktu hampir 23 tahun (tidak hanya ayat tersurat tetapi juga ayat tersirat/takwilnya). Apakah paham isi kandungan Al-Qur’an identik dengan menghafal saja? Mengapa dalam realita seringkali kita temui tafsir yang berbeda untuk menafsirkan ayat dalam Al-Qur’an? Mengapa ini sering terjadi sehingga mengakibatkan timbulnya perpecahan umat dan berbagai aliran dalam islam. Padahal berpecah belah adalah larangan Allah SWT. Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kami dari ahli kitab terpecah menjadi 72 golongan, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Adapun yang tujuh puluh dua akan masuk neraka dan satu golongan akan masuk surga, yaitu “Al-Jama’ah”  (HR. Ahmad).

Apa yang sebenarnya tengah terjadi dalam beragama kita?  Bagaimana agar kita termasuk “Al-Jama’ah” (Ahlusunnah wal jama’ah) sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah Muhammad SAW pada hadits di atas?

Untuk mendapatkan jawabannya silahkan download E-Book (Electronic Book) Kedua saya yang berjudul : MENGAJI AL-QUR'AN KEPADA ALLAH yang merupakan sambungan dari E-Book Pertama saya yang berjudul MENELADANI SPIRITUAL RASULULLAH SAW DALAM BERMA'RIFATULLAH. 


Marilah kita tetap ISTIQOMAH untuk meraih ridha Allah SWT!!! 


Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Iwan Fahri Cahyadi
Pondok Ar-Rahman Ar-Rahim
Semarang

Minggu, 02 Juni 2013

E-BOOK KEDUA "MENGAJI AL-QUR'AN KEPADA ALLAH"


E-BOOK KEDUA 
"MENGAJI AL-QUR'AN KEPADA ALLAH"


SINOPSIS DAN KETENTUAN MEN-DOWNLOAD E-BOOK “MENGAJI AL-QUR’AN KEPADA ALLAH”

Assalamu’alaikum warahmmatullahi wabarakaatuh

            Perjalanan hidup manusia di dunia ibarat seorang musafir yang pergi ke suatu tempat tujuan. Agar perjalanan yang ditempuh tidak mengalami kegagalan dan tersesat, maka diperlukan peta sebagai petunjuk arah. Demikian pula dengan perjalanan hidup umat islam selama mengarungi bahtera hidup ini. Agar selamat di dunia dan akhirat, maka Allah SWT membekali Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk hidup.

       Namun sayang, tidak semua umat islam mau dan mampu mempelajari, mengkaji, memahami dan mengaplikasikan mukjizat ini untuk dijadikan pelita hidup. Tak jarang Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai penunjuk identitas diri atau sebagai penghias rak di antara buku-buku lain.

          Di sisi lain, ada yang ingin mempelajari dan memahami isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, namun disebabkan tidak paham ilmunya dan meneladani Rasulullah Muhammad SAW justru apa yang dilakukan jauh panggang dari api atau tidak sesuai dengan maksud Allah SWT, yaitu bagaimana cara memahami wahyu tersebut. Pada akhirnya, ada pemahaman sempit di kalangan internal umat islam itu sendiri bahwa menguasai dan memahami Al-Qur’an  identik dengan membaca dan menghafal ayat-ayat tersebut (tekstual) sehingga menjadikan kitab ini tidak dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya sebagai peta untuk menempuh perjalanan hidup menuju akhirat (kembali ke Allah SWT).

            Begitu banyak kesalah-kaprahan terjadi di sana sini dalam memahami isi kandungan Al-Qur’an. Lebih ironis lagi, Al-Qur’an yang hakikatnya kalam Illahi sebagai pelita hati, justru difungsikan sebagai pelita pikir sehingga yang terjadi adalah perbedaan, perselisihan dan pertikaian di kalangan internal umat islam yang sama-sama mengimani Al-Qur’an. Tentu kondisi ini sungguh memprihatinkan. Itu mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa pasca beliau wafat, umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang benar.

Hal yang perlu dipertanyakan dan segera perlu mendapat jawaban  atas permasalahan tersebut adalah: “Bagaimana mungkin umat islam yang berpedoman satu kitab (Al-Qur’an) justru berselisih dan berbeda pendapat? Mengapa seringkali terjadi multitafsir atas satu ayat yang sama? Apakah isi Al-Qur’an begitu sulit dipahami karena berbahasa Arab atau umat islam sendiri yang kurang tepat cara mempelajari dan memahami isi kandungan Al-Qur’an selama ini? Apakah benar untuk menguasai isi kandungan diharuskan tahu ilmu nahwu, tajwid, sharaf, balaghah, dll saja? Lalu bagaimana dengan umat islam yang tidak menguasai ilmu tata bahasa tersebut? Apakah berarti dapat dipastikan mereka tidak dapat hafal dan memahami isi kandungan Al-Qur’an? Bagaimana hakikinya cara mempelajari dan memahami isi kandungan Al-Qur’an sesuai dengan maksud Allah SWT? Lalu bagaimana cara Rasulullah SAW belajar memahami Al-Qur’an sehingga beliau hafal ayat tersurat dan paham makna ayat tersirat (ilmu pengetahun beserta takwilnya)? Apa resikonya seorang yang mengaku serta merasa telah menguasai dan memahami isi kandungan Al-Qur’an namun hakikinya tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan Allah SWT? Insya Allah dalam E-Book (Electronic Book) ini semua pertanyaan tersebut akan diuraikan secara panjang lebar.

Adapun daftar isi dari E-Book ini meliputi :

Sekapur Sirih
Ucapan Terima Kasih
Sekilas Tentang Penulis  
Daftar Isi
Al-Qur’an : Antara Pedoman, Hiasan dan Beda Penafsiran (Mukadimah)

BAB I  : Sekilas Tentang Al-Qur’an
Al-Qur’an Wahyu Illahi
Isi Kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an Rahmat Bagi Semesta Alam

BAB II : Misteri Al-Qur’an
Seumur Hidup, Bukan Target Waktu
Pelita Hati, Bukan Pelita Pikir
Tidak Semuanya Berurutan
Ilmu Pengetahuan dan Al-Qur’an
3 Klasifikasi, Bukan 2 Klasifikasi

BAB III : Mengaji Al-Qur’an Kepada Allah
Berawal dari Mengacuhkan Al-Qur’an
Membeli Berita Bohong
Mudah, Tapi Jangan Dimudahkan
Diwarisi Al-Qur’an Dulu, Baru Mengenal Allah

BAB IV: PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

     E-book “Mengaji Al-Qur’an Kepada Allah” yang jauh dari sempurna ini (karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT) dapat menambah dan membuka cakrawala pembaca dalam mempelajari dan memahami isi kandungan Al-Qur’an. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan nurhidayah,  rahmat dan ridha-Nya kepada kita semua. Amin ya Rabbal’alamin.

Marilah kita tetap ISTIQOMAH untuk meraih ridha Allah SWT!!! 


            Lalu bagaimana cara men-download E-Book ini?

1.      Pastikan bahwa PC/Laptop/Notebook/Ipad (milik pribadi atau di Warnet) anda ada program ADOBE READER dan WINRAR (biasanya program ini telah tersedia, namun tidak ada salahnya anda mengecek terlebih dahulu untuk memastikannya. Kalau belum ada silahkan mendownload secara gratis di internet).  Jika anda tetap men-download E-Book ini, namun tidak ada kedua program tersebut sehingga anda tidak dapat membuka dan membacanya, maka kondisi ini di luar tanggung jawab saya. Melalui kedua program ini anda dapat membuka dan membaca E-Book tersebut. Selain itu anda juga dapat mencopy dan mencetak.

2.      E-Book “Mengaji Al-Qur’an Kepada Allah” ini ada  PASSWORD-nya sehingga anda tidak dapat membuka tanpa ada pemberitahuan PASSWORD dari saya. Anda hanya bisa men-download saja namun tidak dapat membuka dan membacanya sehingga akan sia-sia.

3.      Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada anda. Untuk mendapatkan PASSWORD tersebut silahkan anda mentransfer uang donasi.  Uang donasi ini sebagian saya sisihkan dan digunakan untuk kepentingan umat yaitu memberi bantuan saudara-saudara kita yang tengah tertimpa musibah, menyantuni anak yatim piatu dan fakir miskin, pembangunan TPQ-PAUD, serta kegiatan sosial keagamaan lainnya.

4.      Anda dapat men-transfer via internet banking atau jika anda menyetor ke bank melalui slip setoran, maka jangan lupa cantumkan nama anda, jumlah donasi dan isi keterangan judul pembelian E-Book ini, hal ini untuk mempermudah pengecekan saya di rekening mengenai sudah masuk atau belumnya uang donasi  tersebut. Adapun besarnya uang donasi sebesar Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah) dan saya pun sangat berterima kasih bila anda berkenan memberikan donasi lebih, karena sebagian donasi untuk kegiatan sosial keagamaan.

Uang donasi dapat ditransfer ke :

- Bank BCA, KCP Kedungmundu, Semarang
- No. Rekening    : 8915006104
- Atas Nama         : Iwan Fahri Cahyadi
     
ATAU

- Bank BNI, KC UNDIP, Semarang
- No. Rekening      : 0096371734
- Atas Nama          : Iwan Fahri Cahyadi

5.      Setelah anda men-transfer uang donasi tersebut, silahkan anda SMS ke nomer HP : 0858-7651-6899 disertai nama anda,  besarnya uang donasi, nama bank tempat anda mentransfer dan Judul E-Book yang anda beli. Setelah saya cek dan dipastikan donasi sudah masuk, maka saya segera  akan mengirim PASSWORD ke Handphone anda. Saya juga mohon dengan rendah hati agar PASSWORD tersebut jangan disebar-luaskan kepada mereka yang tidak berhak, mengingat dana donasi ini sebagian saya sisihkan untuk kegiatan sosial keagamaan.

6.      Dilarang memperbanyak, memperjual-belikan dan mengutip isi buku ini tanpa seijin saya, karena ini melanggar HAK CIPTA dan melanggar UNDANG-UNDANG.

Demikian saya sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan banyak terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmmatullahi wabarakaatuh

Iwan Fahri Cahyadi

SILAHKAN DOWNLOAD E-BOOK DI BAWAH INI